Rukun Iman dan Islam: Aspek Bersih Bukan Hanya Berkenaan dengan Harta Benda Saja
Jum'at, 05 April 2024 - 02:00 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Rukun Iman dan Rukun Islam Sarana Menuju Kehidupan Akhirat Lebih Baik
"Dan antara kedua dunia itu terdapat saluran komunikasi yang berbentuk para rasul itu,"jelas A. Rahman Zainuddin.
Menurutnya, kepercayaan pada buku-buku suci adalah kepercayaan bahwa komunikasi yang telah terjadi itu direkam untuk kepentingan umat manusia. Tapi sayang sekali bahwa manusia, dalam pandangan Islam, cenderung untuk "campur-tangan" dalam arti yang sesungguhnya dalam masalah rekaman komunikasi antara langit dan bumi itu, sehingga dalam kepercayaan orang Islam, dengan mengecualikan al-Qur'an, semua buku-buku yang terdahulu telah mengalami kerancuan karena campur-tangan manusia dalam bentuk yang tak semestinya itu.
Hanya al-Qur'an-lah yang telah memperoleh jaminan Tuhan untuk diperlihara kemurniannya sampai hari kiamat, tanpa mengalami pencemaran seperti telah dialami buku-buku suci lain.
Dan sekaligus al-Qur'an itu jugalah yang merupakan koreksi total dan terakhir segala buku suci yang terdapat sebelumnya.
Kepercayaan pada para malaikat adalah kepercayaan yang mengajarkan pada manusia bahwa apa yang ada itu bukanlah apa yang mereka raba, lihat dan rasakan saja.
Di balik eksistensi alam yang mereka indrai masih terdapat alam lain, yaitu alam malakut, yang lebih tinggi tingkatannya dari alam dunia (yang rendah) yang diindrai manusia ini. Sekaligus kepercayaan tersebut merupakan peringatan bagi manusia, bahwa kemampuan rasionalitas mereka terbatas dalam suatu rentangan eksistensi yang relatif kecil sekali.
Baca juga: Terdapat dalam Rukun Iman yang Keenam, Apakah Takdir Bisa Salah?
Oleh karena itu, tepatlah kiranya apa yang tersebut dalam al-Qur'an bahwa "Tuhan Maha Tahu dan kamu tak mengetahui" ( QS. al-Baqarah : 232; 'Ali Imran : 66; dan al-Nahl : 74).
Kepercayaan terhadap hari akhirat, di samping mengantarkan manusia ke alam yang belum pernah mereka alami, juga menyadarkan mereka bahwa kehidupan dunia ini bukanlah suatu kehidupan tanpa arti dan makna, yang hanya akan berakhir apabila manusia telah sampai pada kematian.
Hidup di dunia ini adalah suatu kehidupan yang serius yang harus dijalani dengan penuh keseriusan pula, karena ia merupakan babak pendahuluan yang pendek bagi suatu kehidupan lain yang jauh lebih kekal dan lebih abadi.
Jenis kehidupan akhirat yang akan ditemui manusia nanti, ditentukan oleh cara-cara ia melalui kehidupan dunia ini. Kehidupan akhirat itulah yang lebih baik dan lebih kekal ( QS. al-A'la : 17).
"Dan antara kedua dunia itu terdapat saluran komunikasi yang berbentuk para rasul itu,"jelas A. Rahman Zainuddin.
Menurutnya, kepercayaan pada buku-buku suci adalah kepercayaan bahwa komunikasi yang telah terjadi itu direkam untuk kepentingan umat manusia. Tapi sayang sekali bahwa manusia, dalam pandangan Islam, cenderung untuk "campur-tangan" dalam arti yang sesungguhnya dalam masalah rekaman komunikasi antara langit dan bumi itu, sehingga dalam kepercayaan orang Islam, dengan mengecualikan al-Qur'an, semua buku-buku yang terdahulu telah mengalami kerancuan karena campur-tangan manusia dalam bentuk yang tak semestinya itu.
Hanya al-Qur'an-lah yang telah memperoleh jaminan Tuhan untuk diperlihara kemurniannya sampai hari kiamat, tanpa mengalami pencemaran seperti telah dialami buku-buku suci lain.
Dan sekaligus al-Qur'an itu jugalah yang merupakan koreksi total dan terakhir segala buku suci yang terdapat sebelumnya.
Kepercayaan pada para malaikat adalah kepercayaan yang mengajarkan pada manusia bahwa apa yang ada itu bukanlah apa yang mereka raba, lihat dan rasakan saja.
Di balik eksistensi alam yang mereka indrai masih terdapat alam lain, yaitu alam malakut, yang lebih tinggi tingkatannya dari alam dunia (yang rendah) yang diindrai manusia ini. Sekaligus kepercayaan tersebut merupakan peringatan bagi manusia, bahwa kemampuan rasionalitas mereka terbatas dalam suatu rentangan eksistensi yang relatif kecil sekali.
Baca juga: Terdapat dalam Rukun Iman yang Keenam, Apakah Takdir Bisa Salah?
Oleh karena itu, tepatlah kiranya apa yang tersebut dalam al-Qur'an bahwa "Tuhan Maha Tahu dan kamu tak mengetahui" ( QS. al-Baqarah : 232; 'Ali Imran : 66; dan al-Nahl : 74).
Kepercayaan terhadap hari akhirat, di samping mengantarkan manusia ke alam yang belum pernah mereka alami, juga menyadarkan mereka bahwa kehidupan dunia ini bukanlah suatu kehidupan tanpa arti dan makna, yang hanya akan berakhir apabila manusia telah sampai pada kematian.
Hidup di dunia ini adalah suatu kehidupan yang serius yang harus dijalani dengan penuh keseriusan pula, karena ia merupakan babak pendahuluan yang pendek bagi suatu kehidupan lain yang jauh lebih kekal dan lebih abadi.
Jenis kehidupan akhirat yang akan ditemui manusia nanti, ditentukan oleh cara-cara ia melalui kehidupan dunia ini. Kehidupan akhirat itulah yang lebih baik dan lebih kekal ( QS. al-A'la : 17).
Lihat Juga :