Abul Hasan Asy-Syadzili, Sang Sufi Dunia Timur dan Barat (1)
Selasa, 18 Agustus 2020 - 20:44 WIB
loading...
Imam Abul Hasan asy-Syadzili adalah sosok ulama sufi yang juga waliyullah qutub kelahiran Maroko 593 Hijriyah silam. Foto/Istimewa
A
A
A
Dai asal Mesir Syeikh Ahmad Al-Misri menceritakan kisah ulama besar sufi yang masyhur di dunia Timur dan Barat saat kajian di Masjid Permata Qalbu, Perumahan Permata Mediterania, Pos Pengumben, Jakarta Barat. (Baca Juga: Kisah Bijak Para Sufi: Orang yang Murah Hat i)
Banyak orang bertanya tentang sufi atau atau ulama tasawuf. Berikut penjelasan Rasulullah SAW dalam satu hadisnya. Sayyidna Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda:
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang mereka bukan para Nabi 'alaihimus shalawaatu wa sallam dan bukan pula para syuhada. (kendatipun demikian) para Nabi dan para syuhada merasa iri atas kedudukan mereka di sisi Allah Ta'ala pada hari Kiamat.
(Mendengar hal itu) para sahabat radhiyallahu 'anhum bertanya: "Ya Rasulullah, sudikah anda memberitahukan kepada kami siapa mereka ini. Rasulullah SAW menjawab: "Mereka adalah kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah padahal mereka tak memiliki hubungan kekerabatan di antara mereka dan mereka pun (saling mencintai karena Allah) bukan karena mereka saling memberikan harta (namun semata-semata mencintai karena Allah Ta'ala, karena aqidah yang sama). Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya dan mereka di atas cahaya. Mereka (pada hari kiamat) tidak takut saat manusia lainnya merasa takut dan tak akan sedih saat manusia lainnya bersedih. Selanjutnya Rasulullah SAW membaca ayat ini (QS Yunus: Ayat 62):
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (HR Abu Dawud No 3527)
Di antara ulama sufi yang akan kita bahas yaitu sang sufi dunia Timur dan Barat yaitu Imam Abul Hasan asy-Syadzili . Allah Ta'ala melebihkannya dengan karunia ilmu. Dengan berupa hizib (yaitu kumpulan doa dan dzikir) yang berasal dari Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Imam Abul Hasan Asy-Syadzili menulis 22 Hizib. Banyak ulama yang membahas hizib tersebut. Tapi sayang, banyak yang menyebarkan fitnah tentang tasawuf. Ilmu tasawuf yang benar adalah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka yang ingkar terhadap kejadian para wali, maka mereka mengingkari Al-Qur'an dan Hadis Nabi.
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ
"Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, aku pasti melindunginya." (HR Al-Bukhari No 6502)
Banyak orang bertanya tentang sufi atau atau ulama tasawuf. Berikut penjelasan Rasulullah SAW dalam satu hadisnya. Sayyidna Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda:
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang mereka bukan para Nabi 'alaihimus shalawaatu wa sallam dan bukan pula para syuhada. (kendatipun demikian) para Nabi dan para syuhada merasa iri atas kedudukan mereka di sisi Allah Ta'ala pada hari Kiamat.
(Mendengar hal itu) para sahabat radhiyallahu 'anhum bertanya: "Ya Rasulullah, sudikah anda memberitahukan kepada kami siapa mereka ini. Rasulullah SAW menjawab: "Mereka adalah kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah padahal mereka tak memiliki hubungan kekerabatan di antara mereka dan mereka pun (saling mencintai karena Allah) bukan karena mereka saling memberikan harta (namun semata-semata mencintai karena Allah Ta'ala, karena aqidah yang sama). Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya dan mereka di atas cahaya. Mereka (pada hari kiamat) tidak takut saat manusia lainnya merasa takut dan tak akan sedih saat manusia lainnya bersedih. Selanjutnya Rasulullah SAW membaca ayat ini (QS Yunus: Ayat 62):
{أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ}
[يونس : 62]
[يونس : 62]
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (HR Abu Dawud No 3527)
Di antara ulama sufi yang akan kita bahas yaitu sang sufi dunia Timur dan Barat yaitu Imam Abul Hasan asy-Syadzili . Allah Ta'ala melebihkannya dengan karunia ilmu. Dengan berupa hizib (yaitu kumpulan doa dan dzikir) yang berasal dari Al-Qur'an dan Hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Imam Abul Hasan Asy-Syadzili menulis 22 Hizib. Banyak ulama yang membahas hizib tersebut. Tapi sayang, banyak yang menyebarkan fitnah tentang tasawuf. Ilmu tasawuf yang benar adalah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka yang ingkar terhadap kejadian para wali, maka mereka mengingkari Al-Qur'an dan Hadis Nabi.
Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ
"Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, aku pasti melindunginya." (HR Al-Bukhari No 6502)
Lihat Juga :