Kisah Paus Urbanus II Mengincar Yerusalem: Islam Jadi Musuh Bersama
Kamis, 25 Juli 2024 - 15:09 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Sejarah Perang Salib Pertama, Jatuhnya Yerusalem ke Tangan Pasukan Kristen
Perdagangan pada masa itu memakai dua jalur. Jalur pertama adalah jalur darat. Jalur darat digunakan orang-orang Eropa ketika melakukan perdagangan ke Timur Tengah dengan melewati daerah Balkan di Eropa Timur, kemudian singgah di Konstantinopel.
Setelah di Konstantinopel, para pedagang melewati Selat Bosporus, kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri Anatolia. Jika sudah sampai Aleppo maka tanda-tanda kehidupan Timur Tengah dengan komoditas dagang dari Afrika, Arab, India, bahkan Cina telah tersedia.
Dari Aleppo para pedagang akan meneruskan perjalanan ke kota utama yaitu Damaskus, atau juga berkunjung di tempat bersejarah bagi dunia Kristen seperti Nazaret, Betlehem, Yerikho, dan Yerusalem.
Pada waktu itu para pedagang dibedakan dengan pegawai pemerintah atau tentara, jadi selama mereka membayar pajak, maka aman bagi mereka untuk masuk ke wilayah mana pun walau kerajaan sedang bersitegang dengan daerah tujuan atau daerah yang dilewati.
Sedangkan lewat jalur laut, para pedagang Eropa berangkat dari Venesia menuju Acre untuk menuju Yerusalem, kemudian melanjutkan ke Damaskus atau ke kota-kota sekitarnya.
Baca juga: Perang Salib di Era Dinasti Fatimiyah: Makna Yerusalem bagi Umat Kristen
Diana Webb dalam bukunya berjudul "Medieval European Pilgrimage C. 700-C. 1500" menjelaskan selain Acre, orang-orang Eropa juga berdagang ke Alexandria di Mesir yang merupakan pelabuhan yang ramai pada waktu itu.
Dari aktivitas perdagangan tersebut, keadaaan Yerusalem dapat diketahui dengan baik. Pertama dari segi keamanan karena di Yerusalem terdapat tiga agama yang hidup berdampingan dengan jumlah pengikut yang sama besar dan sama kuat.
Pemerintahan Islam Yerusalem di bawah Khalifah Rasyidin , Kekhalifahan Umayah , Kekhalifahan Abbasiyah , hingga dikuasai Kekhalifahan Fatimiyah dan di bawah bayang-bayang militer
Turki Seljuk, tetap dalam kondisi aman dan damai.
Perdagangan pada masa itu memakai dua jalur. Jalur pertama adalah jalur darat. Jalur darat digunakan orang-orang Eropa ketika melakukan perdagangan ke Timur Tengah dengan melewati daerah Balkan di Eropa Timur, kemudian singgah di Konstantinopel.
Setelah di Konstantinopel, para pedagang melewati Selat Bosporus, kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri Anatolia. Jika sudah sampai Aleppo maka tanda-tanda kehidupan Timur Tengah dengan komoditas dagang dari Afrika, Arab, India, bahkan Cina telah tersedia.
Dari Aleppo para pedagang akan meneruskan perjalanan ke kota utama yaitu Damaskus, atau juga berkunjung di tempat bersejarah bagi dunia Kristen seperti Nazaret, Betlehem, Yerikho, dan Yerusalem.
Pada waktu itu para pedagang dibedakan dengan pegawai pemerintah atau tentara, jadi selama mereka membayar pajak, maka aman bagi mereka untuk masuk ke wilayah mana pun walau kerajaan sedang bersitegang dengan daerah tujuan atau daerah yang dilewati.
Sedangkan lewat jalur laut, para pedagang Eropa berangkat dari Venesia menuju Acre untuk menuju Yerusalem, kemudian melanjutkan ke Damaskus atau ke kota-kota sekitarnya.
Baca juga: Perang Salib di Era Dinasti Fatimiyah: Makna Yerusalem bagi Umat Kristen
Diana Webb dalam bukunya berjudul "Medieval European Pilgrimage C. 700-C. 1500" menjelaskan selain Acre, orang-orang Eropa juga berdagang ke Alexandria di Mesir yang merupakan pelabuhan yang ramai pada waktu itu.
Dari aktivitas perdagangan tersebut, keadaaan Yerusalem dapat diketahui dengan baik. Pertama dari segi keamanan karena di Yerusalem terdapat tiga agama yang hidup berdampingan dengan jumlah pengikut yang sama besar dan sama kuat.
Pemerintahan Islam Yerusalem di bawah Khalifah Rasyidin , Kekhalifahan Umayah , Kekhalifahan Abbasiyah , hingga dikuasai Kekhalifahan Fatimiyah dan di bawah bayang-bayang militer
Turki Seljuk, tetap dalam kondisi aman dan damai.
Lihat Juga :