Dampak Harta dan Makanan Haram, Rugi Dunia dan Akhirat
Senin, 29 Juli 2024 - 10:31 WIB
loading...
Segala sesuatu yang diharamkan agama, pasti tidak baik hasilnya. Karena segala sesuatu yang haram akan mempengaruhi doa, kesehatan, dan amalan kebaikan. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Segala sesuatu yang diharamkan agama, pasti tidak baik hasilnya. Karena segala sesuatu yang haram akan mempengaruhi doa, kesehatan, dan amalan kebaikan. Bahkan dampak lebih jauhnya, di akhirat kelak dari daging yang berasal dari yang haram itu tidak akan bisa masuk surga.
Karena itu, dalam Islam rezeki dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal saleh.
Allah SWT berfirman:
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( QS. Al Mu’minun : 51).
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim menjelaskan bahwa Sa’id bin Jubair dan Adh Dhahak mengatakan yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal.
Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul untuk memakan makanan yang halal dan beramal saleh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal saleh.
Oleh karena itu, para Nabi benar-benar memperhatikan bagaimana memperoleh yang halal . Para Nabi mencontohkan pada kita kebaikan dengan perkataan, amalan, teladan dan nasihat.
Nabi SAW bersabda,
Karena itu, dalam Islam rezeki dan makanan yang halal adalah bekal dan sekaligus pengobar semangat untuk beramal saleh.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( QS. Al Mu’minun : 51).
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim menjelaskan bahwa Sa’id bin Jubair dan Adh Dhahak mengatakan yang dimaksud makanan yang thoyyib adalah makanan yang halal.
Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul untuk memakan makanan yang halal dan beramal saleh. Penyandingan dua perintah ini adalah isyarat bahwa makanan halal adalah pembangkit amal saleh.
Oleh karena itu, para Nabi benar-benar memperhatikan bagaimana memperoleh yang halal . Para Nabi mencontohkan pada kita kebaikan dengan perkataan, amalan, teladan dan nasihat.
Nabi SAW bersabda,
إِنَّ الْخَيْرَ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ أَوَ خَيْرٌ هُوَ
Lihat Juga :