Nasehat Mahal dan Menyentuh dari Tabiin Syaikh Ar-Rabi bin Khutsaim

Kamis, 25 Juni 2020 - 13:15 WIB
loading...
Nasehat Mahal dan Menyentuh...
Mari kita sambut panggilan Allah, ujar Ar-Rabi begitu mendengar azan. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
Ar-Rabi bin Khutsaim adalah salah satu ulama tabiin yang utama dan satu di antara delapan orang yang dikenal paling zuhud di masanya. Dr Abdurrahman Ra'fat Basya dalam Mereka adalah Para Tabiin menyebut beliau adalah orang Arab asli, suku Mudhar dan silsilahnya bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (SAW) pada kakeknya, Ilyas dan Mudhar. (Baca juga: Tangis Si Kecil di Tengah Malam yang Mengaduk-aduk Perasaan Bunda )

Beliau adalah murid dari Abdullah bin Mas'ud, sahabat Rasulullah SAW. Kecintaan guru terhadap muridnya laksana kasih sayang seorang ibu terhadap anak tunggalnya. Ar-Rabi biasa keluar masuk rumah gurunya tanpa harus meminta izin. Bila dia datang, maka yang lain tidak diizinkan masuk sebelum ar-Rabi keluar.

Ibnu Mas'ud merasakan ketulusan dan keikhlasan ar-Rabi. Kebagusan ibadahnya yang memancar kuat di hatinya, rasa kecewanya lantaran tertinggal dari zaman Nabi, sehingga tidak mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu sahabat beliau.

"Tidakkah sebaiknya kuantarkan engkau kepada syaikh agar kita bisa menambah keimanan sesaat?" ajak Hilal bin Isaf kepada tamunya yang bernama Mundzir ats-Tsauri, suatu ketika. Syaikh yang dimaksud adalah Syaikh Ar-Rabi bin Khutsaim.

Baca juga: Kisah Tabiin Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni

"Baik, aku setuju," jawab Mundzir antusias. "Demi Allah, tiada yang mendorong aku datang ke Kufah ini melainkan karena ingin bertemu dengan gurumu, Rabi bin Khutsaim dan rindu untuk bisa tinggal sesaat dalam taman iman bersamanya. Akan tetapi apakah engkau sudah minta izin kepadanya? Kudengar dia menderita penyakit rematik sehingga tidak keluar rumah dan enggan menerima tamu?"

Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging

"Memang begitulah orang-orang Kufah mengenalnya, sakitnya itu tidak mengubahnya barang sedikit pun," ujar Hilal.

"Baiklah. Tetapi Anda tahu bahwa syaikh ini memiliki perasaan yang halus, apakah menurut Anda kita layak mendahului bicara dan bertanya sesuka kita? Atau kita diam saja menunggu beliau mulai bicara?" tanya Mundzir ragu.

Baca juga: Makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz Digali dan Dihancurkan

"Andaikata engkau duduk bersama Rabi bin Khutsaim selama setahun lamanya, maka dia tidak akan bicara apapun kecuali jika engkau yang mulai berbicara dan akan terus diam bila tidak kau dahului dengan pertanyaan. Sebab dia menjadikan ucapannya sebagai zikir dan diamnya untuk berpirkir," jelas Hilal.

"Kalau begitu, marilah kita mendatanginya dengan barakah Allah Subhanahu wa Taala," ajak Mundzir setuju.

Kemudian pergilah mereka berkedua ke rumah syaikh itu. Setelah memberi salam, mereka bertanya, "Bagaimana kabar Anda pagi ini wahai syaikh?"

"Dalam keadaan lemah, penuh dosa, memakan rezeki-Nya, dan menanti ajalnya," jawab Ar-Rabi.

"Sekarang di Kufah ini ada tabib yang handal. Apakah syaikh mengizinkan kami memanggilnya untuk Anda?" ujar Hilal.

Baca juga: Kisah Tabi’in Amir bin Abdillah At-Tamimi (1)

"Wahai Hilal, aku tahu bahwa obat itu adalah benar-benar berkhasiat. Tetapi aku belajar dari kaum Aad, Tsamud, penduduk Rass dan abad-abad di antara mereka. Telah kudapati bahwa mereka sangat gandrung dengan dunia, rakus dengan segala perhiasannya. Keadaan mereka lebih kuat dan lebih ahli dari kita. Di tengah-tengah mereka banyak tabib, namun tetap saja ada yang sakit. Akhirnya tak tersisa lagi yang mengobati maupun yang diobati karena binasa," jawab Ar-Rabi. Beliau kemudian menghela nafas panjang dan berkata, "seandainya itulah penyakitnya, tentulah aku akan berobat."

Baca juga: Di Kaki Ka'bah, Tatkala Khalifah Meminta Fatwa dari Bekas Budak

"Kalau demikian, apa penyakit yang Anda derita wahai Syaikh?" tanya Mundzir.

"Penyakitnya adalah dosa-dosa," jawabnya.

"Lantas, apa obatnya?" tanya Mundzir lagi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Kisah Hikmah : Rumah...
Kisah Hikmah : Rumah dan Tamunya yang Mencari Jalan
Kisah Hikmah : Roti...
Kisah Hikmah : Roti dan Permata, Ketika Takdir Telah Campur Tangan
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Wafat Seorang Diri dan Kelak Dibangkitkan Sendirian
Nasihat Penuh Hikmah...
Nasihat Penuh Hikmah Tabi'in Hasan Al-Bashri kepada Pejabat Tinggi
Tokoh-tokoh Tabiin yang...
Tokoh-tokoh Tabiin yang Melakukan Ijtihad sebelum Mazhab-Mazhab
Rekomendasi
Lukisan Rembrandt Lebih...
Lukisan Rembrandt Lebih Mematikan dari Mona Lisa, Ini Penyebabnya
Bukti DNA Mengungkap...
Bukti DNA Mengungkap Asal-usul Penduduk Asli Amerika yang Mengejutkan
2 Gletser Besar yang...
2 Gletser Besar yang Jika Mencair Menjadi Ancaman Nyata Penduduk Bumi
Artikel Terkini
Asal Usul Nama Surat...
Asal Usul Nama Surat Al-Baqarah: Kisah Sapi Betina yang Mengungkap Misteri Pembunuhan
Ayat-ayat Istimewa Surat...
Ayat-ayat Istimewa Surat Al Baqarah : Mengapa Ayat 255 Disebut Ayat Kursi?
Asbabun Nuzul 2 Ayat...
Asbabun Nuzul 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Kisah Turunnya Ayat yang Menenangkan Para Sahabat
Bacaan 2 Ayat Terakhir...
Bacaan 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah dan 3 Manfaatnya yang Dahsyat
Rahasia 2 Ayat Terakhir...
Rahasia 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Dibaca Malam Hari, Pahalanya Luar Biasa
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Infografis
Politikus Muslim Mulai...
Politikus Muslim Mulai Kuasai Politik AS, Sinyal Kebangkitan Islam di Paman Sam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved