Kisah Jatuhnya Damaskus ke Tangan Shalahuddin Al Ayyubi
Sabtu, 22 Juni 2024 - 09:41 WIB
loading...
A
A
A
Mereka lalu menulis surat pada Saifuddin Ghazi -penguasa Moshul- untuk segera menyeberang Sungai Furat agar mereka bisa menyerahkan Damaskus kepadanya. Tetapi Saifuddin tidak memenuhi permintaan itu. Ia takut kalau-kalau surat itu adalah sebuah intrik untuknya agar menyeberangi Sungai Furat menuju Damaskus, sehingga bisa ditangkap dan diperdaya sepupunya bersama bala tentara Halab dari belakang. Maka binasalah ia.
Hal ini digambarkan oleh Zalfandar ‘Izzuddin sebagai orang
bodoh yang selalu menganggap kejahatan dekat dengannya, dan melihat kebodohan sebagai sebuah kepastian. Ia menyatakan sebuah syair yang berbunyi:
“Orang-orang bodoh melihat bahwa kebodohan adalah satu kepastian, dan itulah tabiat orang-orang bodoh”.
Ketika Zalfandar mengungkapkan pendapatnya ini, Saifuddin menerimanya dan urung pergi ke Damaskus. Kemudian ia menulis surat kepada Sa’duddin dan Raja Shalih. Ia mengajak keduanya berdamai atas pendudukannya.
Tatkala Saifuddin menolak untuk menuju Damaskus, keinginan para emir itu menjadi semakin kuat. Mereka berkata: “Jika Saifuddin mengajak mereka berdamai, maka tak ada lagi yang bisa mencegah mereka untuk menyerang kita”.
Lalu mereka menulis surat kepada Shalahuddin al Ayyubi, penguasa Mesir, untuk mengundangnya agar mau menjadi penguasa bagi mereka. Sesepuh para emir itu adalah Syamsuddin Ibn al-
Muqaddam. Ia ibarat ayah bagi Shalahuddin hingga ia tidak akan berbuat aniaya. Kita telah menyebutkan pengorbanan ayahnya dalam penyerahan kota Sinjar pada tahun 544 H.
Ketika kurir telah sampai kepada Shalahuddin dan menyampaikan hal tersebut, Shalahuddin segera berangkat dan mengerahkan 700 orang pasukan berkuda. Padahal pasukan bangsa Eropa sedang dalam perjalanan.
Baca juga: Kisah Kitab Barzanji, Pemenang Sayembara yang Diselenggarakan Shalahuddin Al-Ayyubi
Akan tetapi Shalahuddin tidak mempedulikan. Ketika ia menginjakkan kakinya di Syam, ia ingin menuju Bashori. Penguasa di sana termasuk di antara para emir yang mengirim surat kepadanya. Penguasa itu lalu keluar dan menjumpainya. Ketika ia melihat sedikitnya jumlah tentara Shalahuddin ia menjadi khawatir.
Lalu ia berunding dengan sang penakluk terbaik, dan mengatakan: “Saya tidak melihat tentara bersamamu, padahal
Damaskus adalah sebuah negeri yang besar yang tak bisa dikuasai hanya dengan tentara seperti ini. Seandainya ada orang yang punya waktu luang di siang hari untuk menghentikan kalian, niscaya kalian akan bisa dikalahkannya”.
Hal ini digambarkan oleh Zalfandar ‘Izzuddin sebagai orang
bodoh yang selalu menganggap kejahatan dekat dengannya, dan melihat kebodohan sebagai sebuah kepastian. Ia menyatakan sebuah syair yang berbunyi:
“Orang-orang bodoh melihat bahwa kebodohan adalah satu kepastian, dan itulah tabiat orang-orang bodoh”.
Ketika Zalfandar mengungkapkan pendapatnya ini, Saifuddin menerimanya dan urung pergi ke Damaskus. Kemudian ia menulis surat kepada Sa’duddin dan Raja Shalih. Ia mengajak keduanya berdamai atas pendudukannya.
Tatkala Saifuddin menolak untuk menuju Damaskus, keinginan para emir itu menjadi semakin kuat. Mereka berkata: “Jika Saifuddin mengajak mereka berdamai, maka tak ada lagi yang bisa mencegah mereka untuk menyerang kita”.
Lalu mereka menulis surat kepada Shalahuddin al Ayyubi, penguasa Mesir, untuk mengundangnya agar mau menjadi penguasa bagi mereka. Sesepuh para emir itu adalah Syamsuddin Ibn al-
Muqaddam. Ia ibarat ayah bagi Shalahuddin hingga ia tidak akan berbuat aniaya. Kita telah menyebutkan pengorbanan ayahnya dalam penyerahan kota Sinjar pada tahun 544 H.
Ketika kurir telah sampai kepada Shalahuddin dan menyampaikan hal tersebut, Shalahuddin segera berangkat dan mengerahkan 700 orang pasukan berkuda. Padahal pasukan bangsa Eropa sedang dalam perjalanan.
Baca juga: Kisah Kitab Barzanji, Pemenang Sayembara yang Diselenggarakan Shalahuddin Al-Ayyubi
Akan tetapi Shalahuddin tidak mempedulikan. Ketika ia menginjakkan kakinya di Syam, ia ingin menuju Bashori. Penguasa di sana termasuk di antara para emir yang mengirim surat kepadanya. Penguasa itu lalu keluar dan menjumpainya. Ketika ia melihat sedikitnya jumlah tentara Shalahuddin ia menjadi khawatir.
Lalu ia berunding dengan sang penakluk terbaik, dan mengatakan: “Saya tidak melihat tentara bersamamu, padahal
Damaskus adalah sebuah negeri yang besar yang tak bisa dikuasai hanya dengan tentara seperti ini. Seandainya ada orang yang punya waktu luang di siang hari untuk menghentikan kalian, niscaya kalian akan bisa dikalahkannya”.
Lihat Juga :