Imam Syafi'i, Meramu Pendapat Fikih Imam Malik dan Imam Abu Hanifah
Jum'at, 01 Mei 2020 - 03:49 WIB
loading...
A
A
A
“Tidaklah aku datang ke satu tempat, melainkan hanya ku anggap sebagai tempat persinggahan sementara. Tetapi tatkala aku tiba di Baghdad, ia sudah ku anggap rumahku sendiri.”
Imam Syafi’i menetap selama dua tahun di Baghdad sebagai guru besar di wilayah tersebut. Hingga beliau kembali ke Makkah beberapa saat sebelum akhirnya balik lagi ke Baghdad tahun 198 H.
Pada tahun 199 H beliau memutuskan untuk meninggalkan Baghdad dan pindah ke Mesir untuk mengembangkan dan mengajarkan ilmunya di sana.
Syaikh Abu Zahroh menuturkan di antara alasan yang membuat Imam Syafi’i tidak begitu nyaman tinggal di Baghdad kala itu ialah karena kepemimpinan Khalifah al-Makmun sangat dekat dengan kelompok Mu’tazilah dan sekaligus lebih dekat pada unsur-unsur Persia daripada Arab.
Imam Syafi’i tinggal dan menetap di Mesir selama kurang lebih empat tahun. Di sanalah beliau membangun mazhabnya dan menyebarkan pendapat dan fatwa-fatwa beliau yang nantinya dikenal sebagai Qoul Jadid-nya Imam Syafi’i.
Di Mesir Imam Syafi’i bertemu dengan Imam Laits bin Sa’ad untuk saling bertukar ilmu dan wawasan satu sama lain. Banyak pula murid beliau ketika di Mesir ini yang nantinya menjadu ulama-ulama besar pada generasi selanjutnya. Kiranya, Mesirlah yang menjadi tempat persinggahan terahir bagi Sang Imam, karena beliau wafat dan dikebumikan di Mesir.
Imam Syafi’i menetap selama dua tahun di Baghdad sebagai guru besar di wilayah tersebut. Hingga beliau kembali ke Makkah beberapa saat sebelum akhirnya balik lagi ke Baghdad tahun 198 H.
Pada tahun 199 H beliau memutuskan untuk meninggalkan Baghdad dan pindah ke Mesir untuk mengembangkan dan mengajarkan ilmunya di sana.
Syaikh Abu Zahroh menuturkan di antara alasan yang membuat Imam Syafi’i tidak begitu nyaman tinggal di Baghdad kala itu ialah karena kepemimpinan Khalifah al-Makmun sangat dekat dengan kelompok Mu’tazilah dan sekaligus lebih dekat pada unsur-unsur Persia daripada Arab.
Imam Syafi’i tinggal dan menetap di Mesir selama kurang lebih empat tahun. Di sanalah beliau membangun mazhabnya dan menyebarkan pendapat dan fatwa-fatwa beliau yang nantinya dikenal sebagai Qoul Jadid-nya Imam Syafi’i.
Di Mesir Imam Syafi’i bertemu dengan Imam Laits bin Sa’ad untuk saling bertukar ilmu dan wawasan satu sama lain. Banyak pula murid beliau ketika di Mesir ini yang nantinya menjadu ulama-ulama besar pada generasi selanjutnya. Kiranya, Mesirlah yang menjadi tempat persinggahan terahir bagi Sang Imam, karena beliau wafat dan dikebumikan di Mesir.
(mhy)
Lihat Juga :