Rahasia Keberkahan Usia Para Ulama
Minggu, 16 Agustus 2020 - 06:42 WIB
loading...
A
A
A
Masih ada kisah ulama lainnya yang tak kalah hebatnya, semisal Imam Syarafuddin an-Nawawi yang sudah tidak asing namanya di kalangan para ulama yang dikenal sebagai ulama yang paling produktif berkarya di masa hidupnya. Imam Nawawi; ulama besar yang berasal dari Syiria itu hanya diberikan umur 45 tahun saja.
Namun, karyanya melebihi usianya. Dalam usia 45 tahun itu, beliau menghasilkan ratusan ribu lembaran tulisan serta puluhan jilid besar karya dalam berbagai bidang keilmuan. Usia beliau benar-benar full-berkah ya.
Dalam membaca dan menthala'ahi kitab, semisal Kitab al-Wasith yang berjilid-jilid itu, Imam Nawawi sanggup mengulangi sebanyak 400 kali. Bayangkan pernah kita membaca buku puluhan jilid sebanyak itu? (Baca Juga: Penghormatan Ulama Terhadap Kitab Sahih Al-Bukhari )
Imam An-Nawawi, seorang wali Allah itu bahkan dikenal sebagai Ulama Uzzab atau ulama yang memilih hidup membujang, disebabkan sibuknya beliau dalam berkonsentrasi dalam bidang keilmuan untuk umat ini. Subhanallah!
Bahkan menurut Imam Dzahabi, Imam Nawawi pernah tidak tidur dalam posisi telentang -hanya tidur sekejap sambil duduk selama dua tahun lamanya- hanya untuk membaca dan menuliskan karya ulasannya untuk mensyarah Kitab at-Tanbih dan al-Muhazzab dalam bidang ilmu Fiqh.
Bukan hanya kisah para ulama di jazirah Arab saja yang sangat mengagumkan dan bertabur inspirasi luar biasa itu. Bukan pada masa abad pertengahan saja, bahkan pada masa kita juga masih kita dapati semisal Ulama Nusantara yang tak kalah hebatnya.
Salah satunya, sebagaimana saya alfaqir mendapatkan cerita langsung dari Abuya Sya'rani; salah satu murid terdekat Musnid ad-Dunya Syeikh Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadhani di Kota Makkah; bahwa Syeikh Yasin Al-Fadhani tidak pernah tidur sepanjang siang dan malamnya, terkecuali hanya satu jam saja dalam keadaan sambil duduk.
Syeikh Yasin al-Fadhani merupakan ulama paling produktif di masa 70-90-an dalam bidang ilmu hadits . Beliau dikenal sebagai Mahaguru para ulama di Nusantara yang merangkum semua rangkaian mata sanad keilmuan di masanya.
Sisa waktu beliau siang dan malam hanya dihabiskan untuk mengajar, menulis dan menthala'ahi kitab-kitab hadits, sehingga ketika Syeikh Yasin mengajar hadits beliau cukup dengan hapalan di kepalanya saja, sementara para muridnya masih memegangi kitab tebal dihadapan beliau. Masya Allah.
Jika kita merenungkan makna hidup ini, tentu kita tidak akan memiliki waktu untuk bersedih atau menyesali peristiwa yang telah berlalu. Sebab ada banyak waktu dan kesempatan esok yang harus dan mesti kita lakukan.
Namun, karyanya melebihi usianya. Dalam usia 45 tahun itu, beliau menghasilkan ratusan ribu lembaran tulisan serta puluhan jilid besar karya dalam berbagai bidang keilmuan. Usia beliau benar-benar full-berkah ya.
Dalam membaca dan menthala'ahi kitab, semisal Kitab al-Wasith yang berjilid-jilid itu, Imam Nawawi sanggup mengulangi sebanyak 400 kali. Bayangkan pernah kita membaca buku puluhan jilid sebanyak itu? (Baca Juga: Penghormatan Ulama Terhadap Kitab Sahih Al-Bukhari )
Imam An-Nawawi, seorang wali Allah itu bahkan dikenal sebagai Ulama Uzzab atau ulama yang memilih hidup membujang, disebabkan sibuknya beliau dalam berkonsentrasi dalam bidang keilmuan untuk umat ini. Subhanallah!
Bahkan menurut Imam Dzahabi, Imam Nawawi pernah tidak tidur dalam posisi telentang -hanya tidur sekejap sambil duduk selama dua tahun lamanya- hanya untuk membaca dan menuliskan karya ulasannya untuk mensyarah Kitab at-Tanbih dan al-Muhazzab dalam bidang ilmu Fiqh.
Bukan hanya kisah para ulama di jazirah Arab saja yang sangat mengagumkan dan bertabur inspirasi luar biasa itu. Bukan pada masa abad pertengahan saja, bahkan pada masa kita juga masih kita dapati semisal Ulama Nusantara yang tak kalah hebatnya.
Salah satunya, sebagaimana saya alfaqir mendapatkan cerita langsung dari Abuya Sya'rani; salah satu murid terdekat Musnid ad-Dunya Syeikh Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadhani di Kota Makkah; bahwa Syeikh Yasin Al-Fadhani tidak pernah tidur sepanjang siang dan malamnya, terkecuali hanya satu jam saja dalam keadaan sambil duduk.
Syeikh Yasin al-Fadhani merupakan ulama paling produktif di masa 70-90-an dalam bidang ilmu hadits . Beliau dikenal sebagai Mahaguru para ulama di Nusantara yang merangkum semua rangkaian mata sanad keilmuan di masanya.
Sisa waktu beliau siang dan malam hanya dihabiskan untuk mengajar, menulis dan menthala'ahi kitab-kitab hadits, sehingga ketika Syeikh Yasin mengajar hadits beliau cukup dengan hapalan di kepalanya saja, sementara para muridnya masih memegangi kitab tebal dihadapan beliau. Masya Allah.
Jika kita merenungkan makna hidup ini, tentu kita tidak akan memiliki waktu untuk bersedih atau menyesali peristiwa yang telah berlalu. Sebab ada banyak waktu dan kesempatan esok yang harus dan mesti kita lakukan.
Lihat Juga :