Kemenag: Manajemen Garuda Gagal Berikan Layanan Terbaik Jemaah Haji
Rabu, 22 Mei 2024 - 14:58 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, pecah kloter. Perencanaan Garuda Indonesia juga meleset. Pecah kloter yang awalnya diperkirakan hanya akan terjadi satu kali, ternyata terjadi beberapa kali.
"Salah satunya pecah kloter dialami UPG-06 karena Garuda tidak bisa menggantikan pesawat yang mesinnya rusak dengan jenis pesawat yang sama," ungkap Anna.
"Kami mencatat sampai hari ini sudah ada empat penerbangan yang pecah kloter. Maksudnya, satu kloter jemaah tidak bisa diterbangkan secara bersama-sama," sambungnya.
Menurutnya, potensi terjadinya pecah kloter ini masih bisa bertambah jika tidak dimitigasi dengan baik. Hal ini dikarenakan masa penerbangan jemaah ke Tanah Suci masih akan berlangsung hingga 10 Juni mendatang.
Keempat, tas kabin dan kursi roda jemaah tidak terbawa. Peristiwa ini dialami oleh penerbangan jemaah kloter 28 Embarkasi Solo (SOC 28). Ada 11 kursi roda dan 120 koper kabin yang tidak terangkut.
Akibatnya jemaah dan petugas mencari-cari setelah mereka mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah.
"Ini bahkan tidak ada informasi dari Garuda. Padahal petugas haji pontang-panting terus mencarinya. Belakangan kita tahu bahwa 11 kursi roda dan 120 koper kabin itu tidak terbawa dan baru diterbangkan bersama pesawat yang memberangkatkan kloter 33 Embarkasi Solo atau SOC 33," papar Anna.
Menurutnya, hal Ini jelas merugikan jemaah SOC 28. Dengan demikian pihak Garuda diminta harus meminta maaf dan memberikan kompensasi langsung kepada jemaaah haji Indonesia.
"Garuda harus segera melakukan perbaikan ke depan," tutupnya.
"Salah satunya pecah kloter dialami UPG-06 karena Garuda tidak bisa menggantikan pesawat yang mesinnya rusak dengan jenis pesawat yang sama," ungkap Anna.
"Kami mencatat sampai hari ini sudah ada empat penerbangan yang pecah kloter. Maksudnya, satu kloter jemaah tidak bisa diterbangkan secara bersama-sama," sambungnya.
Menurutnya, potensi terjadinya pecah kloter ini masih bisa bertambah jika tidak dimitigasi dengan baik. Hal ini dikarenakan masa penerbangan jemaah ke Tanah Suci masih akan berlangsung hingga 10 Juni mendatang.
Keempat, tas kabin dan kursi roda jemaah tidak terbawa. Peristiwa ini dialami oleh penerbangan jemaah kloter 28 Embarkasi Solo (SOC 28). Ada 11 kursi roda dan 120 koper kabin yang tidak terangkut.
Akibatnya jemaah dan petugas mencari-cari setelah mereka mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah.
"Ini bahkan tidak ada informasi dari Garuda. Padahal petugas haji pontang-panting terus mencarinya. Belakangan kita tahu bahwa 11 kursi roda dan 120 koper kabin itu tidak terbawa dan baru diterbangkan bersama pesawat yang memberangkatkan kloter 33 Embarkasi Solo atau SOC 33," papar Anna.
Menurutnya, hal Ini jelas merugikan jemaah SOC 28. Dengan demikian pihak Garuda diminta harus meminta maaf dan memberikan kompensasi langsung kepada jemaaah haji Indonesia.
"Garuda harus segera melakukan perbaikan ke depan," tutupnya.
(maf)
Lihat Juga :