Waspadai Penyakit Ini : Berbicara 'Asbun' Tanpa Ilmu
Rabu, 12 Agustus 2020 - 20:56 WIB
loading...
Lebih baik diam ketika tidak mengetahui ilmu dalam suatu permasalahan agama, pelajari ilmunya dulu baru setelah tahu dan mengerti bisa berbicara kepada orang lain. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti sesuatu dengan ilmu . Dan melarang mengikuti sesuatu dengan tanpa ilmu.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Sebagian ulama mengatakan atau menafsirkan ayat itu adalah “jangan sekali-kali kamu mengucapkan sesuatu yang kamu tidak ada ilmu padanya“. Sebab, berkata dalam agama dengan tanpa ilmu adalah merupakan kedustaan atas nama Allah subhanahu wa ta’ala.
Allah Ta'ala juga berfirman :
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـٰذَا حَلَالٌ وَهَـٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّـهِ الْكَذِبَ ۚ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan atas nama Allah.” (QS. An-Nahl : 116)
Maka orang yang berbicara dalam agama dengan tanpa dalil, sungguh dia telah berkata atas Allah dengan tanpa ilmu. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menulis sebuah kitab yang diberi judul “I’lamul Muwaqqi’in atau Pemberitahuan kepada orang-orang yang memberikan tanda tangan”. (Baca juga : Diam Agar Tidak Jatuh pada Keburukan )
Apa yang dimaksud dengan memberikan tanda tangan ? Kata beliau, “orang-orang yang berkata dalam masalah ilmu dan berfatwa sesungguhnya ia telah memberikan tanda tangan seakan-akan ia menandatangani bahwa inilah maksud Allah dan Rasul-Nya“.
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Sebagian ulama mengatakan atau menafsirkan ayat itu adalah “jangan sekali-kali kamu mengucapkan sesuatu yang kamu tidak ada ilmu padanya“. Sebab, berkata dalam agama dengan tanpa ilmu adalah merupakan kedustaan atas nama Allah subhanahu wa ta’ala.
Allah Ta'ala juga berfirman :
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـٰذَا حَلَالٌ وَهَـٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّـهِ الْكَذِبَ ۚ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan atas nama Allah.” (QS. An-Nahl : 116)
Maka orang yang berbicara dalam agama dengan tanpa dalil, sungguh dia telah berkata atas Allah dengan tanpa ilmu. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menulis sebuah kitab yang diberi judul “I’lamul Muwaqqi’in atau Pemberitahuan kepada orang-orang yang memberikan tanda tangan”. (Baca juga : Diam Agar Tidak Jatuh pada Keburukan )
Apa yang dimaksud dengan memberikan tanda tangan ? Kata beliau, “orang-orang yang berkata dalam masalah ilmu dan berfatwa sesungguhnya ia telah memberikan tanda tangan seakan-akan ia menandatangani bahwa inilah maksud Allah dan Rasul-Nya“.
Lihat Juga :