Kisah Bijak Para Sufi: Orang yang Murah Hati
Senin, 03 Agustus 2020 - 06:19 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
ADA seorang kaya dan murah hati yang tinggal di Bokhara. Karena ia memiliki pangkat tinggi dalam hierarki yang tidak kelihatan, ia dikenal sebagai Pemimpin Dunia. Ia membuat satu syarat untuk hadiah yang diberikannya. Setiap hari diberikannya emas kepada sekelompok masyarakat yang sakit, yang janda, dan selanjutnya. Tetapi tak diberikannya apa pun kepada yang membuka mulut.
Tidak semua orang bisa tahan berdiam diri. (Baca juga: Tiga Macam Ilmu dalam Telaah Kemanusiaan )
Pada suatu hari, tibalah giliran para ahli hukum menerima bagian hadiah. Salah seorang di antara mereka itu tidak dapat menahan diri mengajukan permohonan selengkap dan sebaik-baiknya.
Tak sesuatu pun diberikan padanya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Si Tolol, Si Bijak dan Kendi )
Tetapi, ia belum berhenti berusaha. Hari berikutnya, orang-orang cacat diberi hadiah, dan ia pun berpura-pura anggota badannya patah.
Tetapi, Sang Pemimpin mengenalinya, dan ia pun tak mendapatkan apa-apa.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Si Tolol, Si Bijak dan Kendi )
Hari berikutnya lagi, ia kembali menyamar, menutupi wajahnya, bergabung dengan kelompok masyarakat yang berbeda. Kali ini pun ia dikenali dan diusir.
Lagi dan lagi ia mencoba, bahkan juga pernah menyamar sebagai wanita: namun tetap saja gagal.
Akhirnya, ahli hukum itu bertemu dengan seorang yang mengurus pemakaman dan memintanya untuk membungkus dirinya dengan kain kafan. "Kalau Sang Pemimpin lewat, ia nanti mungkin mengiraku mayat. Ia mungkin melemparkan sejumlah uang untuk pemakamanku dan kau akan kuberi bagian."
Baca juga: Ujian Kekayaan: Dari Tiga Orang, Hanya Lulus Satu Orang
Tidak semua orang bisa tahan berdiam diri. (Baca juga: Tiga Macam Ilmu dalam Telaah Kemanusiaan )
Pada suatu hari, tibalah giliran para ahli hukum menerima bagian hadiah. Salah seorang di antara mereka itu tidak dapat menahan diri mengajukan permohonan selengkap dan sebaik-baiknya.
Tak sesuatu pun diberikan padanya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Si Tolol, Si Bijak dan Kendi )
Tetapi, ia belum berhenti berusaha. Hari berikutnya, orang-orang cacat diberi hadiah, dan ia pun berpura-pura anggota badannya patah.
Tetapi, Sang Pemimpin mengenalinya, dan ia pun tak mendapatkan apa-apa.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Si Tolol, Si Bijak dan Kendi )
Hari berikutnya lagi, ia kembali menyamar, menutupi wajahnya, bergabung dengan kelompok masyarakat yang berbeda. Kali ini pun ia dikenali dan diusir.
Lagi dan lagi ia mencoba, bahkan juga pernah menyamar sebagai wanita: namun tetap saja gagal.
Akhirnya, ahli hukum itu bertemu dengan seorang yang mengurus pemakaman dan memintanya untuk membungkus dirinya dengan kain kafan. "Kalau Sang Pemimpin lewat, ia nanti mungkin mengiraku mayat. Ia mungkin melemparkan sejumlah uang untuk pemakamanku dan kau akan kuberi bagian."
Baca juga: Ujian Kekayaan: Dari Tiga Orang, Hanya Lulus Satu Orang
Lihat Juga :