Burung-Burung Berangkat dan Kisah Sultan Mahmud dengan Penangkap Ikan

Minggu, 23 Agustus 2020 - 06:34 WIB
loading...
Burung-Burung Berangkat...
Sirmugh. Foto/Ilustrasi/Wikipedia
A A A
Musyawarah Burung (1184-1187) karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )

===

TAKUT dan cemas menimbulkan jerit kepiluan burung-burung itu ketika mereka memandang jalan yang tiada berulung di mana topan pembebasan dari segala yang berbau bumi membelah ruang langit.

Dalam ketakutannya, mereka berdesak-desakan dan minta petunjuk pada Hudhud . Mereka berkata, "Kami tak tahu bagaimana harus menghadap Simurgh dengan hormat-takzim sepatutnya. Tetapi kau pernah hidup di dekat Sulaiman dan tahu sopan santun. Juga kau telah mendaki dan menuruni jalan ini, dan berkali-kali terbang keliling dunia." (Baca juga: Burung Gereja, Kisah Nabi Ya'kub dan Nabi Yusuf )

"Kau imam kami, yang dapat mengikat melepaskan. Kami minta kau kini naik mimbar dan mengajar kami."

"Ceritakan pada kami tentang jalan itu dan tentang istana Raja serta upacara-upacara di sana, karena kami tak ingin memperlihatkan tingkah laku yang dungu."

"Juga segala macam kesulitan timbul dalam pikiran kami, dan untuk perjalanan ini kami perlu bebas dari kecemasan." (Baca Juga: Hudhud: Cinta Mawar Banyak Durinya, Mengusik dan Menguasai)

Banyak pertanyaan yang mesti kami ajukan, dan kami ingin kau akan dapat melenyapkan keragu-raguan kami; jika tidak, kami tak akan dapat melihat dengan jelas di jalan panjang ini."

Hudhud kemudian mengenakan mahkota di kepalanya, duduk di singgasana dan bersiap diri hendak berbicara pada mereka. Ketika pasukan burung-burung berjajar di mukanya dalam barisan, Bulbul dan Perkutut mendekat, dan seperti dua pembaca dengan suara yang sama, mereka memancarkan lagu yang begitu merdu sehingga segala yang mendengar merasa terhanyut. (Baca juga: Merak Kencana serta Kisah Guru dan Murid )

Kemudian satu demi satu, sejumlah burung mendekat padanya untuk bicara tentang berbagai kesulitan dan menyatakan alasan-alasan mereka.

Ucapan Burung Pertama
Burung pertama berkata pada Hudhud, "O kau yang telah diangkat sebagai pemimpin, katakan pada kami apa yang membuat kau lebih dari kami. Karena tampaknya kau pun seperti kami, dan kami seperti kau pula, maka dalam hal mana letak perbedaannya? Dosa raga atau dosa jiwa manakah telah kami lakukan, maka kami bodoh sedang kau memiliki kearifan?"

Hudhud menjawab, "Ketahuilah, o burung, bahwa suatu kali kebetulan Sulaiman melihat aku; dan bahwa nasib baikku bukanlah berkat emas atau perak, tetapi karena pertemuan yang mujur ini. Bagaimana mungkin makhluk mendapat manfaat dari kepatuhan semata? Iblis sendiri pun patuh. Namun, siapa pun yang menasihatkan agar meninggalkan kepatuhan, maka kutuk akan jatuh padanya buat selamanya. Amalkan kepatuhan, maka kau akan berhasil mendapat pandang sekilas dari Sulaiman yang sejati."

Mahmud dan Penangkap Ikan
Sultan Mahmud suatu kali terpisah dari pasukannya, dan benar-benar seorang diri saja menggelepar lari di atas kudanya bagaikan angin. Tak lama kemudian dilihatnya seorang anak laki-laki kecil duduk di tepi sungai menebarkan jalanya. Sultan Mahmud mendekatinya; dan mendapati bahwa anak itu sedih dan murung, maka ia pun berkata, "Anak manis, apa yang membuat kau begitu sedih? Belum pernah kulihat orang semurung itu." "O Pangeran yang tampan," jawab anak itu, "kami ini tujuh bersaudara; kami tak berayah lagi, dan ibu kami amat miskin. Setiap hari hamba datang dan berusaha menangkap ikan buat makan. Hanya bila hamba berhasil menangkap beberapa ekor, kami akan dapat makan malam."

"Bolehkah aku mencoba?" tanya Sultan.

Setelah anak itu memperbolehkan, Sultan pun menebarkan jala, yang karena ikut membantu kemujuran penebarnya, dengan cepat jala itu menarik seratus ekor ikan. Melihat itu, si anak berkata dalam hati, "Nasibku sungguh mengagumkan. Alangkah beruntungnya karena semua ikan ini berguling-guling masuk ke dalam jalaku."

Tetapi Sultan berkata, "Jangan bohongi dirimu sendiri Anakku. Akulah penyebab kemujuranmu. Sultan telah menangkap semua ikan ini untukmu."

Berkata demikian, Sultan pun meloncat ke atas kudanya. Anak itu mohon pada Sultan agar mengambil bagiannya, tetapi Sultan menolak, dengan mengatakan bahwa ia akan mengambil perolehan hari berikutnya. "Esok pagi, kau harus menangkap ikan untukKu," katanya.

Kemudian ia pun kembali ke istananya. Keesokan harinya diperintahkannya seorang perwiranya untuk mengambil anak itu. Setelah mereka tiba, diperintahkannya anak itu duduk di sisinya di atas singgasana.

"Tuanku," kata seorang pegawai istana, "anak ini pengemis!"

