Berikut Ini Perbedaan Musyrikun dan Ahl Al-Kitab
Selasa, 02 Januari 2024 - 11:32 WIB
loading...
Yang dimaksud dengan al-musyrikun dalam Al-Quran adalah penyembah berhala yang ketika itu bertempat tinggal di Makkah. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Sahabat Nabi, Abdullah bin Umar berkata: "Saya tidak mengetahui kemusyrikan yang lebih besar dari keyakinan seorang yang berkata bahwa Tuhannya adalah Isa atau salah seorang dari hamba-hamba Allah."
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007) menyebut pendapat Ibnu Umar tersebut tidak sejalan dengan pendapat sekaligus praktik sahabat-sahabat Nabi lainnya seperti Khalifah Utsman , Ibnu Abbas , Thalhah, Jabir, dan Khuzaifah.
Baca juga: Sikap yang Diajarkan Al-Quran terhadap Ahl Al-Kitab
Hal itu juga tidak sejalan dengan pendapat para pakar-pakar hukum dengan berbagai alasan, antara lain:
1. Dalam sekian banyak ayat, Al-Qur'an menyebut istilah al-musyrikun berdampingan dengan Ahl Al-Kitab , dengan menggunakan kata penghubung wauw yang berarti "dan."
"Orang-orang kafir dan Ahl Al-Kitab dan orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dan Tuhanmu." ( QS Al-Baqarah [2] : 105).
Menurut Quraish, kata penghubung semacam ini mengandung makna adanya perbedaan antara kedua hal yang dihubungkan itu. Ini berarti ada perbedaan antara musyrikun dan Ahl Al-Kitab. Demikian juga terlihat pada QS Al-Bayyinah [98] : 1 dan 6.
Beberapa pakar tafsir, seperti Thabathaba'i dan Rasyid Ridha berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-musyrikun dalam Al-Qur'an adalah penyembah berhala yang ketika itu bertempat tinggal di Makkah .
2. Al-Qur'an sendiri telah menguraikan sekian banyak keyakinan. Ahl Al-Kitab, yang pada hakikatnya merupakan kemusyrikan seperti keyakinan Trinitas, atau bahwa Uzair demikian juga Isa adalah anak Allah, dan sebagainya. Namun demikian, seperti terlihat dalam butir pertama di atas, Al-Qur'an membedakan mereka dan tetap menamai kedua kelompok tersebut sebagai Ahl Al-Kitab, bukan Musyrikun.
Baca juga: Begini Keadaan Ahl Al-Kitab pada Masa Turunnya Al-Quran
Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007) menyebut pendapat Ibnu Umar tersebut tidak sejalan dengan pendapat sekaligus praktik sahabat-sahabat Nabi lainnya seperti Khalifah Utsman , Ibnu Abbas , Thalhah, Jabir, dan Khuzaifah.
Baca juga: Sikap yang Diajarkan Al-Quran terhadap Ahl Al-Kitab
Hal itu juga tidak sejalan dengan pendapat para pakar-pakar hukum dengan berbagai alasan, antara lain:
1. Dalam sekian banyak ayat, Al-Qur'an menyebut istilah al-musyrikun berdampingan dengan Ahl Al-Kitab , dengan menggunakan kata penghubung wauw yang berarti "dan."
"Orang-orang kafir dan Ahl Al-Kitab dan orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dan Tuhanmu." ( QS Al-Baqarah [2] : 105).
Menurut Quraish, kata penghubung semacam ini mengandung makna adanya perbedaan antara kedua hal yang dihubungkan itu. Ini berarti ada perbedaan antara musyrikun dan Ahl Al-Kitab. Demikian juga terlihat pada QS Al-Bayyinah [98] : 1 dan 6.
Beberapa pakar tafsir, seperti Thabathaba'i dan Rasyid Ridha berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-musyrikun dalam Al-Qur'an adalah penyembah berhala yang ketika itu bertempat tinggal di Makkah .
2. Al-Qur'an sendiri telah menguraikan sekian banyak keyakinan. Ahl Al-Kitab, yang pada hakikatnya merupakan kemusyrikan seperti keyakinan Trinitas, atau bahwa Uzair demikian juga Isa adalah anak Allah, dan sebagainya. Namun demikian, seperti terlihat dalam butir pertama di atas, Al-Qur'an membedakan mereka dan tetap menamai kedua kelompok tersebut sebagai Ahl Al-Kitab, bukan Musyrikun.
Baca juga: Begini Keadaan Ahl Al-Kitab pada Masa Turunnya Al-Quran
Lihat Juga :