Burung Hantu, Tikus, Si Bakhil, dan Rayuan Emas
Selasa, 18 Agustus 2020 - 06:16 WIB
loading...
Burung hantu.Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Musyawarah Burung karya Faridu'd-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim atau Attar (1184-1187) dalam gaya sajak alegoris ini, melambangkan kehidupan dan ajaran kaum sufi . Judul asli: Mantiqu't-Thair dan diterjemahan Hartojo Andangdjaja dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). (Baca juga: Faridu'd-Din Attar Pencipta Musyawarah Burung )
==
BURUNG Hantu tampil ke depan dengan wajah kebingungan, dan katanya, "Telah kupilih sebagai tempat tinggalku sebuah rumah bobrok yang sudah runtuh. Aku dilahirkan di antara reruntuhan itu dan di sana kudapatkan kesenangan -- tetapi tidak dalam minum anggur."
"Aku pun tahu beratus-ratus tempat yang ramai dihuni, tetapi sebagian ada dalam kekacauan dan yang lain dalam permusuhan. Siapa ingin hidup dengan tenteram mesti pergi ke tempat reruntuhan, seperti orang-orang gila."
"Bila aku merengut di antara mereka, ini disebabkan harta terpendam. Cinta harta menarikku ke sana, karena harta itu terdapat di antara puing-puing runtuhan." (Baca juga: Oh, Kau yang Telah Hidup Berdekatan dengan Raja-Raja, Hati-Hatilah! )
"Aku pun dapat menyembunyikan usahaku yang penuh damba dalam mencari itu, dan berharap akan mendapatkan harta yang tak dilindungi jejimat itu; jika nanti kakiku dapat menemukannya, maka akan tercapailah keinginan hatiku."
"Aku memang percaya bahwa cinta terhadap Simurgh itu bukan dongengan, karena cinta demikian tak dihayati oleh mereka yang tak peduli; tetapi aku ini lemah, dan jauh dari merasa pasti akan cintanya, karena aku hanya mencintai harta dan reruntuhan ini." (Baca juga: Merak Kencana serta Kisah Guru dan Murid )
Berkata Hudhud padanya, "O kau yang mabuk karena cinta akan harta, taruhlah kau dapat menemukan harta itu! Maka tentulah kau akan mati pula di atas harta itu, sedang hidup telah menyelinap pergi sebelum kau mencapai tujuan mulia yang setidak-tidaknya telah kausadari pula."
(Baca Juga: Hudhud: Cinta Mawar Banyak Durinya, Mengusik dan Menguasai)
"Cinta akan emas ialah ciri mereka yang tak beriman. Ia yang membuat berhala emas ialah kembaran Thare. Bukankah kau barangkali ingin menjadi pengikut As-Samiri dari bangsa Israil yang membuat anak lembu dari emas?" (Baca juga: Nuri, Si Penggila Tuhan, dan Khizr )
"Tidakkah kau tahu bahwa barangsiapa telah dirusakkan akhlaknya oleh cinta akan emas, maka seperti mata uang palsu ia akan bertukar wajah dengan yang serupa tikus, pada hari kiamat nanti?" (Baca juga: Humayun Si Mujur, Kisah Sultan Mahmud dan Orang Alim )
==
BURUNG Hantu tampil ke depan dengan wajah kebingungan, dan katanya, "Telah kupilih sebagai tempat tinggalku sebuah rumah bobrok yang sudah runtuh. Aku dilahirkan di antara reruntuhan itu dan di sana kudapatkan kesenangan -- tetapi tidak dalam minum anggur."
"Aku pun tahu beratus-ratus tempat yang ramai dihuni, tetapi sebagian ada dalam kekacauan dan yang lain dalam permusuhan. Siapa ingin hidup dengan tenteram mesti pergi ke tempat reruntuhan, seperti orang-orang gila."
"Bila aku merengut di antara mereka, ini disebabkan harta terpendam. Cinta harta menarikku ke sana, karena harta itu terdapat di antara puing-puing runtuhan." (Baca juga: Oh, Kau yang Telah Hidup Berdekatan dengan Raja-Raja, Hati-Hatilah! )
"Aku pun dapat menyembunyikan usahaku yang penuh damba dalam mencari itu, dan berharap akan mendapatkan harta yang tak dilindungi jejimat itu; jika nanti kakiku dapat menemukannya, maka akan tercapailah keinginan hatiku."
"Aku memang percaya bahwa cinta terhadap Simurgh itu bukan dongengan, karena cinta demikian tak dihayati oleh mereka yang tak peduli; tetapi aku ini lemah, dan jauh dari merasa pasti akan cintanya, karena aku hanya mencintai harta dan reruntuhan ini." (Baca juga: Merak Kencana serta Kisah Guru dan Murid )
Berkata Hudhud padanya, "O kau yang mabuk karena cinta akan harta, taruhlah kau dapat menemukan harta itu! Maka tentulah kau akan mati pula di atas harta itu, sedang hidup telah menyelinap pergi sebelum kau mencapai tujuan mulia yang setidak-tidaknya telah kausadari pula."
(Baca Juga: Hudhud: Cinta Mawar Banyak Durinya, Mengusik dan Menguasai)
"Cinta akan emas ialah ciri mereka yang tak beriman. Ia yang membuat berhala emas ialah kembaran Thare. Bukankah kau barangkali ingin menjadi pengikut As-Samiri dari bangsa Israil yang membuat anak lembu dari emas?" (Baca juga: Nuri, Si Penggila Tuhan, dan Khizr )
"Tidakkah kau tahu bahwa barangsiapa telah dirusakkan akhlaknya oleh cinta akan emas, maka seperti mata uang palsu ia akan bertukar wajah dengan yang serupa tikus, pada hari kiamat nanti?" (Baca juga: Humayun Si Mujur, Kisah Sultan Mahmud dan Orang Alim )
Lihat Juga :