Nasehat Abu Ubaidah bin Jarrah tentang Barometer Kemuliaan Seorang
Senin, 02 Agustus 2021 - 14:41 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
DARITsabit, beliau berkata: Abu Ubaidah bin Jarrah tatkala menjafi gubernur Syam, beliau berkhutbah kepada manusia seraya berkata: “Wahai sekalian manusia, saya adalah seorang dari Quraisy. Demi Allah tidaklah saya tahu seseorang yang berkulit putih atau hitam yang mengungguliku dengan taqwa kepada Allah kecuali ingin termasuk bagian dari kulitnya”. (Al Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah 7/116).
Baca juga: Mutiara Wasiat Abu Ubaidah Jelang Kematiannya karena Wabah Tha'un
Mengomentari hal ini Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi dalam bukunya berjudul Cambuk Hati Sahabat Nabi mengatakan alangkah indahnya ucapan seperti ini muncul dari sang pemimpin sejati yang memiliki nasab bergengsi yaitu suku Quraisy.
"Sebuah ucapan yang muncul karena ilmu agama yang terpancar dari hatinya tentang tolok ukur kemuliaan seorang hamba di sisi Allah SWT," katanya.
Dalam Islam, katanya, tolok ukur kemuliaan seorang tidak diukur dari harta, tahta maupun ras dan warna kulitnya. Namun ukurannya adalah keimanan dan ketakwaan yang menancap dalam sanubari hamba dan menghiasi dirinya. Tidak boleh membedakan di antara manusia karena ras dan warna kulit semata.
Allah SWTberfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”. ( QS Al Hujurat: 13 )
Baca juga: Abu Ubaidah bin Jarrah (2): Si Ompong Tapi Ganteng Itu Jadi Korban Thoun
Selanjutnya, dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim no. 2564).
Baca juga: Mutiara Wasiat Abu Ubaidah Jelang Kematiannya karena Wabah Tha'un
Mengomentari hal ini Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi dalam bukunya berjudul Cambuk Hati Sahabat Nabi mengatakan alangkah indahnya ucapan seperti ini muncul dari sang pemimpin sejati yang memiliki nasab bergengsi yaitu suku Quraisy.
"Sebuah ucapan yang muncul karena ilmu agama yang terpancar dari hatinya tentang tolok ukur kemuliaan seorang hamba di sisi Allah SWT," katanya.
Dalam Islam, katanya, tolok ukur kemuliaan seorang tidak diukur dari harta, tahta maupun ras dan warna kulitnya. Namun ukurannya adalah keimanan dan ketakwaan yang menancap dalam sanubari hamba dan menghiasi dirinya. Tidak boleh membedakan di antara manusia karena ras dan warna kulit semata.
Allah SWTberfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu”. ( QS Al Hujurat: 13 )
Baca juga: Abu Ubaidah bin Jarrah (2): Si Ompong Tapi Ganteng Itu Jadi Korban Thoun
Selanjutnya, dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim no. 2564).
Lihat Juga :