3 Makna Tentang Allah Mengkhususkan Ibadah Puasa Untuk-Nya
Sabtu, 02 Mei 2020 - 04:05 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, juga dikatakan: makna “sebab ia hanyalah untukKu dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung ”, yaitu puasa merupakan amalan batin yang hakikatnya tidak diketahui kecuali Allah ta’ala, dan orang yang melakukannya sendiri. Puasa merupakan ibadah yang berbentuk niat dalam hati. Berbeda dengan semua amalan lainnya, yang bisa dilihat dan nampak oleh mata orang lain.
Adapun puasa, maka ia lebih pada amalan yang bersifat rahasia antara hamba dan Rabb-nya, sebab itu dalam riwayat lain disebutkan:
« الصوم لي وأنا أجزي به ، إنه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي »
“Puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung, sebab ia telah meninggalkan hawa nafsu, makan, dan minumnya karena-Ku”.
Tentunya meninggalkan hawa nafsu, dan makan semata-mata karena Allah, merupakan amalan batin, dan niat yang tersembunyi, tidak diketahui kecuali oleh Allah.
Ini berbeda dengan sedekah, salat, haji, dan amalan-amalan lahir lainnya. Amalan-amalan ini bisa dilihat oleh orang lain. Sementara puasa tidak bisa dilihat oleh seorangpun karena hakikat puasa tidak hanya sebatas meninggalkan makan dan minum atau semua jenis pembatal puasa, namun lebih dari itu ialah harus benar-benar ikhlas dan sungguh-sungguh. Dan ini tentunya tidak bisa diketahui kecuali Allah Azza wa Jalla. Sebab itu, redaksi hadis : “sebab ia telah meninggalkan hawa nafsu, makan, dan minumnya karena-Ku” merupakan penjelasan dari hadis: “puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung”.
Ketiga, di antara ulama ada yang mengatakan bahwa makna hadis : “puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung“ yaitu puasa tidaklah dimasuki oleh dosa kesyirikan. Amalan lain bisa saja dimasuki kesyirikan, dan dipersembahkan kepada selain Allah seperti nadzar, menyembelih hewan, dan jenis ibadah lainnya seperti doa, rasa takut, raja (harapan). Kaum musyrikin seringkali beribadah pada tuhan sesembahan mereka selain Allah dengan ibadah-ibadah seperti ini, kecuali puasa.
Tidak ada satu kaum musyrikpun yang menyatakan bahwa ia berpuasa untuk berhala, dan tuhan-tuhan sesembahan mereka selain Allah, sebab puasa merupakan ibadah khusus untuk Allah ta’ala.
Ringkasnya, makna : “puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung” adalah bahwa puasa tidak dimasuki oleh jenis kesyirikan, sebab tidak ada satu musyrikpun yang menyatakan bahwa ia berpuasa untuk berhala, dan tuhan-tuhan sesembahan mereka selain Allah ta’ala. Wallaahu a’lam.
Adapun puasa, maka ia lebih pada amalan yang bersifat rahasia antara hamba dan Rabb-nya, sebab itu dalam riwayat lain disebutkan:
« الصوم لي وأنا أجزي به ، إنه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي »
“Puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung, sebab ia telah meninggalkan hawa nafsu, makan, dan minumnya karena-Ku”.
Tentunya meninggalkan hawa nafsu, dan makan semata-mata karena Allah, merupakan amalan batin, dan niat yang tersembunyi, tidak diketahui kecuali oleh Allah.
Ini berbeda dengan sedekah, salat, haji, dan amalan-amalan lahir lainnya. Amalan-amalan ini bisa dilihat oleh orang lain. Sementara puasa tidak bisa dilihat oleh seorangpun karena hakikat puasa tidak hanya sebatas meninggalkan makan dan minum atau semua jenis pembatal puasa, namun lebih dari itu ialah harus benar-benar ikhlas dan sungguh-sungguh. Dan ini tentunya tidak bisa diketahui kecuali Allah Azza wa Jalla. Sebab itu, redaksi hadis : “sebab ia telah meninggalkan hawa nafsu, makan, dan minumnya karena-Ku” merupakan penjelasan dari hadis: “puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung”.
Ketiga, di antara ulama ada yang mengatakan bahwa makna hadis : “puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung“ yaitu puasa tidaklah dimasuki oleh dosa kesyirikan. Amalan lain bisa saja dimasuki kesyirikan, dan dipersembahkan kepada selain Allah seperti nadzar, menyembelih hewan, dan jenis ibadah lainnya seperti doa, rasa takut, raja (harapan). Kaum musyrikin seringkali beribadah pada tuhan sesembahan mereka selain Allah dengan ibadah-ibadah seperti ini, kecuali puasa.
Tidak ada satu kaum musyrikpun yang menyatakan bahwa ia berpuasa untuk berhala, dan tuhan-tuhan sesembahan mereka selain Allah, sebab puasa merupakan ibadah khusus untuk Allah ta’ala.
Ringkasnya, makna : “puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung” adalah bahwa puasa tidak dimasuki oleh jenis kesyirikan, sebab tidak ada satu musyrikpun yang menyatakan bahwa ia berpuasa untuk berhala, dan tuhan-tuhan sesembahan mereka selain Allah ta’ala. Wallaahu a’lam.
(mhy)
Lihat Juga :