"Biarlah," jawab Sultan, "kini ia jadi kawanku. Mengingat bahwa kami telah mengikat persahabatan, tak dapat aku menyuruhnya pergi."

Demikianlah Sultan memperlakukan anak itu sama dengan dirinya. Akhirnya seseorang bertanya pada anak itu, "Bagaimana halnya maka kau begitu dihormati?"

Anak itu menjawab, "Kegembiraan telah datang, dan kesedihan pun berlalu, karena aku bertemu dengan raja yang berbahagia."

Mahmud dan Penebang Kayu
Di saat lain ketika Sultan Mahmud sedang berkuda seorang diri, ia berjumpa dengan pak tua penebang kayu yang sedang menuntun keledainya mengangkut semak-semak duri. Pada saat itu si keledai tersandung, dan ketika hewan itu jatuh, duri-duri pun mengelupas kulit kepala pak tua.

Melihat semak-semak duri yang jatuh di tanah, keledai yang terjungkir balik dan pak tua yang menggosok-gosok kepalanya, Sultan pun bertanya, "O laki-laki malang, adakah kau membutuhkan kawan?"

"Aku benar-benar membutuhkan," jawab penebang kayu itu.(Baca juga: Oh, Kau yang Telah Hidup Berdekatan dengan Raja-Raja, Hati-Hatilah! )

"Perajurit berkuda yang baik, kalau kau mau menolongku, aku akan beruntung dan kau tak akan rugi apa pun. Pandanganmu alamat baik bagiku. Semua tahu sudah bahwa orang akan menemukan rasa-persahabatan dari mereka yang berwajah ramah."

Maka Sultan yang baik hati itu pun turun dan kuda, dan setelah menegakkan kaki keledai, ia pun mengangkat semak-semak duri dan mengikatkannya ke punggung hewan itu. Lalu ia berkendara pergi menggabungkan diri dengan pasukannya kembali. Katanya pada para perajuritnya, "Pak tua penebang kayu akan datang bersama seekor keledai yang mengangkut semak-semak duri. Tutuplah jalan agar ia nanti terpaksa harus lalu di mukaku."

Ketika penebang kayu itu sampai ke tempat para perajurit, berkatalah ia dalam hatinya, "Bagaimana aku akan dapat lalu dengan hewan lemah ini?"

Maka ia pun pergi lewat jalan lain, tetapi melihat payung kebesaran raja di jauhan ia pun mulai gemetar, karena jalan yang terpaksa harus ditempuhnya akan membawa dia berhadapan dengan Sultan. Ketika ia semakin dekat, ia diliputi kebingungan, karena di bawah payung itu dilihatnya wajah yang sudah dikenalnya. "O Tuhan," katanya, "betapa hamba dalam kesulitan! Hari ini hamba harus menghadapi Mahmud sebagai penjaga pintu hamba."

Setelah ia sampai, Mahmud berkata padanya, "Kawanku yang miskin, apa mata pencaharianmu?"

Penebang kayu itu menjawab, "Tuanku sudah maklum. Janganlah berpura-pura. Tuanku tak ingat akan hamba? Hamba pak tua yang miskin, penebang kayu pekerjaan hamba; siang-malam hamba kumpulkan semak-semak duri di gurun, lalu hamba jual, namun keledai hamba mati karena lapar. Jika Tuanku berkenan, beri apalah kiranya barang sekedar roti." (Baca juga: Burung Hantu, Tikus, Si Bakhil, dan Rayuan Emas )

"Kau si miskin," kata Sultan, "Berapa akan kau jual semak-semak durimu?"

Penebang kayu itu menjawab, "Karena Tuanku tak hendak mengambilnya dengan cuma-cuma, dan hamba pun tak hendak menjualnya pula, maka berilah hamba sedompet emas."

Mendengar itu, para perajurit pun berseru, "Tutup mulutmu, pandir! Semak durimu itu tak ada segenggam enjelai pun harganya. Mestinya kauberikan saja cuma-cuma."

Pak Tua itu berkata, "Itu memang betul, tetapi nilainya sudah berubah. Ketika seorang yang berbahagia seperti Sultan menjamah ikatan duri-duriku, maka jadilah semuanya itu berkas-berkas mawar. Kalau Sultan hendak membelinya, maka harganya paling tidak satu dinar, karena Sultan telah menaikkan nilainya seratus kali dengan menjamahnya." (Baca juga: Nuri, Si Penggila Tuhan, dan Khizr )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
5 Mitos Aurora Borealis,...
5 Mitos Aurora Borealis, Roh-Roh di Cahaya Utara!
Dataran Tinggi Ontong...
Dataran Tinggi Ontong Java Mengalami Perubahan Besar Akibat Aktivitas Vulkanik
Kekayaan Elon Musk Orang...
Kekayaan Elon Musk Orang Terkaya di Dunia, Cuma Setengah Harta Mansa Musa
Artikel Terkini
Jelang 1 Muharram, Ulama...
Jelang 1 Muharram, Ulama Anjurkan Minum Susu Putih Sebelum Subuh, Ini Alasannya
Asal-usul Nama Suro...
Asal-usul Nama Suro Asyura? Simak Penjelasannya di Sini!
Benarkah Muharram atau...
Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam
Malam 1 Suro dan Muharram:...
Malam 1 Suro dan Muharram: Sejarah, Tradisi, serta Keutamaannya dalam Islam
Samakah 1 Muharram dengan...
Samakah 1 Muharram dengan 1 Suro? Simak Penjelasannya di Sini!
3 Puasa Sunnah Muharram...
3 Puasa Sunnah Muharram yang Pahala Tidak Main-main!
Infografis
10 Kota Israel Dihuni...
10 Kota Israel Dihuni Banyak Umat Islam, Ada yang 99% Muslim
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved