Kehidupan Akhirat Dimulai dengan Peniupan Sangkakala, Begini Penjelasannya
Rabu, 14 Agustus 2024 - 09:24 WIB
loading...
A
A
A
Adapun yang diberikan kepadanya kitabnya dari arah kirinya, maka dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab (perhitungan) terhadap diriku. Aduhai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak memberi manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaan dariku" ( QS Al-Haqqah [69] : 19-29).
Dari mahsyar (tempat berkumpul), manusia menuju surga atau neraka. Beberapa ayat dalam Al-Quran menginformasikan bahwa dalam perjalanan ke sana mereka melalui apa yang dinamai "shirath" .
"Antarlah mereka (hai malaikat) menuju Shirath Al-Jahim" ( QS Al-Shaffat [37] : 23).
Dalam konteks pembicaraan tentang hari akhirat, Allah berfirman: Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskanpenglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba(mencari) ash-shirath (jalan). Maka, bagaimana merekadapat melihatnya? (QS Ya Sin [36]: 66).
Baca juga: Akhir Zaman! Dajjal Berkuasa Selama 40 Hari Sebelum Sangkakala Ditiup
Di sisi lain Allah menegaskan pula bahwa: Dan tidak seorang pun di antara kamu kecualimelewatinya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalahsuatu kemestian yang sudah ditetapkan-Nya. KemudianKami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa danmembiarkan orang-orang yang zalim, di dalam nerakadalam keadaan berlutut (QS Maryam [19]: 71-72).
Berdasar ayat-ayat tersebut, kata Quraish, sementara ulama berpendapat bahwa ada yang dinamai "shirath" -berupa jembatan yang harus dilalui setiap orang menuju surga. Di bawah jalan (jembatan) itu terdapat neraka dengan segala tingkatannya. Orang-orang mukmin akan melewatinya dengan kecepatan sesuai dengan kualitas ketakwaan mereka. Ada yang melewatinya bagaikan kilat, atau seperti angin berhembus, atau secepat lajunya kuda; dan ada juga yang merangkak, tetapi akhirnya tiba juga.
Sedangkan orang-orang kafir akan menelusurinya pula tetapi mereka jatuh ke neraka di tingkat yang sesuai dengan kedurhakaan mereka.
Konon shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang, Demikian kata Abu Sa'id sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Para ulama khususnya kelompok Mu'tazilah yang sangat rasional menolak keberadaan shirath dalam pengertian material di atas, lebih-lebih melukiskannya "dengan sehelai rambut di belah tujuh". Memang, melukiskannya seperti itu, paling tidak, bertentangan dengan pengertian kebahasaan dari kata shirath.
Baca juga: Kisah Tobat Imam Ibnu Aqil dari Paham Mu'tazilah
Kata tersebut berasal dari kata saratha yang arti harfiahnya adalah "menelan". Kata shirath antara lain diartikan "jalan yang lebar", yang karena lebarnya maka seakan-akan ia menelan setiap yang berjalan di atasnya.
Betapapun, pada akhirnya hanya ada dua tempat, surga atau neraka. Pembahasan tentang surga dan neraka, kita tangguhkan sampai dengan kesempatan lain. Ini disebabkan karena luasnya jangkauan ayat-ayat Al-Quran yang membicarakannya. Bukan saja uraian tentang aneka kenikmatan dan siksanya, tetapi sampai kepada rincian peristiwa-peristiwa yang digambarkan Al-Quran menyangkut perorangan atau kelompok, dan lain sebagainya.
Dari mahsyar (tempat berkumpul), manusia menuju surga atau neraka. Beberapa ayat dalam Al-Quran menginformasikan bahwa dalam perjalanan ke sana mereka melalui apa yang dinamai "shirath" .
"Antarlah mereka (hai malaikat) menuju Shirath Al-Jahim" ( QS Al-Shaffat [37] : 23).
Dalam konteks pembicaraan tentang hari akhirat, Allah berfirman: Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskanpenglihatan mata mereka, lalu mereka berlomba-lomba(mencari) ash-shirath (jalan). Maka, bagaimana merekadapat melihatnya? (QS Ya Sin [36]: 66).
Baca juga: Akhir Zaman! Dajjal Berkuasa Selama 40 Hari Sebelum Sangkakala Ditiup
Di sisi lain Allah menegaskan pula bahwa: Dan tidak seorang pun di antara kamu kecualimelewatinya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalahsuatu kemestian yang sudah ditetapkan-Nya. KemudianKami menyelamatkan orang-orang yang bertakwa danmembiarkan orang-orang yang zalim, di dalam nerakadalam keadaan berlutut (QS Maryam [19]: 71-72).
Berdasar ayat-ayat tersebut, kata Quraish, sementara ulama berpendapat bahwa ada yang dinamai "shirath" -berupa jembatan yang harus dilalui setiap orang menuju surga. Di bawah jalan (jembatan) itu terdapat neraka dengan segala tingkatannya. Orang-orang mukmin akan melewatinya dengan kecepatan sesuai dengan kualitas ketakwaan mereka. Ada yang melewatinya bagaikan kilat, atau seperti angin berhembus, atau secepat lajunya kuda; dan ada juga yang merangkak, tetapi akhirnya tiba juga.
Sedangkan orang-orang kafir akan menelusurinya pula tetapi mereka jatuh ke neraka di tingkat yang sesuai dengan kedurhakaan mereka.
Konon shirath itu lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang, Demikian kata Abu Sa'id sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Para ulama khususnya kelompok Mu'tazilah yang sangat rasional menolak keberadaan shirath dalam pengertian material di atas, lebih-lebih melukiskannya "dengan sehelai rambut di belah tujuh". Memang, melukiskannya seperti itu, paling tidak, bertentangan dengan pengertian kebahasaan dari kata shirath.
Baca juga: Kisah Tobat Imam Ibnu Aqil dari Paham Mu'tazilah
Kata tersebut berasal dari kata saratha yang arti harfiahnya adalah "menelan". Kata shirath antara lain diartikan "jalan yang lebar", yang karena lebarnya maka seakan-akan ia menelan setiap yang berjalan di atasnya.
Betapapun, pada akhirnya hanya ada dua tempat, surga atau neraka. Pembahasan tentang surga dan neraka, kita tangguhkan sampai dengan kesempatan lain. Ini disebabkan karena luasnya jangkauan ayat-ayat Al-Quran yang membicarakannya. Bukan saja uraian tentang aneka kenikmatan dan siksanya, tetapi sampai kepada rincian peristiwa-peristiwa yang digambarkan Al-Quran menyangkut perorangan atau kelompok, dan lain sebagainya.
(mhy)
Lihat Juga :