4 Dalil Al-Qur'an tentang Hari Akhir: Membungkam Kaum Musyrik
Sabtu, 10 Agustus 2024 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
(c) Menciptakan manusia dan menghidupkannya setelah kematiannya, (lebih mudah bagi Allah) daripada menciptakan alam raya yang sebelumnya tidak pernah ada. Ini dipahami dari firman-Nya: Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu?
(d) Untuk menciptakan dan atau melakukan sesuatu, betapa pun besar dan agungnya ciptaan itu, bagi Tuhan tidak diperlukan adanya waktu atau materi. Ini jelas berbeda dengan makhluk yang selalu membutuhkan keduanya. Hal ini bisa dipahami dari firman-Nya: Jadilah, maka terjadilah ia.
Baca juga: Menghadapi Datangnya Hari Akhir, Apa yang Harus Dipersiapkan?
Manusia mana yang mampu dengan fasafah manusia, menghimpun (informasi) dalam ucapan sebanyak huruf-huruf ayat diatas, sebagaimana yang telah dihimpun oleh Allah untuk Rasul-Nya Saw.
Demikian komentar filosof Al-Kindi tentang ayat-ayat di atas.
Kedua, surat Al-Isra' yang menguraikan bagaimana pembuktian tentang kepastian hari kiamat -pada akhirnya ditemukan sendiri melalui tuntunan Al-Quran- oleh mereka yang tadinya meragukannya. Gaya ini digunakan oleh Al-Quran agar manusia merasa bahwa ia ikut berperan dalam menemukan satu kebenaran dan dengan demikian ia merasa memilikinya serta bertanggung jawab untuk mempertahankannya.
(Mereka bertanya), "Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, masih dapat dibangkitkan kembali sebagai makhluk-makhluk yang baru?" Katakanlah, "Jadilah kalian batu, atau besi, atau apa saja yang menuntut pikiran kalian lebih mustahil untuk diciptakan kembali." Maka mereka akan bertanya, "Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah, "Yang telah menciptakan kamu pada kali pertama."
Lalu mereka akan menggeng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata, "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah, "Boleh jadi (dalam waktu) dekat" ( QS Al-Isra' [17] : 49-51).
Al-Quran -yang bermaksud melibatkan manusia dalam penemuan keyakinan tentang hari kebangkitan ini- tidak menjawab pertanyaan kaum musyrik tadi degan "ya" atau "tidak". "Tetapi, diajukan-Nya suatu problem baru yang belum terlintas dalam benak si penanya, yaitu dengan pernyataan yang diperintahkan kepada Nabi Saw. untuk disampaikan seperti terbaca di atas," tulisProf Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Baca juga: Bukti-Bukti Keniscayaan Hari Akhir Menurut Al-Qur'an
Seakan-akan penggalan kata tersebut berbunyi, "Bagaimana seandainya setelah kematian nanti kalian bukan menjadi tulang-belulang yang pernah mengalami hidup, tetapi batu-batu atau besi-besi atau makhluk apa saja yang sama sekali belum pernah mengalami 'hidup' dan menurut kalian lebih mustahil untuk dihidupkan?" Pada saat itu Al-Quran mengajak akal mereka mengajukan pertanyaan yang mereka ajukan semula, "Siapakah yang akan menghidupkan itu semua kembali?"
Jawabannya adalah, "Dia yang pertama kali mewujudkannya sebelum tadinya ia tiada." Bukankah mewujudkan sesuatu yang pernah mengalami "hidup" lebih mudah daripada mewujudkan sesuatu yang belum pernah berwujud sama sekali.
(d) Untuk menciptakan dan atau melakukan sesuatu, betapa pun besar dan agungnya ciptaan itu, bagi Tuhan tidak diperlukan adanya waktu atau materi. Ini jelas berbeda dengan makhluk yang selalu membutuhkan keduanya. Hal ini bisa dipahami dari firman-Nya: Jadilah, maka terjadilah ia.
Baca juga: Menghadapi Datangnya Hari Akhir, Apa yang Harus Dipersiapkan?
Manusia mana yang mampu dengan fasafah manusia, menghimpun (informasi) dalam ucapan sebanyak huruf-huruf ayat diatas, sebagaimana yang telah dihimpun oleh Allah untuk Rasul-Nya Saw.
Demikian komentar filosof Al-Kindi tentang ayat-ayat di atas.
Kedua, surat Al-Isra' yang menguraikan bagaimana pembuktian tentang kepastian hari kiamat -pada akhirnya ditemukan sendiri melalui tuntunan Al-Quran- oleh mereka yang tadinya meragukannya. Gaya ini digunakan oleh Al-Quran agar manusia merasa bahwa ia ikut berperan dalam menemukan satu kebenaran dan dengan demikian ia merasa memilikinya serta bertanggung jawab untuk mempertahankannya.
(Mereka bertanya), "Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, masih dapat dibangkitkan kembali sebagai makhluk-makhluk yang baru?" Katakanlah, "Jadilah kalian batu, atau besi, atau apa saja yang menuntut pikiran kalian lebih mustahil untuk diciptakan kembali." Maka mereka akan bertanya, "Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah, "Yang telah menciptakan kamu pada kali pertama."
Lalu mereka akan menggeng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata, "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah, "Boleh jadi (dalam waktu) dekat" ( QS Al-Isra' [17] : 49-51).
Al-Quran -yang bermaksud melibatkan manusia dalam penemuan keyakinan tentang hari kebangkitan ini- tidak menjawab pertanyaan kaum musyrik tadi degan "ya" atau "tidak". "Tetapi, diajukan-Nya suatu problem baru yang belum terlintas dalam benak si penanya, yaitu dengan pernyataan yang diperintahkan kepada Nabi Saw. untuk disampaikan seperti terbaca di atas," tulisProf Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007).
Baca juga: Bukti-Bukti Keniscayaan Hari Akhir Menurut Al-Qur'an
Seakan-akan penggalan kata tersebut berbunyi, "Bagaimana seandainya setelah kematian nanti kalian bukan menjadi tulang-belulang yang pernah mengalami hidup, tetapi batu-batu atau besi-besi atau makhluk apa saja yang sama sekali belum pernah mengalami 'hidup' dan menurut kalian lebih mustahil untuk dihidupkan?" Pada saat itu Al-Quran mengajak akal mereka mengajukan pertanyaan yang mereka ajukan semula, "Siapakah yang akan menghidupkan itu semua kembali?"
Jawabannya adalah, "Dia yang pertama kali mewujudkannya sebelum tadinya ia tiada." Bukankah mewujudkan sesuatu yang pernah mengalami "hidup" lebih mudah daripada mewujudkan sesuatu yang belum pernah berwujud sama sekali.
Lihat Juga :