Tafsir Puasa dan Makna Ramadan Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani
Rabu, 03 April 2024 - 15:00 WIB
loading...
Bulan Ramadan adalah bulannya Allah (Syahrullah). Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab "al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqqa Azza wa Jalla" mengurai tafsir puasa dan makna Ramadan . Beliau pun menjelaskan persoalan syariat dan perintah puasa yang juga berlaku pada umat-umat terdahulu, terutama Yahudi dan Kristen . Ini dipantik dari diskusi tafsiran kalimat “kama kutiba alalladzina min qablikum” dalam surat al-Baqarah [2] ayat 183.
Dalam mengurai makna Ramadan, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mengutip satu hadis yang bersumber dari Ibnu Umar ra yang mengisahkan sabda Nabi Muhammad SAW : “Kita adalah umat yang ummiy (buta huruf), kita tidak bisa menulis dan tidak pula menghitung. Satu bulan itu sama dengan begini, begini, dan begini (beliau menurunkan ibu jarinya pada kali yang ketiga), dengan mengenapkan menjadi tiga puluh.”
Menurutnya, dinamakan bulan (syahr) karena putihnya. Ini terambil dari kata syahirat (putih) yang artinya keputihan (al-bayadh). Selain itu, ada pula yang mengatakan: pedang itu tampak putih kemilau (syahirat) ketika terhunus; bulan terlihat terang keputihan saat kemunculannya.
Baca juga: Syaikh Abdul Qadir al-Jilani Pelopor Tarekat
Bertolak dari pengertian ini, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani melanjutkan pembahasan tentang perbedaan makna Ramadan. Sebagian mengartikan dan memaknai Ramadan sebagai nama Allah SWT. Ini disandarkan pada riwayat Jafar As-Shadiq yang bersumber dari ayahnya. Dia mengatakan, “Bulan Ramadan adalah bulannya Allah (Syahrullah).”
Oleh karena itulah, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mewanti-wanti agar jangan sekadar menyebutkan “Ramadan” (tanpa “bulan’), tetapi hendaknya sematkan padanya kata “bulan (syahr)” sebagaimana Allah menyematkannya di dalam Al-Quran dalam firman-Nya “syahru ramadhan (bulan Ramadan).” Demikian penjelasan dari Anas bin Malik ra.
Adapun dinamakan Ramadan karena di dalamnya terjadi perubahan sehingga cuaca menjadi panas, sehingga bebatuan pun memanas.
Ramadan diambil dari ar-ramdhu, yang artinya hujan yang turun di tengah musim gugur. Maka pada bulan Ramadan tubuh-tubuh dibersihkan dan disucikan dari berbagai keburukan, dan hati disucikan agar menjadi suci.
Lebih jauh dari makna-makna di atas bahwa pada bulan itu hati manusia dikeluarkan dari panas lewat nasihat dan pemikiran tentang urusan akhirat, layaknya mengangkat bebatuan dan kerikil dari panasnya matahari.
Baca juga: Ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Menginginkan Kematian
Dalam mengurai makna Ramadan, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mengutip satu hadis yang bersumber dari Ibnu Umar ra yang mengisahkan sabda Nabi Muhammad SAW : “Kita adalah umat yang ummiy (buta huruf), kita tidak bisa menulis dan tidak pula menghitung. Satu bulan itu sama dengan begini, begini, dan begini (beliau menurunkan ibu jarinya pada kali yang ketiga), dengan mengenapkan menjadi tiga puluh.”
Menurutnya, dinamakan bulan (syahr) karena putihnya. Ini terambil dari kata syahirat (putih) yang artinya keputihan (al-bayadh). Selain itu, ada pula yang mengatakan: pedang itu tampak putih kemilau (syahirat) ketika terhunus; bulan terlihat terang keputihan saat kemunculannya.
Baca juga: Syaikh Abdul Qadir al-Jilani Pelopor Tarekat
Bertolak dari pengertian ini, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani melanjutkan pembahasan tentang perbedaan makna Ramadan. Sebagian mengartikan dan memaknai Ramadan sebagai nama Allah SWT. Ini disandarkan pada riwayat Jafar As-Shadiq yang bersumber dari ayahnya. Dia mengatakan, “Bulan Ramadan adalah bulannya Allah (Syahrullah).”
Oleh karena itulah, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani mewanti-wanti agar jangan sekadar menyebutkan “Ramadan” (tanpa “bulan’), tetapi hendaknya sematkan padanya kata “bulan (syahr)” sebagaimana Allah menyematkannya di dalam Al-Quran dalam firman-Nya “syahru ramadhan (bulan Ramadan).” Demikian penjelasan dari Anas bin Malik ra.
Adapun dinamakan Ramadan karena di dalamnya terjadi perubahan sehingga cuaca menjadi panas, sehingga bebatuan pun memanas.
Ramadan diambil dari ar-ramdhu, yang artinya hujan yang turun di tengah musim gugur. Maka pada bulan Ramadan tubuh-tubuh dibersihkan dan disucikan dari berbagai keburukan, dan hati disucikan agar menjadi suci.
Lebih jauh dari makna-makna di atas bahwa pada bulan itu hati manusia dikeluarkan dari panas lewat nasihat dan pemikiran tentang urusan akhirat, layaknya mengangkat bebatuan dan kerikil dari panasnya matahari.
Baca juga: Ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Menginginkan Kematian
Lihat Juga :