Kasus Khalid bin Walid: Ketika Sebagian Muslimin Menganggap Umar bin Khattab Berlebihan
Minggu, 16 Juni 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Haekal menulis, boleh jadi sikap keras Umar kepada Khalid sampai berlebihan demikian sesudah ia kembali ke Madinah sebagai orang yang sudah dipecat, sebab ia melihat ada sekelompok orang yang fanatik kepada Khalid berusaha mengobarkan fitnah dan menyebarkan kekacauan.
Kalaupun dia memperlihatkan sikap lemah lembut tentu ada orang yang akan menganggapnya ia lemah, dan tentu pula mereka yakin bahwa ia memecat Khalid tanpa ada kesalahan, yang nanti akan menjurus ke dalam bahaya dan akan membangkitkan kegelisahan umat.
Buat Khalid, segala maksud dan tujuan Amirulmukminin itu bukan tidak diketahui dan lewat begitu saja. Jika hanya berdua dengan dia, Umar tampak lemah lembut dan ramah kepadanya.
Jika ada orang yang mengatakan kepadanya tentang sikapnya yang begitu keras terhadapnya itu, ketika sedang berdua Khalid pernah menegur Umar, dan diulanginya bahwa sikap terhadap dirinya itu tidak pantas.
Baca juga: Kasus Khalid tentang Laila, Membaca Sikap Umar dengan Khalifah Abu Bakar
Lalu kata Umar menimpalinya: “Khalid, buat saya Anda sangat mulia, saya mencintaimu. Anda tidak akan menyalahkan saya lagi.”
Kata-kata ini membuat Khalid membatasi diri dan kemarahannya dapat dikendalikan. Kepada mereka yang mencoba memanas-manasi hatinya supaya bersama-sama dengan lawan Umar untuk memberontak kepadanya ia berkata: "Selama Umar masih hidup, tidak."
Bagaimana seorang Khalid akan membangkang kepada pemimpinnya atas perintah yang dikeluarkannya; dia seorang prajurit yang mengenal disiplin dan meyakininya. Dia seorang Muslim dengan keislamannya yang baik. Ia ingin sekali agama yang benar itu mendapat kemenangan di tangannya atau di tangan yang lain.
Oleh karenanya terpaksa ia menjalani hidup statis, suatu hal memang yang tidak disenanginya. Hidup seorang prajurit pahlawan yang akan melihat medan perang selalu terbuka di depannya. Tetapi sekarang dia berada jauh, tak lagi dapat berlaga, karena pemimpinnya sudah memecatnya dan menjauhkannya dari medan perang.
Baca juga: Kisah Bilal Mengikat Khalid bin Walid karena Perintah Umar bin Khattab
Kalaupun dia memperlihatkan sikap lemah lembut tentu ada orang yang akan menganggapnya ia lemah, dan tentu pula mereka yakin bahwa ia memecat Khalid tanpa ada kesalahan, yang nanti akan menjurus ke dalam bahaya dan akan membangkitkan kegelisahan umat.
Buat Khalid, segala maksud dan tujuan Amirulmukminin itu bukan tidak diketahui dan lewat begitu saja. Jika hanya berdua dengan dia, Umar tampak lemah lembut dan ramah kepadanya.
Jika ada orang yang mengatakan kepadanya tentang sikapnya yang begitu keras terhadapnya itu, ketika sedang berdua Khalid pernah menegur Umar, dan diulanginya bahwa sikap terhadap dirinya itu tidak pantas.
Baca juga: Kasus Khalid tentang Laila, Membaca Sikap Umar dengan Khalifah Abu Bakar
Lalu kata Umar menimpalinya: “Khalid, buat saya Anda sangat mulia, saya mencintaimu. Anda tidak akan menyalahkan saya lagi.”
Kata-kata ini membuat Khalid membatasi diri dan kemarahannya dapat dikendalikan. Kepada mereka yang mencoba memanas-manasi hatinya supaya bersama-sama dengan lawan Umar untuk memberontak kepadanya ia berkata: "Selama Umar masih hidup, tidak."
Bagaimana seorang Khalid akan membangkang kepada pemimpinnya atas perintah yang dikeluarkannya; dia seorang prajurit yang mengenal disiplin dan meyakininya. Dia seorang Muslim dengan keislamannya yang baik. Ia ingin sekali agama yang benar itu mendapat kemenangan di tangannya atau di tangan yang lain.
Oleh karenanya terpaksa ia menjalani hidup statis, suatu hal memang yang tidak disenanginya. Hidup seorang prajurit pahlawan yang akan melihat medan perang selalu terbuka di depannya. Tetapi sekarang dia berada jauh, tak lagi dapat berlaga, karena pemimpinnya sudah memecatnya dan menjauhkannya dari medan perang.
Baca juga: Kisah Bilal Mengikat Khalid bin Walid karena Perintah Umar bin Khattab
(mhy)
Lihat Juga :