Isi Kitab Barzanji Memiliki Kemiripan dengan Tradisi Syiah
Senin, 16 September 2024 - 08:56 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan di Kurdistan, terdapat sebuah wilayah yang bernama Syahrazur, tempat dilahirkannya ulama-ulama Syafii yang kelak memiliki nama besar, salah satunya adalah Ibrahim al-Kurani. Banyak orang-orang Indonesia yang belajar kepada ulama-ulama asal Syahrazur ini di Mekkah dan Madinah. Keluarga Barzanji (yakni keluarga asal Jafar Barzanji), adalah keluarga ulama ternama yang juga berasal dari Syahrazur ini.
Baca juga: Peringatan Maulid Nabi SAW, Diambil dari Tradisi Syiah?
Syiah Zaidiyah
Dalam sejarahnya, Syiah Zaidiyah didirikan oleh Imam Zaid bin Ali Zainal-Abidin. Beliau salah satu Imam Ahlul Bait (keluarga Nabi), yang merupakan cucu Khalifah Ali bin Abi Thalib dari jalur Husain. Ulama yang lahir antara tahun 75–80 ini hidup di masa yang sama dengan Imam Abu Hanifah.
Tentang kecerdasannya, Imam Abu Hanifah berkata: “Aku tidak melihat ada yang lebih pintar dari Imam Zaid di zamannya, dan juga tidak menemukan orang yang bisa secepat Imam Zaid dalam menjawab pertanyaan, serta lugas penjelasannya”.
Meski Imam Zaid dimasukkan sebagai salah satu tokoh Syiah, namun pandangannya sangat berbeda dengan Syiah lainnya. Umumnya kelompok Syiah menempatkan Khalifah Abu Bakar dan Umar sebagai perampas kekuasaan. Tetapi Imam Zaid sebaliknya, menentang pendapat tersebut.
Ketika itu sekelompok orang Syiah yang sangat membenci Abu Bakar dan Umar berkata,“Wahai Imam (Zaid), Tabarro’ (berlepas diri lah!) dari Abu Bakar dan Umar (maksudnya, lepaskan diri dari penghormatan kepada Abu Bakar dan Umar). Kalau kau sudah ber-tabarro’ dari keduanya, kami akan membaiat anda wahai Imam!”
Imam Zaid dengan tegas menjawab: “Tidak! Aku tidak akan berlepas diri dari mereka berdua (Abu Bakar dan Umar)”. Mereka menanggapi: “kalau gitu, kami menolakmu (Rafdh)”.
Imam Zaid tanpa basa basi menjawab,”Baik, pergilah kalian. Kalian semua adalah penolak/penentang! (Rafidhah)”
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Ali bin Ibrahim Al-Halabi dalam "Al-Sirah Al-Halabiyah" menyebut sejak saat itulah istilah ‘rafidhah’ digunakan bagi mereka yang membenci dan menentang Abu Bakar dan Umar bin Khattab . Dan nama ‘zaidiyah’ digunakan bagi mereka yang mengikuti Imam Zaid dalam pandangannya terhadap Abu Bakar dan Umar.
Al-Ustadz Muhammad Al-Khudhari Bik dalam "Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami" mengatakan lantaran faktor inilah mazhab ini diterima oleh para ulama Ahlu Sunnah. Mereka sama sekali tidak menghina Shaikhan; Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Hanya saja lebih mendahulukan atau mengutamakan Ali bin Abi Thalib ketimbang keduanya.
Demikian juga dalam masalah nikah mut’ah (kawin kontrak) yang umumnya diakui oleh kalangan Syiah. Zaidiyah ini malah menentang dan tidak membenarkannya sebagaimana Ahlu Sunnah.
Baca juga: Peringatan Maulid Nabi SAW, Diambil dari Tradisi Syiah?
Syiah Zaidiyah
Dalam sejarahnya, Syiah Zaidiyah didirikan oleh Imam Zaid bin Ali Zainal-Abidin. Beliau salah satu Imam Ahlul Bait (keluarga Nabi), yang merupakan cucu Khalifah Ali bin Abi Thalib dari jalur Husain. Ulama yang lahir antara tahun 75–80 ini hidup di masa yang sama dengan Imam Abu Hanifah.
Tentang kecerdasannya, Imam Abu Hanifah berkata: “Aku tidak melihat ada yang lebih pintar dari Imam Zaid di zamannya, dan juga tidak menemukan orang yang bisa secepat Imam Zaid dalam menjawab pertanyaan, serta lugas penjelasannya”.
Meski Imam Zaid dimasukkan sebagai salah satu tokoh Syiah, namun pandangannya sangat berbeda dengan Syiah lainnya. Umumnya kelompok Syiah menempatkan Khalifah Abu Bakar dan Umar sebagai perampas kekuasaan. Tetapi Imam Zaid sebaliknya, menentang pendapat tersebut.
Ketika itu sekelompok orang Syiah yang sangat membenci Abu Bakar dan Umar berkata,“Wahai Imam (Zaid), Tabarro’ (berlepas diri lah!) dari Abu Bakar dan Umar (maksudnya, lepaskan diri dari penghormatan kepada Abu Bakar dan Umar). Kalau kau sudah ber-tabarro’ dari keduanya, kami akan membaiat anda wahai Imam!”
Imam Zaid dengan tegas menjawab: “Tidak! Aku tidak akan berlepas diri dari mereka berdua (Abu Bakar dan Umar)”. Mereka menanggapi: “kalau gitu, kami menolakmu (Rafdh)”.
Imam Zaid tanpa basa basi menjawab,”Baik, pergilah kalian. Kalian semua adalah penolak/penentang! (Rafidhah)”
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Ali bin Ibrahim Al-Halabi dalam "Al-Sirah Al-Halabiyah" menyebut sejak saat itulah istilah ‘rafidhah’ digunakan bagi mereka yang membenci dan menentang Abu Bakar dan Umar bin Khattab . Dan nama ‘zaidiyah’ digunakan bagi mereka yang mengikuti Imam Zaid dalam pandangannya terhadap Abu Bakar dan Umar.
Al-Ustadz Muhammad Al-Khudhari Bik dalam "Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami" mengatakan lantaran faktor inilah mazhab ini diterima oleh para ulama Ahlu Sunnah. Mereka sama sekali tidak menghina Shaikhan; Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Hanya saja lebih mendahulukan atau mengutamakan Ali bin Abi Thalib ketimbang keduanya.
Demikian juga dalam masalah nikah mut’ah (kawin kontrak) yang umumnya diakui oleh kalangan Syiah. Zaidiyah ini malah menentang dan tidak membenarkannya sebagaimana Ahlu Sunnah.
(mhy)