Asal-Usul Keranda Mayat dan Kisah Putri Rasulullah SAW
Kamis, 25 April 2024 - 11:10 WIB
loading...
A
A
A
"Wahai putri Rasulullah , maukah aku kabarkan kepadamu sebuah peti mati yang aku lihat di Habasyah?"
Maka Asma membuat peti mati yang tertutup dari semua sisinya seperti sebuah kardus. Ketika peti mati sudah jadi, Asma kemudian menutup peti mati itu kembali dengan sebuah kain yang luas maka tubuh mayit yang dibawa di atasnya tidak akan mungkin terbentuk atau tersifati.
Melihat perbuatan Asma tersebut, Fatimah begitu bahagia. Seketika, Fatimah berkata kepada Asma:
"Semoga Allah menutup auratmu sebagaimana engkau telah berusaha untuk menutup auratku."
"Betapa indahnya buatanmu ini, sehingga wanita yang meninggal bisa dibedakan dengan lelaki yang meninggal. Jika aku mati, maka mandikanlah diriku bersama Ali" (HR. Abu Nu'aim Al-Asbahani pada Hilyah Al-Aulia 2/43)
Subhanallah, Sayyidah Fatimah malu padahal nantinya hanyalah seorang yang sudah wafat dan itupun sudah benar-benar tertutup dan terbungkus dengan 5 kain kafan.
Apalagi yang akan terlihat? Sayyidah Fatimah tidaklah mencurahkan isi hatinya ketika di pasar atau sebuah taman,
namun beliau mencurahkan isi hatinya ketika beliau diambang kematian.
Sayyidah Fatimah malu ketika beliau sudah wafat, maka bagaimana dengan wanita yang masih hidup tidak memiliki rasa malu? Seandainya Fatimah melewati sebuah pasar yang ada di zaman sekarang ini dan beliau melihat para wanita zaman sekarang, maka apa yang akan Beliau katakan?
Tidak dipungkiri, wanita saat ini tak sedikit yang berani melepaskan hijabnya, bahkan menggunakan pakaian sempit lagi minim. Wanita saat ini sudah hilang rasa malunya, mereka berani memperindah dan menampilkan keindahan tubuhnya sehingga mengundang syahwat laki-laki. Semoga Allah Ta'ala memberi hidayah kepada kita.
Maka Asma membuat peti mati yang tertutup dari semua sisinya seperti sebuah kardus. Ketika peti mati sudah jadi, Asma kemudian menutup peti mati itu kembali dengan sebuah kain yang luas maka tubuh mayit yang dibawa di atasnya tidak akan mungkin terbentuk atau tersifati.
Melihat perbuatan Asma tersebut, Fatimah begitu bahagia. Seketika, Fatimah berkata kepada Asma:
سترك الله كما سترتني مَا أَحْسَنَ هَذَا وَأَجْمَلَهُ تُعْرَفُ بِهِ الْمَرْأَةُ مِنَ الرَّجُلِ فَإِذَا مِتُّ أَنَا فَاغْسِلِينِي أَنْتِ وَعَلِيٌّ
"Semoga Allah menutup auratmu sebagaimana engkau telah berusaha untuk menutup auratku."
"Betapa indahnya buatanmu ini, sehingga wanita yang meninggal bisa dibedakan dengan lelaki yang meninggal. Jika aku mati, maka mandikanlah diriku bersama Ali" (HR. Abu Nu'aim Al-Asbahani pada Hilyah Al-Aulia 2/43)
Subhanallah, Sayyidah Fatimah malu padahal nantinya hanyalah seorang yang sudah wafat dan itupun sudah benar-benar tertutup dan terbungkus dengan 5 kain kafan.
Apalagi yang akan terlihat? Sayyidah Fatimah tidaklah mencurahkan isi hatinya ketika di pasar atau sebuah taman,
namun beliau mencurahkan isi hatinya ketika beliau diambang kematian.
Sayyidah Fatimah malu ketika beliau sudah wafat, maka bagaimana dengan wanita yang masih hidup tidak memiliki rasa malu? Seandainya Fatimah melewati sebuah pasar yang ada di zaman sekarang ini dan beliau melihat para wanita zaman sekarang, maka apa yang akan Beliau katakan?
Tidak dipungkiri, wanita saat ini tak sedikit yang berani melepaskan hijabnya, bahkan menggunakan pakaian sempit lagi minim. Wanita saat ini sudah hilang rasa malunya, mereka berani memperindah dan menampilkan keindahan tubuhnya sehingga mengundang syahwat laki-laki. Semoga Allah Ta'ala memberi hidayah kepada kita.
Lihat Juga :