Berlebihan dalam Berdoa Ternyata Tidak Disukai Allah
Kamis, 13 Agustus 2020 - 06:51 WIB
loading...
A
A
A
Imam Manawi menjelaskan bahwa yang dimaksud berlebihan dalam berdoa adalah melampaui batas dalam mengajukan permohonan yaitu dengan cara meminta sesuatu yang tidak boleh atau mengeraskan suara pada waktu berdoa atau memaksakan lafazh bersajak dalam berdoa.
Imam Turbusyti berkata bahwa yang dimaksud berlebihan dalam berdoa bisa memiliki banyak pengertian yang intinya tidak sungguh-sungguh dalam berdoa atau berlebihan dalam meminta baik untuk kebutuhan pribadinya atau kebutuhan orang lain.
Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu melarang anaknya berdoa seperti itu karena permintaan tersebut tidak sesuai dan tidak mungkin bisa diraih oleh amal perbuatannya, sebab permohonan tersebut hanya pantas untuk derajat para nabi dan wali. Sehingga permintaan seperti itu termasuk berlebihan dalam berdoa, serta tidak pantas karena menganggap sempurna terhadap diri sendiri. (Faidhul Qadir) (Baca juga : Diam Agar Tidak Jatuh pada Keburukan )
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa berdoa memohon sesuatu yang menjadi keistimewaan para nabi padahal dia bukan seorang nabi atau memohon sesuatu yang menjadi keistimewaan Allah termasuk berlebihan dalam berdo’a. Seperti memohon agar dia menjadi perantara untuk permohonan hamba kepada Allah atau memohon agar dia diberi kemampuan untuk bisa mengetahui segala sesuatu atau berkuasa atas segala sesuatu atau memohon agar diperlihatkan ilmu ghaib atau berdoa dengan berkeyakinan bahwa Allah membutuhkan doanya atau semua hamba Allah akan mendapat marabahaya bila dia tidak berdoa atau semisalnya. Semua itu akibat dar i kebodohan terhadap hak Allah dan berlebihan dalam berdoa.(Majmu Fatawa).
Termasuk berlebihan dalam berdoa seperti yang dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : “Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad dan janganlah Engkau memberi rahmatMu kepada selain kami, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya : Siapa yang mengucapkan doa tersebut ? Orang tersebut berkata : “Saya!”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Kamu telah menghalangi kebaikan untuk orang banyak” (Musnad Imam Ahmad)
Imam Al-Albani berkata bahwa makna hadis tersebut adalah menghalangi rahmat Allah untuk para makhlukNya dan demikian itu tidak mungkin karena Allah berfirman :“Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’raf : 156).
Do’a di atas diucapkan oleh seseorang baduwi karena kejahilan dan baru mengenal Islam. Seharusnya seseorang berdoa untuk dirinya dan teman-temannya agar pahalanya bertambah. (Fathur Rabbani) (Baca juga : Ucapannya Sepele, Namun Dampaknya akan Berbalik )
Dikutip dari kitab 'Tazkiyatun Nafs' Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, dijelaskan bahwa makna dari hadis di atas menunjukkan dua perkara :
1. Sesuatu yang dicintai Allah Ta'ala yaitu berdoa dengan penuh rendah diri dan suara yang pelan.
2. Sesuatu yang dibenci Allah dan dimurkai-Nya yaitu berlebihan. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan dengan sesuatu yang Dia cintai dan memberikan peringatan pada sesuatu yang tidak Dia sukai.
Wallahu A'lam
Imam Turbusyti berkata bahwa yang dimaksud berlebihan dalam berdoa bisa memiliki banyak pengertian yang intinya tidak sungguh-sungguh dalam berdoa atau berlebihan dalam meminta baik untuk kebutuhan pribadinya atau kebutuhan orang lain.
Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu melarang anaknya berdoa seperti itu karena permintaan tersebut tidak sesuai dan tidak mungkin bisa diraih oleh amal perbuatannya, sebab permohonan tersebut hanya pantas untuk derajat para nabi dan wali. Sehingga permintaan seperti itu termasuk berlebihan dalam berdoa, serta tidak pantas karena menganggap sempurna terhadap diri sendiri. (Faidhul Qadir) (Baca juga : Diam Agar Tidak Jatuh pada Keburukan )
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa berdoa memohon sesuatu yang menjadi keistimewaan para nabi padahal dia bukan seorang nabi atau memohon sesuatu yang menjadi keistimewaan Allah termasuk berlebihan dalam berdo’a. Seperti memohon agar dia menjadi perantara untuk permohonan hamba kepada Allah atau memohon agar dia diberi kemampuan untuk bisa mengetahui segala sesuatu atau berkuasa atas segala sesuatu atau memohon agar diperlihatkan ilmu ghaib atau berdoa dengan berkeyakinan bahwa Allah membutuhkan doanya atau semua hamba Allah akan mendapat marabahaya bila dia tidak berdoa atau semisalnya. Semua itu akibat dar i kebodohan terhadap hak Allah dan berlebihan dalam berdoa.(Majmu Fatawa).
Termasuk berlebihan dalam berdoa seperti yang dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : “Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad dan janganlah Engkau memberi rahmatMu kepada selain kami, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya : Siapa yang mengucapkan doa tersebut ? Orang tersebut berkata : “Saya!”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Kamu telah menghalangi kebaikan untuk orang banyak” (Musnad Imam Ahmad)
Imam Al-Albani berkata bahwa makna hadis tersebut adalah menghalangi rahmat Allah untuk para makhlukNya dan demikian itu tidak mungkin karena Allah berfirman :“Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’raf : 156).
Do’a di atas diucapkan oleh seseorang baduwi karena kejahilan dan baru mengenal Islam. Seharusnya seseorang berdoa untuk dirinya dan teman-temannya agar pahalanya bertambah. (Fathur Rabbani) (Baca juga : Ucapannya Sepele, Namun Dampaknya akan Berbalik )
Dikutip dari kitab 'Tazkiyatun Nafs' Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, dijelaskan bahwa makna dari hadis di atas menunjukkan dua perkara :
1. Sesuatu yang dicintai Allah Ta'ala yaitu berdoa dengan penuh rendah diri dan suara yang pelan.
2. Sesuatu yang dibenci Allah dan dimurkai-Nya yaitu berlebihan. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan dengan sesuatu yang Dia cintai dan memberikan peringatan pada sesuatu yang tidak Dia sukai.
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :