Beratnya Medan Mina Menguji Kekuatan Fisik Petugas saat Melayani Jemaah Haji Indonesia
Selasa, 18 Juni 2024 - 06:37 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah Arab Saudi juga sudah menyiapkan tempat melontar hingga lantai tiga. Jemaah disarankan memilih lantai tiga. Lebih lapang meski harus melewati beberapa eskalator.
Mina memang menjadi medan tantangan tersendiri bukan hanya bagi jemaah tetapi juga petugas haji. Jalan berkilo-kilo mengharuskan jemaah harus mempersiapkan diri sebelum menuju ke sana. Menyiapkan fisik, istirahat dan tidur yang cukup dan tentunya makan dulu sebelum berangkat.
Jangan lupa membawa bekal air dan sedikit camilan. Rute yang panjang bisa membuat kelelahan yang sangat apalagi bagi mereka yang berisiko tinggi, lansia. Bekal air tidak hanya untuk menghapus dahaga tetapi juga untuk memercikkan kepala saat panas mulai menyerang.
Sejumlah jemaah haji Indonesia di jalur melontar ditemukan atau mendatangi petugas dengan berbagai keluhan. Ada yang kakinya melepuh, terkilir, haus, lapar dan masuk angin. Yang tidak tahu arah jalan pulang jauh lebih banyak.
Medan Mina mengharuskan petugas haji harus lebih kuat dan siaga menghadapi kasus-kasus di lapangan yang tidak terduga. Gemblengan di bimbingan teknis (bimtek) bagi petugas haji di Asrama Haji Pondok Gedhe yang dilaksanakan di dalam bulan Ramadan, ternyata menjadi bekal yang sangat membantu petugas haji menghadapi kondisi di lapangan.
Beratnya Bimtek tidak seberapa dibanding realitas. Petugas haji harus punya inisiatif yang tinggi tidak hanya persiapan fisik tetapi juga obat-obatan yang mungkin dibutuhkan jemaah Indonesia. Seperti salep untuk kaki melepuh, tolak angin, minyak gosok, oralit untuk mereka yang dehirasi dan air mineral baik untuk diri sendiri maupun untuk jemaah.
Petugas haji juga harus siap menyimpan air minum cadangan saat di jamarat. Banyak jemaah Indonesia yang dehidrasi karena kelamaan antre lempar jumrah ula, wustha, aqabah.
Ada juga jemaah di jalur melontar yang meminta pampers. Mungkin dia sudah kebelet buang air kecil sementara pampers yang dipakai sudah penuh dan membutuhkan pengganti.
Kehadiran petugas meringankan masalah yang dihadapi jemaah. Setidaknya ada teman saat tertinggal dari rombongan. Ada yang mengoleskan salep di kaki yang melepuh.
Dan pengabdian petugas haji menjadi wujud kesyukuran sebagaimana makna hakiki Mabit di Muzdalifah dan Mina yang merupakan bukti kesyukuran seluruh jemaah haji atas terealisasinya janji sebagai hamba.
Mina memang menjadi medan tantangan tersendiri bukan hanya bagi jemaah tetapi juga petugas haji. Jalan berkilo-kilo mengharuskan jemaah harus mempersiapkan diri sebelum menuju ke sana. Menyiapkan fisik, istirahat dan tidur yang cukup dan tentunya makan dulu sebelum berangkat.
Jangan lupa membawa bekal air dan sedikit camilan. Rute yang panjang bisa membuat kelelahan yang sangat apalagi bagi mereka yang berisiko tinggi, lansia. Bekal air tidak hanya untuk menghapus dahaga tetapi juga untuk memercikkan kepala saat panas mulai menyerang.
Sejumlah jemaah haji Indonesia di jalur melontar ditemukan atau mendatangi petugas dengan berbagai keluhan. Ada yang kakinya melepuh, terkilir, haus, lapar dan masuk angin. Yang tidak tahu arah jalan pulang jauh lebih banyak.
Medan Mina mengharuskan petugas haji harus lebih kuat dan siaga menghadapi kasus-kasus di lapangan yang tidak terduga. Gemblengan di bimbingan teknis (bimtek) bagi petugas haji di Asrama Haji Pondok Gedhe yang dilaksanakan di dalam bulan Ramadan, ternyata menjadi bekal yang sangat membantu petugas haji menghadapi kondisi di lapangan.
Beratnya Bimtek tidak seberapa dibanding realitas. Petugas haji harus punya inisiatif yang tinggi tidak hanya persiapan fisik tetapi juga obat-obatan yang mungkin dibutuhkan jemaah Indonesia. Seperti salep untuk kaki melepuh, tolak angin, minyak gosok, oralit untuk mereka yang dehirasi dan air mineral baik untuk diri sendiri maupun untuk jemaah.
Petugas haji juga harus siap menyimpan air minum cadangan saat di jamarat. Banyak jemaah Indonesia yang dehidrasi karena kelamaan antre lempar jumrah ula, wustha, aqabah.
Ada juga jemaah di jalur melontar yang meminta pampers. Mungkin dia sudah kebelet buang air kecil sementara pampers yang dipakai sudah penuh dan membutuhkan pengganti.
Kehadiran petugas meringankan masalah yang dihadapi jemaah. Setidaknya ada teman saat tertinggal dari rombongan. Ada yang mengoleskan salep di kaki yang melepuh.
Dan pengabdian petugas haji menjadi wujud kesyukuran sebagaimana makna hakiki Mabit di Muzdalifah dan Mina yang merupakan bukti kesyukuran seluruh jemaah haji atas terealisasinya janji sebagai hamba.
(rca)
Lihat Juga :