Sikap Terbaik Menyikapi Khilafiyah, Mari Simak Kisah Sahabat Nabi Ini
Rabu, 12 Agustus 2020 - 09:46 WIB
loading...
A
A
A
Selain kisah Malaikat di atas, ada juga kisah sahabat Nabi yang berselisih usai perang ahzab. Ketika menjelang Zuhur, Rasulullah SAW berjalan menuju rumah Ummu Salamah. Setelah membersihkan diri dan beristirahat sejenak lalu bersiap melaksanakan salat Zuhur, saat itulah Malaikat Jibril mendatangi beliau. "Apakah engkau akan meletakkan senjata, wahai Rasulullah ?"
Rasulullah SAW mengiyakan pertanyaan itu. Malaikat Jibril berkata lagi, "Para Malaikat belum meletakkan senjata. Mereka sekarang sedang mengejar kaum tersebut (maksudnya Yahudi Bani Quraizhah yang telah berkhianat dengan membantu pasukan Ahzab untuk menyerang kaum muslimin). Hai Muhammad, sesungguhnya Allah memerintahkanmu berangkat ke Bani Quraizhah. Aku juga akan pergi untuk mengguncang mereka".
Usai melaksanakan salat Zuhur bersama para sahabatnya, Rasulullah SAW memberikan komando untuk mendatangi Bani Quraizhah. "Barang siapa mendengar dan taat, jangan sekali-kali mengerjakan salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah," kata beliau menutup instruksinya.
Rasulullah SAW menunjuk Ali bin Abi Thalib RA di depan barisan dengan membawa bendera perang. Informasi yang diberikan Malaikat Jibril benar. Ketika Ali bin Abi Thalib dan pasukannya hampir mendekati benteng-benteng Bani Quraizhah, mereka mendengar orang-orang Yahudi itu mencaci maki Rasulullah SAW .
Rasulullah SAW berangkat menyusul bersama kaum Anshar dan Muhajirin. Mereka sempat beristirahat di salah satu sumur Bani Quraizhah di samping kebun mereka bernama sumur Anna. Sebagian kaum muslimin terus bergegas menuju pemukiman Bani Quraizhah. Ketika waktu Ashar tiba, mereka masih dalam perjalanan.
Saat itulah terjadi perbedaan pendapat di antara sahabat. Mereka ingat dengan pesan Nabi Muhammad SAW "Barang siapa mendengar dan taat, jangan sekali-kali mengerjakan salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah".
Sebagian dari pasukan kaum muslimin tidak melaksanakan salat Ashar. Sebagian riwayat mengatakan, ada di antara mereka yang melaksanakan salat Ashar setelah Isya di perkampungan Bani Quraizhah.
Namun, sebagian lain melaksanakan salat Ashar di perjalanan. Ungkapan Nabi Muhammad SAW yang mengatakan "Jangan sekali-kali mengerjakan salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah" dipahami agar mereka bersegera menuju perkampungan Bani Quraizhah sehingga bisa melaksanakan salat Ashar di tempat itu.
Ketika hal itu diketahui oleh Rasulullah SAW , beliau tidak lantas mempermasalahkannya. Beliau mendiamkan dan tidak menyalahkan salah satu dari dua pendapat sahabat itu. (HR Al-Bukhari)
Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda:
خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ – وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ – فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا ، فَصَلَّيَا ، ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ ، فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ ، وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ : أَصَبْت السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْك صَلَاتُك وَقَالَ لِلْآخَرِ : لَك الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ
"Ada dua orang laki-laki yang bersafar. Kemudian tibalah waktu salat , sementara tidak ada air di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayamum dengan permukaan tanah yang suci, lalu keduanya salat . Setelah itu keduanya menemukan air, sementara waktu salat masih ada. Lalu salah satu dari keduanya berwudhu dan mengulangi shalatnya, sedangkan satunya tidak mengulangi shalatnya.
