Perlukah Bukti tentang Adanya Hari Akhir? Begini Penjelasan Quraish Shihab
Sabtu, 10 Agustus 2024 - 05:15 WIB
loading...
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Perlukah bukti tentang adanya hari akhir ? Kehidupan sesudah mati pasti adanya. Bukankah makhluk yang termulia adalah makhluk yang berjiwa? Bukankah yang termulia di antara mereka adalah yang memiliki kehendak dan kebebasan memilih? Kemudian yang termulia dari kelompok ini adalah yang mampu melihat jauh ke depan, serta mempertimbangkan dampak kehendak dan pilihan-pilihannya.
"Demikian logika kita berkata," tulis Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Dari sini pula, katanya, jiwa manusia memulai pertanyaan-pertanyaan baru. Sudahkah semua orang melihat dan merasakan akibat perbuatan-perbuatannya yang didasarkan oleh kehendak dan pilihannya itu?
Sudahkah yang berbuat baik memetik buah perbuatannya? Sudahkah yang berbuat jahat menerima nista kejahatannya?
Baca juga: Menghadapi Datangnya Hari Akhir, Apa yang Harus Dipersiapkan?
"Jelas tidak, atau belum, bahkan alangkah banyak manusia-manusia baik yang dicambuk oleh kehidupan dengan cemeti-cemetinya, dan alangkah banyak pula orang-orang jahat yang disuapi oleh dunia dengan kenikmatan-kenikmatannya," lanjut Quraish.
Kemah-kemah para perusak sangat menyenangkan. Mereka yang mendurhakai Tuhan (tampak) tenang. Ini semua
dilihat oleh mataku, didengar oleh telingaku dan kuketahui sepenahnya.
Demikian Nabi Ayyub as yang mengalami kepahitan hidup mengeluh kepada Tuhan.
Karena itu, demi tegaknya keadilan, harus ada satu kehidupan baru di mana semua pihak akan memperoleh secara adil dan sempurna hasil-hasil perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing. Itu sebabnya Al-Quran menamai hidup di akhirat sebagai al-hayawan yang berarti "hidup yang sempurna"; dan kematian dinamainya wafat yang arti harfiahnya adalah "kesempurnaan."
Sekian banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan hakikat di atas, antara lain:
"Demikian logika kita berkata," tulis Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Dari sini pula, katanya, jiwa manusia memulai pertanyaan-pertanyaan baru. Sudahkah semua orang melihat dan merasakan akibat perbuatan-perbuatannya yang didasarkan oleh kehendak dan pilihannya itu?
Sudahkah yang berbuat baik memetik buah perbuatannya? Sudahkah yang berbuat jahat menerima nista kejahatannya?
Baca juga: Menghadapi Datangnya Hari Akhir, Apa yang Harus Dipersiapkan?
"Jelas tidak, atau belum, bahkan alangkah banyak manusia-manusia baik yang dicambuk oleh kehidupan dengan cemeti-cemetinya, dan alangkah banyak pula orang-orang jahat yang disuapi oleh dunia dengan kenikmatan-kenikmatannya," lanjut Quraish.
Kemah-kemah para perusak sangat menyenangkan. Mereka yang mendurhakai Tuhan (tampak) tenang. Ini semua
dilihat oleh mataku, didengar oleh telingaku dan kuketahui sepenahnya.
Demikian Nabi Ayyub as yang mengalami kepahitan hidup mengeluh kepada Tuhan.
Karena itu, demi tegaknya keadilan, harus ada satu kehidupan baru di mana semua pihak akan memperoleh secara adil dan sempurna hasil-hasil perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing. Itu sebabnya Al-Quran menamai hidup di akhirat sebagai al-hayawan yang berarti "hidup yang sempurna"; dan kematian dinamainya wafat yang arti harfiahnya adalah "kesempurnaan."
Sekian banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan hakikat di atas, antara lain:
Lihat Juga :