Kisah Rabi', Pemuda Saleh yang Membuat Wanita Cantik Bertobat
Senin, 24 Agustus 2020 - 16:52 WIB
loading...
A
A
A
Ia lalu bergegas ke belakang mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam. "Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak terbiasa minum dengan berdiri," kata wanita itu sambil memegang cangkir.
Rabi' agak ragu, namun mempersilakan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya.
Ia lalu merayu Rabi' dengan kecantikannya. Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu, "Wahai saudari, Allah berfirman, 'Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya". Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?"
"Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh parut busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti ini?"
"Saudariku, seandainya saat ini Malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada Malaikat Munkar dan Nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di Padang Mahsyar kelak?"
Suara Rabi' yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi' mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh.
Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi' dipenuhi rasa takut kepada Allah Ta'ala.
Perkataan Rabi' itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah.
Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi' kaget mendengar wanita itu bertobat . Mereka mengatakan, "Malaikat apa yang menemani Rabi'. Kita ingin menyeret Rabi' berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi' yang membuat wanita itu bertobat !"
Rasa takut kepada Allah yang terbit dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah Ta'ala. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat . Ia terus salat, bertasbih, berzikir dan puasa. Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat.
Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir. Semoga bermanfaat. (Baca Juga: Nasehat Mahal dan Menyentuh dari Tabiin Syaikh Ar-Rabi bin Khutsaim )
Ponpes Sultan Fatah Semarang
Rabi' agak ragu, namun mempersilakan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya.
Ia lalu merayu Rabi' dengan kecantikannya. Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu, "Wahai saudari, Allah berfirman, 'Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya". Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?"
"Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh parut busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti ini?"
"Saudariku, seandainya saat ini Malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada Malaikat Munkar dan Nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di Padang Mahsyar kelak?"
Suara Rabi' yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi' mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh.
Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi' dipenuhi rasa takut kepada Allah Ta'ala.
Perkataan Rabi' itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah.
Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi' kaget mendengar wanita itu bertobat . Mereka mengatakan, "Malaikat apa yang menemani Rabi'. Kita ingin menyeret Rabi' berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi' yang membuat wanita itu bertobat !"
Rasa takut kepada Allah yang terbit dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah Ta'ala. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat . Ia terus salat, bertasbih, berzikir dan puasa. Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat.
Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir. Semoga bermanfaat. (Baca Juga: Nasehat Mahal dan Menyentuh dari Tabiin Syaikh Ar-Rabi bin Khutsaim )
Ponpes Sultan Fatah Semarang
(rhs)
Lihat Juga :