Debat Capres Cawapres: Frasa Al-Jadal dalam Al-Quran

Senin, 22 Januari 2024 - 15:39 WIB
loading...
Debat Capres Cawapres:...
Di dalam al-Qur’an, kata al-jadal dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 29 kali. Ilustrasi: SINDOnews
A A A
Debat sebagai padanan dari istilah diskusi , di dalam al-Qur’an disebutkan istilah al-hiwar, al-mira’, al-muhajjah, al-jadal, syura, dan al-munazarah yang definisinya lebih mendekati perdebatan.

Ini kali kita bahas term al-jadal dan al-jidal. Frasa ini berasal dari akar kata yang terdiri dari huruf ja-da-la. Secara bahasa, kata ini menunjukkan adanya penegasan kembali sebuah argumentasi dan berpegang teguh pada argumentasi yang dianutnya.

Secara istilah, Manna’ al-Qattan dalam Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an mendefinisikan al-jadal dengan arti bertukar pikiran dengan cara bersaing dan berlomba untuk mengalahkan lawan bicara.

Definisi ini berasal dari kata hadaltu alhabla, yakni ahkamtu fatlah (aku kokohkan jalinan itu), mengingat kedua belah pihak yang berdebat saling mengokohkan argumentasinya masing-masing dan berusaha menjatuhkan lawan dari pendirian yang dianutnya.

Baca juga: Debat Capres Cawapres: 7 Kali Disebut Al-Quran sebagai Al-Muhajjah

Sementara al-Jurjani dalam Mu’jam al-Ta’rifat mendefinisikan al-jadal sebagai penggunaan nalar dan analogi yang berasal
dari beberapa ketepatan yang bertujuan mengalahkan lawan bicara. Dengan kata lain, al-jadal adalah upaya seseorang untuk mematahkan dan mementahkan argumentasi lawan bicaranya, karena ada unsur kebencian dan permusuhan di dalamnya.

Di dalam al-Qur’an, kata al-jadal dengan berbagai derivasinya disebut sebanyak 29 kali. Penyebutan ayat-ayat al-Qur’an tentang al-jadal ini bila dicermati secara seksama akan didapati kesimpulan tentang berbagai hal di dunia dan akhirat seperti terdapat pada QS al-Nisa’ (4) : 109, kadangkala menjelaskan tentang kebenaran untuk mengalahkan kebatilan seperti yang terdapat pada QS al-‘Ankabut (29) : 46, di lain kali juga terkadang menggunakan sarana kebatilan untuk menolak kebenaran sebagaimana pada QS Ghafir (40) : 5, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Contoh representatif penyebutan al-jadal bermakna membantah dapat dijumpai pada QS al-Kahfi (18) : 54 sebagai berikut:

وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِىۡ هٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ كُلِّ مَثَلٍ‌ ؕ وَكَانَ الۡاِنۡسَانُ اَكۡثَرَ شَىۡءٍ جَدَلًا

Wa laqad sarrafnaa fii haazal quraani linnaasi mn kulli masal; wa kaanal insaanu aksara shai'in jadalaa

"Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah."( QS Al-Kahfi : 54)

Baca juga: Debat Capres Cawapres: Al-Quran Kadang Gunakan Kata al-Mira’

Terkait dengan ayat ini, para mufassir berbeda-beda dalam memahami kata jadala. Muhammad al-Ansari al-Qurtubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, misalnya, menafsirkan jadala sebagai bantahan terhadap al-Qur’an. Mereka menunjuk manusia yang membantah al-Qur’an tersebut adalah al-Nad}r bin al-Harith. Sementara menurut al-Kalibi, manusia yang dimaksud adalah Ubay bin Khalf, sedangkan menurut al-Zujaj adalah orang-orang kafir, karena berdasarkan ayat wa yujadil al-ladzina kafaru bi al-batil (orang-orang kafir membantah dengan yang batil).

Di dalam kitab tafsirnya, al-Zuhayli menafsirkan kata jadala dengan arti manusia yang sering berdebat, bermusuhan, dan bersaing, kecuali orang yang mendapatkan petunjuk Allah.

Pendapat berbeda diungkapkan al-Sa’di, ia memahaminya sebagai perdebatan yang berasal dari watak atau tabiat dasar manusia, baik berdebat dalam hal kebaikan maupun keburukan.

Pendapat al-Sa’di ini sejalan dengan Ibn ‘Ashur, bahwa setiap manusia berkecenderungan untuk meyakinkan orang yang berbeda dengannya bahwa keyakinan dan perilakunya adalah yang paling benar.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa al-jadal berangkat dari prinsip-prinsip yang telah diyakini kebenarannya dan dipegang teguh tanpa ada keinginan untuk mundur dari argumentasinya. Sehingga al-jadal sering terjadi karena adanya perbedaan pemikiran dan keyakinan pada masing-masing pihak yang terlibat dalam forum diskusi tanpa memperhatikan sejauh mana kebenaran argumentasi yang telah dianutnya.

Baca juga: 6 Istilah Berdebat Menurut Al-Quran, Salah Satunya Al-Hiwar
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Ramai Kasus Perebutan...
Ramai Kasus Perebutan Hak Asuh Anak, Begini Aturan Hadhanah dalam Islam
Ekonomi Islam: Jalan...
Ekonomi Islam: Jalan Tengah di Antara Kapitalisme dan Sosialisme
Momen Vicky Shu Belajar...
Momen Vicky Shu Belajar Al-Fatihah Bahasa Isyarat Bersama Disabilitas Tunarungu
Ayat-ayat Al Quran Tentang...
Ayat-ayat Al Quran Tentang Perintah Haji, Beserta Hukum dan Tafsirnya
Bagaimana Hukum Menggabungkan...
Bagaimana Hukum Menggabungkan Ibadah Kurban dan Aqiqah?
Ibadah Kurban atau Aqiqah...
Ibadah Kurban atau Aqiqah Dulu? Mana yang Harus Diutamakan?
Rekomendasi
Surat Pribadi Tokoh...
Surat Pribadi Tokoh Dunia: dari Hitler Cuti hingga Da Vinci Lamar Kerja
Jenis Anjing Pelacak...
Jenis Anjing Pelacak yang Dipakai Polisi untuk Bongkar Kejahatan
Myanmar dan Bangladesh...
Myanmar dan Bangladesh Diminta Bersiap Hadapi Topan Mocha Hari Minggu Ini
Artikel Terkini
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Peristiwa di Bulan Muharram...
Peristiwa di Bulan Muharram : Bahtera Nabi Nuh AS Berlabuh setelah 150 Tahun Terombang-ambing Banjir
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Infografis
Haedar Nashir: Debat...
Haedar Nashir: Debat Capres-Cawapres Jangan seperti Cerdas Cermat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved