Pra-Islam: Orang-Orang Arab di Irak, Bekas Tawanan Raja Nebuchadnezzar II?
Kamis, 11 Januari 2024 - 15:18 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Ashhabul Ukhdud: Kisah Pembakaran Orang-Orang Beriman Pra-Islam
Jazimah al-Abrasy
Mana pun sumber itu yang benar, kata Haekal, yang jelas sejak itu kekuasaan Arab mulai stabil di Irak. "Mereka sudah mengurus sendiri bagian barat Furat antara Anbar dengan Hirah ketika Jazimah al-Abrasy atau al-Waddah memimpin mereka sekitar tahun 215-268 M," ujarnya.
Jazimah telah mempersatukan mereka dan kekuasaannya meluas dari Hirah ke Anbar sampai ke Ain at-Tamr. Dengan demikian mencakup juga seluruh bagian barat Furat sampai ke pedalaman Syam. Bahkan kekuasaan itu meluas sampai kepada orang-orang Arab yang tinggal di pedalaman ini tatkala Mudar menyerang penghuni-penghuni itu, dengan merangkul Adi bin Rabi'ah dan ia ditempatkan sebagai orang yang dihormati.
Adi inilah yang mengawini ar-Raqqasy saudara perempuan Jazimah. Kedua tokoh ini banyak menghiasi karya-karya sastra dengan cerita yang sangat menarik. Dari dia kemudian lahir Amr bin Adi, yang terkenal karena ceritanya dengan az-Zaba' yang bunuh diri sambil berkata: "Di tanganku, bukan di tangan Amr."
Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam
Uzainah bin as-Samaiza'
Sementara Jazimah al-Waddah menjadi raja Arab di Irak Uzainah bin as-Samaiza' menjadi pemimpin Arab di Syam. Ketika itu Shapur (Sabur) adalah penguasa Persia dan Philip Kaisar Romawi.
Penduduk Syam memberontak kepada Philip karena hukum yang dijalankannya sangat keras. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Shapur. Ia menyerbu Syam dan berhasil mengalahkan pasukan Romawi.
Ketika itulah Uzainah salah seorang sekutunya memberontak kepada Romawi dan bergabung dengan Persia. Ambisinya ingin berada di bawah Shapur supaya ia dijadikan wakilnya di Syam seperti Jazimah di Irak. Tetapi kemudian Valerian yang menjadi kaisar Romawi menggantikan Philip.
Jazimah al-Abrasy
Mana pun sumber itu yang benar, kata Haekal, yang jelas sejak itu kekuasaan Arab mulai stabil di Irak. "Mereka sudah mengurus sendiri bagian barat Furat antara Anbar dengan Hirah ketika Jazimah al-Abrasy atau al-Waddah memimpin mereka sekitar tahun 215-268 M," ujarnya.
Jazimah telah mempersatukan mereka dan kekuasaannya meluas dari Hirah ke Anbar sampai ke Ain at-Tamr. Dengan demikian mencakup juga seluruh bagian barat Furat sampai ke pedalaman Syam. Bahkan kekuasaan itu meluas sampai kepada orang-orang Arab yang tinggal di pedalaman ini tatkala Mudar menyerang penghuni-penghuni itu, dengan merangkul Adi bin Rabi'ah dan ia ditempatkan sebagai orang yang dihormati.
Adi inilah yang mengawini ar-Raqqasy saudara perempuan Jazimah. Kedua tokoh ini banyak menghiasi karya-karya sastra dengan cerita yang sangat menarik. Dari dia kemudian lahir Amr bin Adi, yang terkenal karena ceritanya dengan az-Zaba' yang bunuh diri sambil berkata: "Di tanganku, bukan di tangan Amr."
Baca juga: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam
Uzainah bin as-Samaiza'
Sementara Jazimah al-Waddah menjadi raja Arab di Irak Uzainah bin as-Samaiza' menjadi pemimpin Arab di Syam. Ketika itu Shapur (Sabur) adalah penguasa Persia dan Philip Kaisar Romawi.
Penduduk Syam memberontak kepada Philip karena hukum yang dijalankannya sangat keras. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Shapur. Ia menyerbu Syam dan berhasil mengalahkan pasukan Romawi.
Ketika itulah Uzainah salah seorang sekutunya memberontak kepada Romawi dan bergabung dengan Persia. Ambisinya ingin berada di bawah Shapur supaya ia dijadikan wakilnya di Syam seperti Jazimah di Irak. Tetapi kemudian Valerian yang menjadi kaisar Romawi menggantikan Philip.
Lihat Juga :