Dosa Besar Zina dan Dicabut Cahaya Keimanan bagi Para Pezina
Jum'at, 21 Agustus 2020 - 05:00 WIB
loading...
Ilustrasi/Istock
A
A
A
ISTILAH zina sudah masuk dalam bahasa Indonesia, namun untuk memahami hukum syari’at perlu kiranya dikembalikan ke pengertian menurut bahasa Arab dan syari’at supaya pas.
Baca juga: Menikahi Wanita Hamil Di Luar Nikah, Bagaimana Pendapat Ulama?
Dalam bahasa arab, zina diambil dari kata : زَنَى يَزْنِي زِنىً ، وزِنَاءً yang artinya berbuat fajir (nista).
Sedangkan dalam istilah syari’at, zina adalah melakukan hubungan seksual (jima’) di kemaluan tanpa pernikahan yang sah, kepemilikan budak dan tidak juga karena syubhat.
Ustadzah Aini Aryani dalam buku Halal-Haram Menikahi Wanita Berzina dan Hamil terbitan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan pandangan dan definisi zina menurut mazhab Al-Hanafiyah , Al-Malikiyah , Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah.
Mazhab Al-Hanafiyah
Mazhab Al-Hanafiyah menyebutkan definisi zina adalah hubungan seksual yang dilakukan seorang laki-laki kepada seorang perempuan pada kemaluannya, yang bukan budak wanitanya dan bukan akad yang syubhat.
Baca juga: Ketika Berzina Bukan Lagi Kejahatan dan Perbuatan Melawan Hukum
Definisi ini menegaskan kriteria zina itu dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Kalau laki-laki melakukannya dengan sesama jenis atau perempuan dengan sesama jenis, maka tidak termasuk kriteria zina, walaupun tetap berdosa.
Pada kemaluan atau faraj artinya kalau dilakukan pada dubur meski tetap haram, namun bukan termasuk kriteria zina. Perempuan itu bukan budak wanita, kalau dilakukan pada istrinya juga bukan termasuk kriteria zina.
Mazhab Al-Malikiyah
Mazhab Al-Malikiyah mendefinisikan pengertian zina adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang mukallaf yang Muslim pada faraj adami (manusia), yang bukan budak miliknya, tanpa ada syubhat dan dilakukan dengan sengaja.
Definisi ini menjelaskan kalau tidak terjadi hubungan seksual seperti percumbuan, bukan termasuk zina, meski tetap diharamkan. Makna yang dilakukan oleh seorang mukallaf artinya orang yang akil baligh. Sehingga bila pelakunya orang gila atau anak kecil, maka bukan termasuk zina.
Makna yang Muslim artinya bila pelakunya bukan Muslim maka tidak termasuk yang dikenakan hukuman hudud, yaitu hukum rajam atau cambuk. Pada faraj manusia artinya bila hubungan itu tidak dilakukan pada kemaluan, seperti anus dan lainnya, meski tetap haram namun bukan termasuk zina.
Adami artinya faraj itu milik seorang manusia, bukan faraj hewan. Hubungan seksual manusia dan hewan meski hukumnya terlarang, tetapi dalam konteks ini bukan termasuk zina.
Baca juga: Menikahi Wanita Hamil Di Luar Nikah, Bagaimana Pendapat Ulama?
Dalam bahasa arab, zina diambil dari kata : زَنَى يَزْنِي زِنىً ، وزِنَاءً yang artinya berbuat fajir (nista).
Sedangkan dalam istilah syari’at, zina adalah melakukan hubungan seksual (jima’) di kemaluan tanpa pernikahan yang sah, kepemilikan budak dan tidak juga karena syubhat.
Ustadzah Aini Aryani dalam buku Halal-Haram Menikahi Wanita Berzina dan Hamil terbitan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan pandangan dan definisi zina menurut mazhab Al-Hanafiyah , Al-Malikiyah , Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah.
Mazhab Al-Hanafiyah
Mazhab Al-Hanafiyah menyebutkan definisi zina adalah hubungan seksual yang dilakukan seorang laki-laki kepada seorang perempuan pada kemaluannya, yang bukan budak wanitanya dan bukan akad yang syubhat.
Baca juga: Ketika Berzina Bukan Lagi Kejahatan dan Perbuatan Melawan Hukum
Definisi ini menegaskan kriteria zina itu dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Kalau laki-laki melakukannya dengan sesama jenis atau perempuan dengan sesama jenis, maka tidak termasuk kriteria zina, walaupun tetap berdosa.
Pada kemaluan atau faraj artinya kalau dilakukan pada dubur meski tetap haram, namun bukan termasuk kriteria zina. Perempuan itu bukan budak wanita, kalau dilakukan pada istrinya juga bukan termasuk kriteria zina.
Mazhab Al-Malikiyah
Mazhab Al-Malikiyah mendefinisikan pengertian zina adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang mukallaf yang Muslim pada faraj adami (manusia), yang bukan budak miliknya, tanpa ada syubhat dan dilakukan dengan sengaja.
Definisi ini menjelaskan kalau tidak terjadi hubungan seksual seperti percumbuan, bukan termasuk zina, meski tetap diharamkan. Makna yang dilakukan oleh seorang mukallaf artinya orang yang akil baligh. Sehingga bila pelakunya orang gila atau anak kecil, maka bukan termasuk zina.
Makna yang Muslim artinya bila pelakunya bukan Muslim maka tidak termasuk yang dikenakan hukuman hudud, yaitu hukum rajam atau cambuk. Pada faraj manusia artinya bila hubungan itu tidak dilakukan pada kemaluan, seperti anus dan lainnya, meski tetap haram namun bukan termasuk zina.
Adami artinya faraj itu milik seorang manusia, bukan faraj hewan. Hubungan seksual manusia dan hewan meski hukumnya terlarang, tetapi dalam konteks ini bukan termasuk zina.
Lihat Juga :