Parenting: Islam Melarang Mencela Anak
Senin, 12 Februari 2024 - 13:15 WIB
loading...
A
A
A
“خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي: أُفًّا قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا؟
“Aku telah menjadi pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan padaku, “Hus!”. Juga tidak pernah berkata padaku, “Mengapa kau kerjakan ini? Seharusnya kamu lakukan itu!”. (HR. Bukhari no. 6038 dan Muslim no. 2309).
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah mencela Anas atas sesuatu yang terlanjur tidak dikerjakan. Sebab masih ada kesempatan untuk dilakukan, jika memang diperlukan. Sehingga lisan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa terjaga dari kata-kata kasar dan bentakan. Selain itu perasaan dan psikis Anas juga terjaga. Tentunya hal ini berlaku pada urusan dan kepentingan pribadi. Adapun bila terkait kewajiban agama, maka harus dilakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Itupun perlu dilakukan secara bijaksana.
Harus Lemah Lembut
Ustadz Abdullah Zaen menjelaskan, mungkin akan ada yang berkomentar, “Jika kita selalu bersikap lemah lembut dan banyak toleran, nanti anak bakal semakin berani melakukan pelanggaran. Khawatirnya malah kita tidak bisa mengarahkannya!”.Jawabannya: “Mengapa hal yang dikhawatirkan tersebut tidak terjadi pada anak-anak yang dibimbing Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Buktinya: Anas, Ibnu Abbas, Zaid bin Haritsah, Usamah bin Zaid, putra-putra Ja’far, maupun anak-anak lainnya yang dididik Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam justru malah menjadi tokoh dan panutan kebaikan”.
“Tapi kan kondisi anak-anak hari ini berbeda dengan zaman itu!” kilah sebagian orang.
Jawabannya: “Tidak semua orang yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu berperilaku baik. Ada juga yang pemabuk, ahli maksiat, bahkan kafir. Namun berkat taufik Allah, lalu kelembutan sikap beliau; akhirnya mereka tersadar dan kembali ke jalan yang benar”.
Sebenarnya problem besar kita hari ini adalah sikap ketergesa-gesaan. Orang tua selalu ingin cepat melihat hasil, tanpa mau bersabar dan telaten menjalani proses. Serba instan.
Pendidikan anak itu diawali dengan perbaikan perilaku orang tua. Orang tua harus menjadi pribadi yang mengagumkan bagi anak. Jika selama ini selalu marah-marah, sering mengabaikan anak, atau berakhlak buruk, niscaya hasil tidak akan seperti yang diharapkan. Orang tua perlu mengubah citra mereka di mata anak. Ketahuilah bahwa kekuatan kata-kata itu bukan muncul dari kata-kata itu sendiri, namun juga muncul dari siapa yang mengucapkannya. Sebab pribadi yang mengucapkannya akan menambah bobot ucapan itu.
Baca juga: Hadis Pilihan: Larangan Menghina dan Mencaci-maki Seorang Muslim
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :