Peringatan Maulid Nabi SAW, Diambil dari Tradisi Syiah?
Sabtu, 09 Oktober 2021 - 17:02 WIB
loading...
Setidaknya ada tiga versi tentang asal mula peringatan maulid Nabi SAW. (Ilustrasi:Ist)
A
A
A
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah dilaksanakan sejak ribuan tahun lalu oleh Umat Islam di dunia. Setidaknya ada tiga versi tentang asal mula peringatan maulid ini. Benarkan tradisi ini sebagai tradisi Syiah ?
Baca juga: Sambut Rabiul Awal, Ini Keutamaan Merayakan Maulid Nabi
Dalam buku berjudul Pro dan Kontra Maulid Nabi karya AM Waskito disebutkan tiga versi tersebut.
Pertama, perayaan Maulid pertama kali diadakan oleh Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidhah). Dinasti ini berkuasa di Mesir pada tahun 362 sampai dengan 567 Hijriyah.
Maulid mula-mula diselenggarakan di era kepemimpinan Abu Tamim yang memiliki gelar Al-Muiz Dinillah. Tidak hanya Maulid Nabi Muhammad SAW saja yang mereka peringati, ada juga hari lainnya, yaitu peringatan Asyura, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Hasan dan Husain, dan Maulid Fathimah binti Rasulullah.
Kedua, peringatan Maulid dari kalangan Sunni pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, gubernur Irbil di Irak. Sultan Abu Said hidup pada tahun 549-630 H. Pada saat peringatan Maulid beliau mengundang para ulama, ahli tasawuf, ilmuwan, dan seluruh rakyatnya. Beliau menjamu tamu dengan hidangan makanan, berbagi hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin.
Ketiga, peringatan Maulid pertama kali diselenggarakan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi (567-622 H), penguasa dinasti Ayyub (di bawah kekuasaan Daulah Abbassiyah). Tujuannya adalah untuk meningkatkan semangat jihad umat Islam pada saat Perang Salib dan merebut Yerusalem dari kerajaan Salibis.
Baca juga: Antisipasi Kasus Baru Covid-19, Kemenag Geser Libur Maulid Nabi Muhammad SAW
Manakah versi yang benar? Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan orang yang pertama kali merintis peringatan Maulid ini adalah penguasa Irbil, Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukabri bin Zainuddin bin Baktatin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun masjid Al-Jami’ Al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun.
Apabila dilihat dari jalannya sejarah, menurut Waskito, ketiga versi di atas bisa dihubungkan. Kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi di Mesir dimulai ketika Dinasti Ubaid sudah runtuh.
Baca juga: Sambut Rabiul Awal, Ini Keutamaan Merayakan Maulid Nabi
Dalam buku berjudul Pro dan Kontra Maulid Nabi karya AM Waskito disebutkan tiga versi tersebut.
Pertama, perayaan Maulid pertama kali diadakan oleh Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidhah). Dinasti ini berkuasa di Mesir pada tahun 362 sampai dengan 567 Hijriyah.
Maulid mula-mula diselenggarakan di era kepemimpinan Abu Tamim yang memiliki gelar Al-Muiz Dinillah. Tidak hanya Maulid Nabi Muhammad SAW saja yang mereka peringati, ada juga hari lainnya, yaitu peringatan Asyura, Maulid Ali bin Abi Thalib, Maulid Hasan dan Husain, dan Maulid Fathimah binti Rasulullah.
Kedua, peringatan Maulid dari kalangan Sunni pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri, gubernur Irbil di Irak. Sultan Abu Said hidup pada tahun 549-630 H. Pada saat peringatan Maulid beliau mengundang para ulama, ahli tasawuf, ilmuwan, dan seluruh rakyatnya. Beliau menjamu tamu dengan hidangan makanan, berbagi hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin.
Ketiga, peringatan Maulid pertama kali diselenggarakan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi (567-622 H), penguasa dinasti Ayyub (di bawah kekuasaan Daulah Abbassiyah). Tujuannya adalah untuk meningkatkan semangat jihad umat Islam pada saat Perang Salib dan merebut Yerusalem dari kerajaan Salibis.
Baca juga: Antisipasi Kasus Baru Covid-19, Kemenag Geser Libur Maulid Nabi Muhammad SAW
Manakah versi yang benar? Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan orang yang pertama kali merintis peringatan Maulid ini adalah penguasa Irbil, Malik Al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukabri bin Zainuddin bin Baktatin, salah seorang raja yang mulia, agung dan dermawan. Beliau memiliki peninggalan dan jasa-jasa yang baik, dan dialah yang membangun masjid Al-Jami’ Al-Muzhaffari di lereng gunung Qasiyun.
Apabila dilihat dari jalannya sejarah, menurut Waskito, ketiga versi di atas bisa dihubungkan. Kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi di Mesir dimulai ketika Dinasti Ubaid sudah runtuh.
Lihat Juga :