Ini Mengapa Iran Menjadi Negara Islam Kuat yang Mandiri
Sabtu, 20 April 2024 - 14:21 WIB
loading...
A
A
A
Pada masa penjarahan Kota Baghdad tahun 1258-1500-an, ditandai
dengan runtuhnya Tamerlane (Timurid) pada 1507, Persia/Iran dikuasai banyak penguasa lokal yang merupakan anak cucu keturunan Tamerlane.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Pada tahun 1501, muncul kekuatan politik baru di Samarqand pimpinan Shah Ismail I, yang mendirikan Dinasti Safawi, yang didukung kelompok tarekat Safawiyah (Sunni) yang didirikan Shafi al-Din Ardabili (1252-1334).
Dengan dukungan pengikut tarekat Qizilbash (Kepala Merah), Ismail menaklukkan semua penguasa lokal itu, dan menyatakan diri sebagai Syi’ah bahkan menjadikan Syi’ah Itsna’asyariyah sebagai agama negara dengan ibukota Isfahan.
Dinasti Safawi menjadi elemen penting dalam pembentukan identitas bangsa Iran, dan perluasan Syi’ah hingga sekarang.
Sejak 11 Februari 1979, melalui revolusi Islam yang dipimpin Ayatullah Khomeini, sistem kerajaan diganti sistem Republik Islam lewat referendum yang didukung 98% rakyatnya.
Dalam jangka waktu hampir tiga dekade, Iran termasuk di antara negara yang paling sering mendapatkan tekanan dari negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.
Selain dipaksa berperang selama delapan tahun melawan rezim diktator Saddam Husain, perekonomian Iran turut diembargo. Tetapi, tekanan dan embargo tidak membuat Iran menyerah, melainkan membuat Negeri Para Mullah tersebut lebih mandiri di segala bidang.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Khalid bin Walid Kalahkan Pasukan Persia di Mazar
Kemandirian ini pula yang menjadi landasan kemajuan pesat Iran dalam meniti masa depan bangsanya. Telah diketahui, indenpendensi dan kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung kepada keberhasilan dalam meraih kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
dengan runtuhnya Tamerlane (Timurid) pada 1507, Persia/Iran dikuasai banyak penguasa lokal yang merupakan anak cucu keturunan Tamerlane.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Pada tahun 1501, muncul kekuatan politik baru di Samarqand pimpinan Shah Ismail I, yang mendirikan Dinasti Safawi, yang didukung kelompok tarekat Safawiyah (Sunni) yang didirikan Shafi al-Din Ardabili (1252-1334).
Dengan dukungan pengikut tarekat Qizilbash (Kepala Merah), Ismail menaklukkan semua penguasa lokal itu, dan menyatakan diri sebagai Syi’ah bahkan menjadikan Syi’ah Itsna’asyariyah sebagai agama negara dengan ibukota Isfahan.
Dinasti Safawi menjadi elemen penting dalam pembentukan identitas bangsa Iran, dan perluasan Syi’ah hingga sekarang.
Sejak 11 Februari 1979, melalui revolusi Islam yang dipimpin Ayatullah Khomeini, sistem kerajaan diganti sistem Republik Islam lewat referendum yang didukung 98% rakyatnya.
Dalam jangka waktu hampir tiga dekade, Iran termasuk di antara negara yang paling sering mendapatkan tekanan dari negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat.
Selain dipaksa berperang selama delapan tahun melawan rezim diktator Saddam Husain, perekonomian Iran turut diembargo. Tetapi, tekanan dan embargo tidak membuat Iran menyerah, melainkan membuat Negeri Para Mullah tersebut lebih mandiri di segala bidang.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Khalid bin Walid Kalahkan Pasukan Persia di Mazar
Kemandirian ini pula yang menjadi landasan kemajuan pesat Iran dalam meniti masa depan bangsanya. Telah diketahui, indenpendensi dan kemajuan sebuah bangsa sangat bergantung kepada keberhasilan dalam meraih kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Lihat Juga :