Rukun Iman dan Islam: Aspek Bersih Bukan Hanya Berkenaan dengan Harta Benda Saja
Jum'at, 05 April 2024 - 02:00 WIB
loading...
A
A
A
Di samping itu, kepercayaan akan kehidupan akhirat meminta manusia hidup dalam suasana yang penuh tanggung jawab, karena segala sesuatu yang dilakukannya akan diperlihatkan kepadanya nanti, dan akan diminta pertanggung jawabannya. Malah perilaku manusia ini nanti akan disaksikan Allah dan Rasul-Nya dan seluruh orang-orang yang beriman ( QS al-Taubah : 94,105).
Baca juga: Penjelasan tentang Rukun Iman Berdasar Hadis Dialog Rasulullah SAW dan Jibril
Kepercayaan pada takdir (al-qadr) yang baik dan yang tak baik juga merupakan pelajaran tentang bagaimana kecil dan lemahnya manusia sebagai suatu eksistensi, terlepas dari kemandiriannya dan kebebasannya dalam beribadah dan mengubah hidupnya sesuai dengan keinginannya, ia adalah makhluk yang penuh ketergantungan terhadap faktor-faktor yang dapat dikatakan seluruhnya berada di luar pengendaliannya.
Dengan bertumpu pada keenam dasar yang kokoh kuat ini, manusia telah berada dalam kondisi sebaik-baiknya untuk mengarungi alam tindakan, atau alam praktis, yang terlambang dalam lima rukun islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan ibadah
haji.
Syahadat adalah pernyataan kebulatan tekad untuk menyatukan bumi dan langit dalam diri kita, dengan mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu pesuruh Allah.
Salat selain merupakan mi'rajnya orang-orang yang beriman, juga memiliki aspek pemusatan pemikiran terhadap tujuan, aspek memupuk kehidupan sosial dalam masyarakat, yang juga menggalakkan kepatuhan pada pimpinan, tanpa menghilangkan hak kontrol sosial dan hak menegur dalam setiap tahap dari pelaksanaannya. Internalisasi penderitaan dalam rangka memupuk rasa solidaritas sesama manusia, selain dari kepatuhan pada Tuhan, terjelma dalam ibadah puasa. Sedangkan manifestasi dan pembuktian yang bersifat kebendaan dari solidaritas ini tampak dalam zakat yang membersihkan jiwa dan harta manusia.
Dalam haji terlihat aspek kesatuan dan persamaan umat manusia, aspek kehidupan internasional, aspek pengorbanan, aspek pernyataan hak-hak asasi manusia dalam Islam, dan lain sebagainya.
Baca juga: Apakah Takdir Merupakan Rukun Iman? Quraish Shihab: Al-Quran dan Hadis Tidak Mengatakan Begitu
Dengan demikian, secara sepintas lalu telah tampak bagaimana rukun iman dan rukun Islam merupakan sarana menciptakan suatu kehidupan dunia yang lebih bermakna, sebagai pendahuluan bagi manusia dalam menuju kehidupan akhirat yang "lebih baik dan lebih kekal."
Dengan kedua rukun itu, kehidupan manusia diharapkan menjadi bersih dan transendental, baik dalam dasar-dasar teoritisnya, maupun dalam praktiknya.
Baca juga: Penjelasan tentang Rukun Iman Berdasar Hadis Dialog Rasulullah SAW dan Jibril
Kepercayaan pada takdir (al-qadr) yang baik dan yang tak baik juga merupakan pelajaran tentang bagaimana kecil dan lemahnya manusia sebagai suatu eksistensi, terlepas dari kemandiriannya dan kebebasannya dalam beribadah dan mengubah hidupnya sesuai dengan keinginannya, ia adalah makhluk yang penuh ketergantungan terhadap faktor-faktor yang dapat dikatakan seluruhnya berada di luar pengendaliannya.
Dengan bertumpu pada keenam dasar yang kokoh kuat ini, manusia telah berada dalam kondisi sebaik-baiknya untuk mengarungi alam tindakan, atau alam praktis, yang terlambang dalam lima rukun islam, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan ibadah
haji.
Syahadat adalah pernyataan kebulatan tekad untuk menyatukan bumi dan langit dalam diri kita, dengan mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu pesuruh Allah.
Salat selain merupakan mi'rajnya orang-orang yang beriman, juga memiliki aspek pemusatan pemikiran terhadap tujuan, aspek memupuk kehidupan sosial dalam masyarakat, yang juga menggalakkan kepatuhan pada pimpinan, tanpa menghilangkan hak kontrol sosial dan hak menegur dalam setiap tahap dari pelaksanaannya. Internalisasi penderitaan dalam rangka memupuk rasa solidaritas sesama manusia, selain dari kepatuhan pada Tuhan, terjelma dalam ibadah puasa. Sedangkan manifestasi dan pembuktian yang bersifat kebendaan dari solidaritas ini tampak dalam zakat yang membersihkan jiwa dan harta manusia.
Dalam haji terlihat aspek kesatuan dan persamaan umat manusia, aspek kehidupan internasional, aspek pengorbanan, aspek pernyataan hak-hak asasi manusia dalam Islam, dan lain sebagainya.
Baca juga: Apakah Takdir Merupakan Rukun Iman? Quraish Shihab: Al-Quran dan Hadis Tidak Mengatakan Begitu
Dengan demikian, secara sepintas lalu telah tampak bagaimana rukun iman dan rukun Islam merupakan sarana menciptakan suatu kehidupan dunia yang lebih bermakna, sebagai pendahuluan bagi manusia dalam menuju kehidupan akhirat yang "lebih baik dan lebih kekal."
Dengan kedua rukun itu, kehidupan manusia diharapkan menjadi bersih dan transendental, baik dalam dasar-dasar teoritisnya, maupun dalam praktiknya.
(mhy)
Lihat Juga :