Beda Sebutan Kaum Yahudi dan Nasrani dalam Surat Al-Baqarah Ayat 120
Kamis, 28 Desember 2023 - 08:57 WIB
loading...
Ayat ini menggunakan kata lan terhadap orang Yahudi, dan kata la terhadap orang Nasrani. Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Surat Al-Baqarah [2] ayat 120 berbunyi "Lan tardha 'ankal-Yahud wa lan Nashara hatta tattabi'a millatahum (orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sampai engkau mengikuti agama/tatacara mereka." Ayat ini menggunakan kata "lan" terhadap orang Yahudi, dan kata "la" terhadap orang Nasrani.
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat " menjelaskan, bahwa pakar-pakar bahasa Al-Qur'an, antara lain Az-Zarkasyi dalam bukunya Al-Burhan, kata "lan" digunakan untuk menafikkan sesuatu di masa datang, dan penafian tersebut lebih kuat dari "la" yang digunakan untuk menafikkan sesuatu, tanpa mengisyaratkan masa penafian itu, sehingga boleh saja ia terbatas untuk masa lampau, kini, atau masa datang.
Ayat di atas, kata Quraish, secara tegas menyatakan bahwa selama seseorang itu Yahudi (Ingat bukan Al-Ladzina Hadu atau Ahl Al-Kitab), maka ia pasti tidak akan rela terhadap umat Islam hingga umat Islam mengikuti agama/tatacara mereka. "Dalam arti, menyetujui sikap dan tindakan serta arah yang mereka tuju," jelasnya.
Baca juga: Sisi Baik dan Buruk Ahli Kitab Menurut Al-Qur'an
Mufasir besar Ar-Razi mengemukakan bahwa maksud ayat ini adalah menjelaskan:
"Keadaan mereka dalam bersikeras berpegang pada kebatilan mereka, dan ketegaran mereka dalam kekufuran, bahwa mereka itu juga (di samping kekufuran itu) berkeinginan agar diikuti millat mereka. Mereka tidak rela dengan kitab (suci yang dibawa beliau), bahkan mereka berkeinginan (memperoleh) persetujuan beliau menyangkut keadaan mereka.
Dengan demikian, (Allah) menjelaskan kerasnya permusuhan mereka terhadap Rasul, serta menerangkan situasi yang mengakibatkan keputusasaan tentang persetujuan mereka (menganut Islam)."
Syaikh Muhammad Thahir bin Asyur dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat hatta tattabi'a millatahum (sampai engkau mengikuti agama mereka) adalah:
Kinayat (kalimat yang mengandung makna bukan sesuai bunyi teksnya) keputusasaan (tidak adanya kemungkinan) bagi orang Yahudi dan Nasrani untuk memeluk Islam ketika itu, karena mereka tidak rela kepada Rasul kecuali (kalau Rasul) mengikuti agama/tatacara mereka. Maka ini berarti bahwa mereka tidak mungkin akan mengikuti agama beliau; dan karena keikutan Nabi pada ajaran mereka merupakan sesuatu yang mustahil, maka kerelaan mereka terhadap beliau (Nabi) pun demikian.
Baca juga: Ahmed Deedat: Umat Islam Diperintahkan Mengajak Ahli Kitab Bermusyawarah
Ini sama dengan (firman-Nya):
"hingga masuk ke lubang jarum" ( QS Al-A'raf [7] : 40)
dan (firman-Nya),
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat " menjelaskan, bahwa pakar-pakar bahasa Al-Qur'an, antara lain Az-Zarkasyi dalam bukunya Al-Burhan, kata "lan" digunakan untuk menafikkan sesuatu di masa datang, dan penafian tersebut lebih kuat dari "la" yang digunakan untuk menafikkan sesuatu, tanpa mengisyaratkan masa penafian itu, sehingga boleh saja ia terbatas untuk masa lampau, kini, atau masa datang.
Ayat di atas, kata Quraish, secara tegas menyatakan bahwa selama seseorang itu Yahudi (Ingat bukan Al-Ladzina Hadu atau Ahl Al-Kitab), maka ia pasti tidak akan rela terhadap umat Islam hingga umat Islam mengikuti agama/tatacara mereka. "Dalam arti, menyetujui sikap dan tindakan serta arah yang mereka tuju," jelasnya.
Baca juga: Sisi Baik dan Buruk Ahli Kitab Menurut Al-Qur'an
Mufasir besar Ar-Razi mengemukakan bahwa maksud ayat ini adalah menjelaskan:
"Keadaan mereka dalam bersikeras berpegang pada kebatilan mereka, dan ketegaran mereka dalam kekufuran, bahwa mereka itu juga (di samping kekufuran itu) berkeinginan agar diikuti millat mereka. Mereka tidak rela dengan kitab (suci yang dibawa beliau), bahkan mereka berkeinginan (memperoleh) persetujuan beliau menyangkut keadaan mereka.
Dengan demikian, (Allah) menjelaskan kerasnya permusuhan mereka terhadap Rasul, serta menerangkan situasi yang mengakibatkan keputusasaan tentang persetujuan mereka (menganut Islam)."
Syaikh Muhammad Thahir bin Asyur dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat hatta tattabi'a millatahum (sampai engkau mengikuti agama mereka) adalah:
Kinayat (kalimat yang mengandung makna bukan sesuai bunyi teksnya) keputusasaan (tidak adanya kemungkinan) bagi orang Yahudi dan Nasrani untuk memeluk Islam ketika itu, karena mereka tidak rela kepada Rasul kecuali (kalau Rasul) mengikuti agama/tatacara mereka. Maka ini berarti bahwa mereka tidak mungkin akan mengikuti agama beliau; dan karena keikutan Nabi pada ajaran mereka merupakan sesuatu yang mustahil, maka kerelaan mereka terhadap beliau (Nabi) pun demikian.
Baca juga: Ahmed Deedat: Umat Islam Diperintahkan Mengajak Ahli Kitab Bermusyawarah
Ini sama dengan (firman-Nya):
"hingga masuk ke lubang jarum" ( QS Al-A'raf [7] : 40)
dan (firman-Nya),
Lihat Juga :