Ini Luas Tanah Palestina yang Dicaplok Pemukim Israel setelah Operasi Badai Al-Aqsa
Minggu, 21 Juli 2024 - 12:13 WIB
loading...
Sejak perjanjian Oslo 1995 Tepi Barat telah dibagi menjadi tiga zona: Zone A,B dan C. Ilustrasi: AL Jazeera
A
A
A
Pemukim Yahudi Israel yang dipersenjatai mengusir warga Palestina dari Tepi Barat lalu merampok tanah dan membakar habis rumah-rumah mereka. Peace Now mengungkap, Israel telah menyita tanah Palestina seluas 23,7 km persegi pasca- Operasi Badai Al-Aqsa Hamas , 7 Oktober 2023.
Menteri Keuangan Israel yang berhaluan sayap kanan, Bezalel Smotrich, dan Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, mempersenjatai para pemukim Yahudi itu.
Operasi Badai Al-Aqsa yang digelar Hamas pada 7 Oktober 2023, seakan menawarkan lingkungan politik yang kondusif bagi Israel untuk mencuri sebagian besar tanah Palestina.
Peace Now, sebuah organisasi nirlaba yang memantau penyitaan tanah di Tepi Barat, mengungkap Israel telah menyita 23,7 km persegi tanah Palestina ketika perang Israel di Jalur Gaza, yang menewaskan sedikitnya 38.848 warga Palestina, sebagian besar adalah perempuan. dan anak-anak, telah terbunuh dan 89.459 orang terluka, lanjutnya.
Baca juga: PM Israel Netanyahu Akan Caplok Tepi Barat
Pada saat itu, komunitas internasional tak lagi memprotes pelanggaran hukum internasional yang dilakukan mereka. Perhatian dunia tercurah ke serangan Israel di Jalur Gaza.
Hal ini menjadikan tahun 2024 sebagai tahun puncak perampasan tanah oleh Israel selama tiga dekade terakhir.
Menurut Al Jazeera, tentara dan pemukim Israel telah membuat 1.285 warga Palestina pemilik tanah itu menjadi mengungsi. Mereka juga menghancurkan 641 bangunan, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Setidaknya 15 wilayah pertanian Palestina dihancurkan, sementara warga sipil dari beberapa wilayah lainnya mengungsi akibat serangan pemukim Yahudi. Banyak dari para petani ini terpaksa mengungsi sementara di kota-kota terdekat di Tepi Barat.
Sejak Perjanjian Oslo tahun 1993, yang ditandatangani oleh pemimpin Palestina saat itu Yasser Arafat dengan Perdana Menteri Israel saat itu Yitzhak Rabin di halaman Gedung Putih, Tepi Barat telah dibagi menjadi tiga zona.
Menteri Keuangan Israel yang berhaluan sayap kanan, Bezalel Smotrich, dan Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, mempersenjatai para pemukim Yahudi itu.
Operasi Badai Al-Aqsa yang digelar Hamas pada 7 Oktober 2023, seakan menawarkan lingkungan politik yang kondusif bagi Israel untuk mencuri sebagian besar tanah Palestina.
Peace Now, sebuah organisasi nirlaba yang memantau penyitaan tanah di Tepi Barat, mengungkap Israel telah menyita 23,7 km persegi tanah Palestina ketika perang Israel di Jalur Gaza, yang menewaskan sedikitnya 38.848 warga Palestina, sebagian besar adalah perempuan. dan anak-anak, telah terbunuh dan 89.459 orang terluka, lanjutnya.
Baca juga: PM Israel Netanyahu Akan Caplok Tepi Barat
Pada saat itu, komunitas internasional tak lagi memprotes pelanggaran hukum internasional yang dilakukan mereka. Perhatian dunia tercurah ke serangan Israel di Jalur Gaza.
Hal ini menjadikan tahun 2024 sebagai tahun puncak perampasan tanah oleh Israel selama tiga dekade terakhir.
Menurut Al Jazeera, tentara dan pemukim Israel telah membuat 1.285 warga Palestina pemilik tanah itu menjadi mengungsi. Mereka juga menghancurkan 641 bangunan, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Setidaknya 15 wilayah pertanian Palestina dihancurkan, sementara warga sipil dari beberapa wilayah lainnya mengungsi akibat serangan pemukim Yahudi. Banyak dari para petani ini terpaksa mengungsi sementara di kota-kota terdekat di Tepi Barat.
Sejak Perjanjian Oslo tahun 1993, yang ditandatangani oleh pemimpin Palestina saat itu Yasser Arafat dengan Perdana Menteri Israel saat itu Yitzhak Rabin di halaman Gedung Putih, Tepi Barat telah dibagi menjadi tiga zona.
Lihat Juga :