Kata Wasath dalam Surat Al-Baqarah Ayat 143, Begini Penjelasan Kyai Cepu
Sabtu, 13 Januari 2024 - 10:37 WIB
loading...
Kusen, SAg, MA, PhD. Foto/Ilustrasi: PP Muhammadiyah
A
A
A
Allah SWT berfirman:
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) "umat pertengahan" agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." ( QS Al-Baqarah : 143)
Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah , Khusen SAg MA PhD atau lebih populer dipanggil Kyai Cepu mengutip Surat Al-Baqarah ayat 143 tersebut ketika berbicara tentang kepemimpinan .
Menurutnya, orang yang hanya berzikir , banyak pertimbangan adalah pengecut. Sedangkan mereka yang langsung bereaksi tanpa pertimbangan adalah gegabah. Dua-duanya tercela. "Islam mengajarkan pertengahan: antara pengecut dan sembrono, yaitu berani," ujarnya dalam diskusi yang diselenggarakan Alumni Thawalib Jakarta di Jakarta, pada Jumat 12 Janurai 2024.
Baca juga: Tafsir Basmalah Menurut Syaikh Al-Utsaimin
Kyai Cepu mengatakan hal itu terkait dengan kepemimpinan nasional. "Kita butuh pemimpin yang berani memberantas korupsi dan mengatasi berbagai persoalan bangsa yang sampai saat ini gagal diselesaikan pemimpin sebelumnya," ujar alumnus S3 Filsafat Belgorat State University Rusia ini.
Kembali ke firman Allah: “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, ummatan wasathan ..."
Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya. Orang bijak berkata: “Sebaik-baik segala sesuatu adalah yang di pertengahan”. Dengan kata lain, yang baik berada pada posisi antara dua ekstrem. “Keberanian” adalah pertengahan antara sifat ceroboh dan takut; “Kedermawanan” adalah pertengahan antara sifat boros dan kikir; “Kesucian” adalah pertengahan antara kedurhakaan yang diakibatkan oleh dorongan nafsu yang menggebu dan impotensi.
Al-Qur’an pun dalam berbagai ayatnya mengisyaratkan tentang baiknya yang di tengah. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal" ( QS. Al-Isra ayat 29)."
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" ( QS. Al-Isra’ ayat 110).
Baca juga: Problematik Tafsir Al-Qur'an Menurut Quraish Shihab
Dari sini kata wasath berkembang maknanya menjadi “tengah”. Selanjutnya, yang menghadapi dua pihak berseteru dituntut untuk menjadi wasith (wasit), yakni berada pada posisi tengah, dalam arti berlaku adil. Dari sini lahir lagi makna ketiga bagi wasath, yaitu “adil”. Yang terbaik, tengah, dan adil, itulah tiga makna populer dari wasath.
وَكَذٰلِكَ جَعَلۡنٰكُمۡ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَيۡكُمۡ شَهِيۡدًا
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) "umat pertengahan" agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." ( QS Al-Baqarah : 143)
Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah , Khusen SAg MA PhD atau lebih populer dipanggil Kyai Cepu mengutip Surat Al-Baqarah ayat 143 tersebut ketika berbicara tentang kepemimpinan .
Menurutnya, orang yang hanya berzikir , banyak pertimbangan adalah pengecut. Sedangkan mereka yang langsung bereaksi tanpa pertimbangan adalah gegabah. Dua-duanya tercela. "Islam mengajarkan pertengahan: antara pengecut dan sembrono, yaitu berani," ujarnya dalam diskusi yang diselenggarakan Alumni Thawalib Jakarta di Jakarta, pada Jumat 12 Janurai 2024.
Baca juga: Tafsir Basmalah Menurut Syaikh Al-Utsaimin
Kyai Cepu mengatakan hal itu terkait dengan kepemimpinan nasional. "Kita butuh pemimpin yang berani memberantas korupsi dan mengatasi berbagai persoalan bangsa yang sampai saat ini gagal diselesaikan pemimpin sebelumnya," ujar alumnus S3 Filsafat Belgorat State University Rusia ini.
Kembali ke firman Allah: “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, ummatan wasathan ..."
Kata wasath pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya. Orang bijak berkata: “Sebaik-baik segala sesuatu adalah yang di pertengahan”. Dengan kata lain, yang baik berada pada posisi antara dua ekstrem. “Keberanian” adalah pertengahan antara sifat ceroboh dan takut; “Kedermawanan” adalah pertengahan antara sifat boros dan kikir; “Kesucian” adalah pertengahan antara kedurhakaan yang diakibatkan oleh dorongan nafsu yang menggebu dan impotensi.
Al-Qur’an pun dalam berbagai ayatnya mengisyaratkan tentang baiknya yang di tengah. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal" ( QS. Al-Isra ayat 29)."
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" ( QS. Al-Isra’ ayat 110).
Baca juga: Problematik Tafsir Al-Qur'an Menurut Quraish Shihab
Dari sini kata wasath berkembang maknanya menjadi “tengah”. Selanjutnya, yang menghadapi dua pihak berseteru dituntut untuk menjadi wasith (wasit), yakni berada pada posisi tengah, dalam arti berlaku adil. Dari sini lahir lagi makna ketiga bagi wasath, yaitu “adil”. Yang terbaik, tengah, dan adil, itulah tiga makna populer dari wasath.
Lihat Juga :