Ini Mengapa Muncul Keterpurukan Etika dan Moral Pemimpin
Rabu, 07 Februari 2024 - 16:08 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Inilah Etika Persahabatan Sesuai Syariat
Ketiga, keterpurukan etika dan moral pemimpin adalah pemimpin yang bersikap sombong. Muslim dalam buku "Ancaman Bagi Penguasa Zalim Tetap Abadi di Neraka" (Surabaya: CV. Citra Pelajar, 1998) mencontohkan sebagaimana halnya raja Namruz . Dia adalah orang pertama yang melakukan kesombongan di muka bumi yang mengakui dirinya sebagai Tuhan.
Ketika terjadi krisis ekonomi pada zaman kerajaannya, rakyat sangat menginginkan makanan, tetapi raja Namruz tidak mau memberikan makanan yang dia miliki walaupun membeli, jika rakyat tidak mau bersujud kepadanya dan mengucapkan Kamulah Tuhanku.
Itulah sikap sombong yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin yang tidak memperdulikan nilai-nilai etika dan moral dalam kepemimpinannya.
Keempat, kurangnya rasa tanggung jawab. Muhammad Toha Anwar dalam "Fiqih Politik, Tinjauan Partai Politik Islam" (Jakarta: Studi Press, 2000) menjelaskan kekuasaan bukanlah sebuah kenikmatan yang harus dihirup, melainkan suatu tanggung jawab, maka berat harus dipikul dan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah swt yang secara demokrasi adalah dihadapan rakyat secara terbuka dan jujur.
Berkuasa adalah bukan memegang kendali politik sambil menikmati sumber daya dengan cara menindas, melainkan terkandung pertanggungjawaban politik yang berat di dalamnya.
Baca juga: Etika dalam Kompetisi Politik Demokratis
Kelima, tidak jujur. Tanpa kejujuran, maka keutamaan moral lainnya kehilangan nilai. Frans Magnis Susena dalam buknya berjudul "Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral (Yogyakarta: Kanisius, 2001) menjelaskan bersikap baik kepada orang lain, tetapi tanpa kejujuran adalah kemunafikan dan sering beracun.
"Hal yang sama berlaku pada sikap tenggang rasa dan mawas diri, tanpa kejujuran, dua sikap itu tidak lebih dari sikap berhati-hati tanpa tujuan untuk tidak ketahuan maksud yang sebenarnya," katanya.
Sikap jujur harus dimiliki setiap pemimpin, karena tanpa kejujuran seorang penguasa atau seorang pemimpin, segala tindakannya akan mengarah kepada kemunafikan dan tanpa kejujuran keutamaan etika dan moral kehilangan nilai.
Ketiga, keterpurukan etika dan moral pemimpin adalah pemimpin yang bersikap sombong. Muslim dalam buku "Ancaman Bagi Penguasa Zalim Tetap Abadi di Neraka" (Surabaya: CV. Citra Pelajar, 1998) mencontohkan sebagaimana halnya raja Namruz . Dia adalah orang pertama yang melakukan kesombongan di muka bumi yang mengakui dirinya sebagai Tuhan.
Ketika terjadi krisis ekonomi pada zaman kerajaannya, rakyat sangat menginginkan makanan, tetapi raja Namruz tidak mau memberikan makanan yang dia miliki walaupun membeli, jika rakyat tidak mau bersujud kepadanya dan mengucapkan Kamulah Tuhanku.
Itulah sikap sombong yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin yang tidak memperdulikan nilai-nilai etika dan moral dalam kepemimpinannya.
Keempat, kurangnya rasa tanggung jawab. Muhammad Toha Anwar dalam "Fiqih Politik, Tinjauan Partai Politik Islam" (Jakarta: Studi Press, 2000) menjelaskan kekuasaan bukanlah sebuah kenikmatan yang harus dihirup, melainkan suatu tanggung jawab, maka berat harus dipikul dan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah swt yang secara demokrasi adalah dihadapan rakyat secara terbuka dan jujur.
Berkuasa adalah bukan memegang kendali politik sambil menikmati sumber daya dengan cara menindas, melainkan terkandung pertanggungjawaban politik yang berat di dalamnya.
Baca juga: Etika dalam Kompetisi Politik Demokratis
Kelima, tidak jujur. Tanpa kejujuran, maka keutamaan moral lainnya kehilangan nilai. Frans Magnis Susena dalam buknya berjudul "Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral (Yogyakarta: Kanisius, 2001) menjelaskan bersikap baik kepada orang lain, tetapi tanpa kejujuran adalah kemunafikan dan sering beracun.
"Hal yang sama berlaku pada sikap tenggang rasa dan mawas diri, tanpa kejujuran, dua sikap itu tidak lebih dari sikap berhati-hati tanpa tujuan untuk tidak ketahuan maksud yang sebenarnya," katanya.
Sikap jujur harus dimiliki setiap pemimpin, karena tanpa kejujuran seorang penguasa atau seorang pemimpin, segala tindakannya akan mengarah kepada kemunafikan dan tanpa kejujuran keutamaan etika dan moral kehilangan nilai.
(mhy)
Lihat Juga :