An-Najasyi Wafat di Bulan Rajab, Rasulullah SAW Melakukan Salat Gaib
Jum'at, 05 Januari 2024 - 09:30 WIB
loading...
A
A
A
Najasyi menoleh kepada para penasihat istana dan meminta pendapat mereka. Mereka berkata, “Benar tuanku, kita tidak tahu tentang agama baru itu dan tentunya kaum mereka lebih paham akan hal itu daripada kita.”
Najasyi berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada siapapun sebelum mendengarkan keterangan mereka sendiri dan mencari tahu tentang kepercayaan mereka. Bila mereka dalam kejahatan, maka aku tidak keberatan menyerahkan mereka kepada kalian. Tetapi kalau mereka dalam kebenaran, maka aku akan melindungi dan memilihara mereka selama mereka ingin tinggal di negeri ini."
Baca juga: Amalan dan Zikir di Bulan Rajab
"Demi Allah, aku tidak akan melupakan karunia Allah kepada diriku yang telah mengembalikan aku ke negeri ini setelah terusir karena karena ulah orang-orang keji,” lanjutnya.
Surat Maryam Ayat 16-24
Kaum muslimin yang hijrah itu pun dipanggil Najasyi ke istana. Mereka menjadi bertanya-tanya, lalu saling bertukar pikiran sebelum berangkat. Di antara mereka ada yang berkata, “Apa jawaban kita jika ditanya tentang agama kita?” Yang lain menjawab, “Kita katakan saja apa yang difirmankan Allah dalam kitab-Nya dan kita jelaskan apa-apa yang diajarkan Rasulullah SAW dan Rabb-nya.”
Berangkatlah mereka menuju istana, di sana mereka melihat Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, sementara uskup-uskup Najasyi duduk berkeliling dengan pakaian kebesaran mereka dengan kitab-kitab yang terbuka di tangan.
Kaum muslimin duduk di tempat yang telah disediakan setelah memberi salam secara Islam. Amru bin Ash menoleh kepada mereka dan bertanya, “Mengapa kalian tidak sujud kepada raja?”
Mereka pun menjawab, “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah.”
Najasyi menggeleng-gelengkan kepala karena kagum dengan jawaban itu. Dia memperhatikan mereka dengan pandangan simpati, lalu berkata, “Apa sebenarnya agama yang kalian anut? Kalian meninggalkan agama nenek moyang kalian dan tidak pula mengikuti agama kami.”
Baca juga: Bulan Rajab Bulan Haram, Apa Maksudnya?
Setelah memohon izin, Ja’far bin Abu Thalib menjawab, “Wahai raja, sesungguhnya kami sama sekali tidak menciptakan agama baru. Tetapi Muhammad bin Abdullah telah diutus oleh Rabb-nya untuk menyebarkan agama dan petunjuk yang benar serta mengeluarkan kami dari kegelapan menuju terang benderang”.
“Pada awalnya kami adalah kaum yang hidup dalam kebodohan. Kami menyembah api, memutuskan hubungan keluarga, memakan bangkai, berlaku zalim, tidak menyayangi tetangga dan yang kuat selalu menekan yang lemah. Dalam kondisi demikian, Allah mengutus rasul yang kami ketahui asal-usulnya, kami percayai kejujuran, amanah dan kesuciannya untuk menyeru kami kepada Allah dan mengajak kami melakukan ibadah dan mengesakan-Nya”.
“Dia memerintahkan agar kami menegakkan salat, membayar zakat, shiyam pada bulan Ramadhan dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan batu-batu. Beliau memerintahkan kepada kami agar senantiasa jujur dalam berbicara, menunaikan amanah, menyambung persaudaraan, berbuat baik kepada tetangga, menjauhi yang haram, dan menghargai darah”.
“Beliau melarang kami berzina, bersaksi palsu dan memakan harta anak yatim. Maka kami beriman dan mengikuti risalahnya serta menjalankan apa yang beliau bawa”.
Najasyi berkata, “Tidak, demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada siapapun sebelum mendengarkan keterangan mereka sendiri dan mencari tahu tentang kepercayaan mereka. Bila mereka dalam kejahatan, maka aku tidak keberatan menyerahkan mereka kepada kalian. Tetapi kalau mereka dalam kebenaran, maka aku akan melindungi dan memilihara mereka selama mereka ingin tinggal di negeri ini."
Baca juga: Amalan dan Zikir di Bulan Rajab
"Demi Allah, aku tidak akan melupakan karunia Allah kepada diriku yang telah mengembalikan aku ke negeri ini setelah terusir karena karena ulah orang-orang keji,” lanjutnya.
Surat Maryam Ayat 16-24
Kaum muslimin yang hijrah itu pun dipanggil Najasyi ke istana. Mereka menjadi bertanya-tanya, lalu saling bertukar pikiran sebelum berangkat. Di antara mereka ada yang berkata, “Apa jawaban kita jika ditanya tentang agama kita?” Yang lain menjawab, “Kita katakan saja apa yang difirmankan Allah dalam kitab-Nya dan kita jelaskan apa-apa yang diajarkan Rasulullah SAW dan Rabb-nya.”
Berangkatlah mereka menuju istana, di sana mereka melihat Amru bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah, sementara uskup-uskup Najasyi duduk berkeliling dengan pakaian kebesaran mereka dengan kitab-kitab yang terbuka di tangan.
Kaum muslimin duduk di tempat yang telah disediakan setelah memberi salam secara Islam. Amru bin Ash menoleh kepada mereka dan bertanya, “Mengapa kalian tidak sujud kepada raja?”
Mereka pun menjawab, “Kami tidak sujud kecuali kepada Allah.”
Najasyi menggeleng-gelengkan kepala karena kagum dengan jawaban itu. Dia memperhatikan mereka dengan pandangan simpati, lalu berkata, “Apa sebenarnya agama yang kalian anut? Kalian meninggalkan agama nenek moyang kalian dan tidak pula mengikuti agama kami.”
Baca juga: Bulan Rajab Bulan Haram, Apa Maksudnya?
Setelah memohon izin, Ja’far bin Abu Thalib menjawab, “Wahai raja, sesungguhnya kami sama sekali tidak menciptakan agama baru. Tetapi Muhammad bin Abdullah telah diutus oleh Rabb-nya untuk menyebarkan agama dan petunjuk yang benar serta mengeluarkan kami dari kegelapan menuju terang benderang”.
“Pada awalnya kami adalah kaum yang hidup dalam kebodohan. Kami menyembah api, memutuskan hubungan keluarga, memakan bangkai, berlaku zalim, tidak menyayangi tetangga dan yang kuat selalu menekan yang lemah. Dalam kondisi demikian, Allah mengutus rasul yang kami ketahui asal-usulnya, kami percayai kejujuran, amanah dan kesuciannya untuk menyeru kami kepada Allah dan mengajak kami melakukan ibadah dan mengesakan-Nya”.
“Dia memerintahkan agar kami menegakkan salat, membayar zakat, shiyam pada bulan Ramadhan dan meninggalkan penyembahan terhadap berhala dan batu-batu. Beliau memerintahkan kepada kami agar senantiasa jujur dalam berbicara, menunaikan amanah, menyambung persaudaraan, berbuat baik kepada tetangga, menjauhi yang haram, dan menghargai darah”.
“Beliau melarang kami berzina, bersaksi palsu dan memakan harta anak yatim. Maka kami beriman dan mengikuti risalahnya serta menjalankan apa yang beliau bawa”.
Lihat Juga :