Hari Akhirat: Ini Buah Kepercayaan tentang Hari Kebangkitan
Kamis, 15 Agustus 2024 - 15:50 WIB
loading...
Kata ad-din dalam surat ini secara sangat populer, diartikan dengan agama, tetapi ad-din dapat juga berarti pembalasan. Ilustrasi: SINDOnews
A
A
A
Al-Quran menghendaki agar keyakinan akan adanya hari akhir mengantar manusia untuk melakukan aktivitas-aktivitas positif dalam kehidupannya, walaupun aktivitas itu tidak menghasilkan keuntungan materi dalam kehidupan dunianya. Salah satu surat yang berbicara tentang hal ini adalah surat Al-Ma'un (107) .
Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007) menjelaskan bahwa dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan atau Abu Jahal , yang setiap minggu menyembelih seekor unta.
Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, namun ia tidak diberi bahkan dihardik dan diusir.
Baca juga: Asbabun Nuzul Surat Al Maun dan Keutamaannya
Surat Al-Ma'un dimulai dengan satu pertanyaan: "Tahukah kamu orang yang mendustakan ad-din?"
Kata ad-din dalam surat ini, kata Quraish, secara sangat populer, diartikan dengan agama, tetapi ad-din dapat juga berarti pembalasan.
Dengan demikian yukadzdzibu biddin dapat pula berarti mengingkari hari pembalasan atau hari akhir. Pendapat terakhir ini didukung oleh pengamatan yang menunjukkan bahwa Al-Quran bila menggandengkan kata ad-din dengan yukadzdzibu, maka konteknya adalah pengingkaran terhadap hari kiamat. Perhatikan surat Al-Infithar (82) : 9 dan juga surat Al-Tin (95) : 7.
Kemudian, menurut Quraish, kalau kita kaitkan makna terakhir ini dengan sikap mereka yang enggan membantu anak yatim atau orang miskin karena menduga bahwa bantuannya kepada mereka tidak menghasilkan apa-apa, maka itu berarti bahwa pada hakikatnya sikap mereka itu adalah sikap orang-orang yang tidak percaya akan adanya (hari) pembalasan.
Bukankah yang percaya meyakini bahwa kalaulah bantuan yang diberikannya tidak menghasilkan sesuatu di dunia, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak?
Baca juga: Inilah Para Pendusta Agama Menurut Penjelasan Surat Al-Maun
Bukankah yang percaya hari kemudian meyakini bahwa Allah tidak menyia-nyiakan amal baik seseorang, betapa pun kecilnya?
Quraish mengatakan seseorang yangg kehidupannya dikuasai oleh kekinian dan kedisinian, tidak akan memandang ke hari kemudian yang berada di depan sana. Sikap demikian merupakan pengingkaran atau pendustaan ad-din, baik dalam arti "agama", lebih-lebih lagi dalam arti hari kemudian.
Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" (Mizan, 2007) menjelaskan bahwa dalam beberapa riwayat, dikemukakan bahwa surat tersebut turun berkenaan dengan Abu Sufyan atau Abu Jahal , yang setiap minggu menyembelih seekor unta.
Suatu ketika, seorang anak yatim datang kepadanya meminta sedikit daging yang telah disembelih itu, namun ia tidak diberi bahkan dihardik dan diusir.
Baca juga: Asbabun Nuzul Surat Al Maun dan Keutamaannya
Surat Al-Ma'un dimulai dengan satu pertanyaan: "Tahukah kamu orang yang mendustakan ad-din?"
Kata ad-din dalam surat ini, kata Quraish, secara sangat populer, diartikan dengan agama, tetapi ad-din dapat juga berarti pembalasan.
Dengan demikian yukadzdzibu biddin dapat pula berarti mengingkari hari pembalasan atau hari akhir. Pendapat terakhir ini didukung oleh pengamatan yang menunjukkan bahwa Al-Quran bila menggandengkan kata ad-din dengan yukadzdzibu, maka konteknya adalah pengingkaran terhadap hari kiamat. Perhatikan surat Al-Infithar (82) : 9 dan juga surat Al-Tin (95) : 7.
Kemudian, menurut Quraish, kalau kita kaitkan makna terakhir ini dengan sikap mereka yang enggan membantu anak yatim atau orang miskin karena menduga bahwa bantuannya kepada mereka tidak menghasilkan apa-apa, maka itu berarti bahwa pada hakikatnya sikap mereka itu adalah sikap orang-orang yang tidak percaya akan adanya (hari) pembalasan.
Bukankah yang percaya meyakini bahwa kalaulah bantuan yang diberikannya tidak menghasilkan sesuatu di dunia, maka pasti ganjaran atau balasan perbuatannya akan diperoleh di akhirat kelak?
Baca juga: Inilah Para Pendusta Agama Menurut Penjelasan Surat Al-Maun
Bukankah yang percaya hari kemudian meyakini bahwa Allah tidak menyia-nyiakan amal baik seseorang, betapa pun kecilnya?
Quraish mengatakan seseorang yangg kehidupannya dikuasai oleh kekinian dan kedisinian, tidak akan memandang ke hari kemudian yang berada di depan sana. Sikap demikian merupakan pengingkaran atau pendustaan ad-din, baik dalam arti "agama", lebih-lebih lagi dalam arti hari kemudian.
Lihat Juga :