Hadis Batil: Salat 4 Rakaat Sebelum dan Sesudah Jumat
Jum'at, 02 Februari 2024 - 11:38 WIB
loading...
Sanad riwayat ini sarat dengan perawi dhaif. Ilustrasi: Ist
A
A
A
" Rasulullah SAW selalu melakukan salat sebelum salat Jumat empat rakaat, dan empat rakaat sesudahnya tanpa ada jarak di antaranya."
Syaih Muhammad Nashruddin al-Albani dalam kitab "Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah wal Maudhu'ah wa Atsaruhas-Sayyi' fil-Ummah" yang diterjemahkan A.M. Basamalah menjadi "Silsilah Hadits Dha'if dan Maudhu'" (Gema Insani Press, 1994) menyebut hadis ini batil.
Telah diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu'jamul-Kabir (III/172/1), dengan sanad dari Buqyah bin al-Walid, dari Mubasysyir bin Ubaid, dari al-Hajjaj bin Artha'ah, dari Athiyah al-Ufi, dari Ibnu Abbas ra secara marfu' (diangkat sanadnya hingga kepada Rasulullah SAW).
Ibnu Majah juga meriwayatkannya dalam Sunan-nya (I/347) dengan sanad yang demikian tanpa menyebutkan "dan empat rakaat sesudahnya."
Az-Zaila'i dalam kitabnya, Nashabur-Rayah (II/206), mengatakan, "Sanad riwayat ini sangat rusak. Mubasysyir termasuk deretan nama pemalsu hadis, sedangkan Hajjaj dan Athiya keduanya tergolong perawi dhaif."
Baca juga: 2 Hadis Dhaif tentang Kurban Menurut Al-Albani
Adapun al-Bushairi dalam kitab az-Zawaid (I/72) mengatakan, "Sanad riwayat ini sarat dengan perawi dhaif. Athiyah disepakati oleh kalangan ahli hadis sebagai perawi sangat dhaif. Sedangkan, Hajjaj dikenal sebagai pemalsu (penipu), Mubasysyir bin Ubai adalah pendusta, dan Buqyah bin al-Walid terbukti menipu dengan melakukan tadlisut-taswiyah.10
Sedangkan, mengenai salat yang dilakukan Rasulullah SAW di antara azan dengan iqamat pada hari Jumat adalah sangat tidak mungkin, mengingat di antara keduanya ada khotbah . Oleh karena itu, tidak mungkin ada salat di antara keduanya (antara azan dan iqamah ).
Setelah khalifah Utsman bin Affan ra mengadakan azan di atas menara, sangat memungkinkan untuk melaksanakan salat sunnah Jumat sebelum khatib atau imam datang untuk berkhotbah."
Akan tetapi, menurut Syaikh al-Albani, tidak ada satu pun riwayat yang sahih dan akurat yang menjelaskan bahwa di antara azan yang dilakukan pada zaman Utsman ra dan khutbah, ada kesempatan untuk melangsungkan salat sunnah Jumat empat rakaat, sebagaimana keterangan riwayat itu.
Baca juga: 3 Hadis Dhaif tentang Negeri Syam dan Perempuan Cantik
Demikian pula, tidak ada satu riwayat pun yang menunjukkan bahwa orang-orang --terutama para ulama-- yang hidup pada masa khilafah Utsman melakukan salat tersebut. "Maka, gugurlah kemungkinan yang digambarkan itu," ujar Syaikh al-Albani.
Syaih Muhammad Nashruddin al-Albani dalam kitab "Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah wal Maudhu'ah wa Atsaruhas-Sayyi' fil-Ummah" yang diterjemahkan A.M. Basamalah menjadi "Silsilah Hadits Dha'if dan Maudhu'" (Gema Insani Press, 1994) menyebut hadis ini batil.
Telah diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu'jamul-Kabir (III/172/1), dengan sanad dari Buqyah bin al-Walid, dari Mubasysyir bin Ubaid, dari al-Hajjaj bin Artha'ah, dari Athiyah al-Ufi, dari Ibnu Abbas ra secara marfu' (diangkat sanadnya hingga kepada Rasulullah SAW).
Ibnu Majah juga meriwayatkannya dalam Sunan-nya (I/347) dengan sanad yang demikian tanpa menyebutkan "dan empat rakaat sesudahnya."
Az-Zaila'i dalam kitabnya, Nashabur-Rayah (II/206), mengatakan, "Sanad riwayat ini sangat rusak. Mubasysyir termasuk deretan nama pemalsu hadis, sedangkan Hajjaj dan Athiya keduanya tergolong perawi dhaif."
Baca juga: 2 Hadis Dhaif tentang Kurban Menurut Al-Albani
Adapun al-Bushairi dalam kitab az-Zawaid (I/72) mengatakan, "Sanad riwayat ini sarat dengan perawi dhaif. Athiyah disepakati oleh kalangan ahli hadis sebagai perawi sangat dhaif. Sedangkan, Hajjaj dikenal sebagai pemalsu (penipu), Mubasysyir bin Ubai adalah pendusta, dan Buqyah bin al-Walid terbukti menipu dengan melakukan tadlisut-taswiyah.10
Sedangkan, mengenai salat yang dilakukan Rasulullah SAW di antara azan dengan iqamat pada hari Jumat adalah sangat tidak mungkin, mengingat di antara keduanya ada khotbah . Oleh karena itu, tidak mungkin ada salat di antara keduanya (antara azan dan iqamah ).
Setelah khalifah Utsman bin Affan ra mengadakan azan di atas menara, sangat memungkinkan untuk melaksanakan salat sunnah Jumat sebelum khatib atau imam datang untuk berkhotbah."
Akan tetapi, menurut Syaikh al-Albani, tidak ada satu pun riwayat yang sahih dan akurat yang menjelaskan bahwa di antara azan yang dilakukan pada zaman Utsman ra dan khutbah, ada kesempatan untuk melangsungkan salat sunnah Jumat empat rakaat, sebagaimana keterangan riwayat itu.
Baca juga: 3 Hadis Dhaif tentang Negeri Syam dan Perempuan Cantik
Demikian pula, tidak ada satu riwayat pun yang menunjukkan bahwa orang-orang --terutama para ulama-- yang hidup pada masa khilafah Utsman melakukan salat tersebut. "Maka, gugurlah kemungkinan yang digambarkan itu," ujar Syaikh al-Albani.
Lihat Juga :