Keduanya lalu menemui Nabi Muhammad SAW dan menceritakan yang mereka alami. Maka Beliau SAW mengatakan kepada orang yang tidak mengulangi salatnya, "Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan salatmu sah". Kemudian beliau mengatakan kepada yang mengulangi salatnya, "untukmu dua pahala". (HR Abu Daud)
Imam Sufyan Ats-Tsauri mengatakan: "Apabila engkau melihat orang yang melakukan amalan yang berbeda dengan dirimu, maka jangan mengingkari yang berbeda." (Baca Juga: Kisah Sedih Pasangan Abdullah-Aminah dan Beda Pendapat Kelahiran Nabi )
Rasulullah SAW mengiyakan pertanyaan itu. Malaikat Jibril berkata lagi, "Para Malaikat belum meletakkan senjata. Mereka sekarang sedang mengejar kaum tersebut (maksudnya Yahudi Bani Quraizhah yang telah berkhianat dengan membantu pasukan Ahzab untuk menyerang kaum muslimin). Hai Muhammad, sesungguhnya Allah memerintahkanmu berangkat ke Bani Quraizhah. Aku juga akan pergi untuk mengguncang mereka".
Usai melaksanakan salat Zuhur bersama para sahabatnya, Rasulullah SAW memberikan komando untuk mendatangi Bani Quraizhah. "Barang siapa mendengar dan taat, jangan sekali-kali mengerjakan salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah," kata beliau menutup instruksinya.
Rasulullah SAW menunjuk Ali bin Abi Thalib RA di depan barisan dengan membawa bendera perang. Informasi yang diberikan Malaikat Jibril benar. Ketika Ali bin Abi Thalib dan pasukannya hampir mendekati benteng-benteng Bani Quraizhah, mereka mendengar orang-orang Yahudi itu mencaci maki Rasulullah SAW .
Rasulullah SAW berangkat menyusul bersama kaum Anshar dan Muhajirin. Mereka sempat beristirahat di salah satu sumur Bani Quraizhah di samping kebun mereka bernama sumur Anna. Sebagian kaum muslimin terus bergegas menuju pemukiman Bani Quraizhah. Ketika waktu Ashar tiba, mereka masih dalam perjalanan.
Saat itulah terjadi perbedaan pendapat di antara sahabat. Mereka ingat dengan pesan Nabi Muhammad SAW "Barang siapa mendengar dan taat, jangan sekali-kali mengerjakan salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah".
Sebagian dari pasukan kaum muslimin tidak melaksanakan salat Ashar. Sebagian riwayat mengatakan, ada di antara mereka yang melaksanakan salat Ashar setelah Isya di perkampungan Bani Quraizhah.
Namun, sebagian lain melaksanakan salat Ashar di perjalanan. Ungkapan Nabi Muhammad SAW yang mengatakan "Jangan sekali-kali mengerjakan salat Ashar kecuali di Bani Quraizhah" dipahami agar mereka bersegera menuju perkampungan Bani Quraizhah sehingga bisa melaksanakan salat Ashar di tempat itu.
Ketika hal itu diketahui oleh Rasulullah SAW , beliau tidak lantas mempermasalahkannya. Beliau mendiamkan dan tidak menyalahkan salah satu dari dua pendapat sahabat itu. (HR Al-Bukhari)
Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda:
خَرَجَ رَجُلَانِ فِي سَفَرٍ ، فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ – وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ – فَتَيَمَّمَا صَعِيدًا طَيِّبًا ، فَصَلَّيَا ، ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِي الْوَقْتِ ، فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلَاةَ وَالْوُضُوءَ ، وَلَمْ يُعِدْ الْآخَرُ ، ثُمَّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ لِلَّذِي لَمْ يُعِدْ : أَصَبْت السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْك صَلَاتُك وَقَالَ لِلْآخَرِ : لَك الْأَجْرُ مَرَّتَيْنِ
"Ada dua orang laki-laki yang bersafar. Kemudian tibalah waktu salat , sementara tidak ada air di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayamum dengan permukaan tanah yang suci, lalu keduanya salat . Setelah itu keduanya menemukan air, sementara waktu salat masih ada. Lalu salah satu dari keduanya berwudhu dan mengulangi shalatnya, sedangkan satunya tidak mengulangi shalatnya.
Keduanya lalu menemui Nabi Muhammad SAW dan menceritakan yang mereka alami. Maka Beliau SAW mengatakan kepada orang yang tidak mengulangi salatnya, "Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan salatmu sah". Kemudian beliau mengatakan kepada yang mengulangi salatnya, "untukmu dua pahala". (HR Abu Daud)
Imam Sufyan Ats-Tsauri mengatakan: "Apabila engkau melihat orang yang melakukan amalan yang berbeda dengan dirimu, maka jangan mengingkari yang berbeda." (Baca Juga: Kisah Sedih Pasangan Abdullah-Aminah dan Beda Pendapat Kelahiran Nabi )
Lihat Juga :