Kisah Utsman bin Affan Melanjutkan Politik Pembebasan Umar bin Khattab
Jum'at, 11 Oktober 2024 - 19:50 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Utsman bin Affan tentang Umar bin Khattab: Batinnya Lebih Baik Ketimbang Lahirnya
Perselisihan orang-orang Arab yang tinggal di Basrah dan Kufah masih berkepanjangan. Dari kedua kota itu masing-masing mau cepat-cepat mendukung pejabat Khalifah di kota itu, sehingga dalam mengangkat pejabat-pejabatnya Umar sering mengatakan: "Cobalah kemukakan suatu cara yang dapat saya gunakan untuk memperbaiki masyarakat dalam menggantikan seorang pejabat."
Ketika itu Yazdigird raja Persia masih tinggal di Fergana, ibu kota Turki di Samarkand sedang menunggu-nunggu kesempatan untuk kembali ke negerinya dan memerangi Muslimin.
Romawi pun yang keadaannya sudah agak tenang di ibu kota Konstantinopel, juga sedang menunggu kesempatan untuk mengadakan balas dendam dan serangan baru ke Syam dan Mesir.
Di samping semua itu belum hilang dari ingatan bahwa pasukan Muslimin di berbagai daerah di kawasan Persia, di Barqah (Cyrenaica) dan di selatan Mesir selalu siap siaga untuk menghadapi musuh dalam perang reguler atau yang semacam perang urat saraf.
Utsman sendiri tidak akan lalai mengenai hal ini. Sebagian besar perhatiannya harus ditujukan ke sana. Soalnya, peristiwa-peristiwa itu tidak mengharuskan Umar dengan politik pembebasannya di perbatasan-perbatasan yang sudah berada dalam perjanjian perdamaian dengan musuh-musuhnya itu - Persia dan Romawi - untuk menghormatinya.
Baca juga: Ini Jabatan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan ketika Abu Bakar Menjadi Khalifah
Menurut Haekal, terpaksa kondisi itu memaksa Utsman meneruskan politik itu, yang sampai pada waktu Umar bin Khattab terbunuh, pasukannya masih bertahan di ujung perbatasan-perbatasan Persia dan Mesir.
Khalifah tidak seharusnya akan merombak itu, kalau tidak, seluruh Kedaulatan akan terancam runtuh. Berjaga-jaga terhadap keadaan demikian merupakan beban yang luar biasa beratnya yang harus dihadapi oleh Khalifah ketiga, begitu ia dibaiat.
Pihak Persia dan Romawi tahu keadaan pihak Arab yang akan membuat beban itu terasa makin berat.
Perselisihan orang-orang Arab yang tinggal di Basrah dan Kufah masih berkepanjangan. Dari kedua kota itu masing-masing mau cepat-cepat mendukung pejabat Khalifah di kota itu, sehingga dalam mengangkat pejabat-pejabatnya Umar sering mengatakan: "Cobalah kemukakan suatu cara yang dapat saya gunakan untuk memperbaiki masyarakat dalam menggantikan seorang pejabat."
Ketika itu Yazdigird raja Persia masih tinggal di Fergana, ibu kota Turki di Samarkand sedang menunggu-nunggu kesempatan untuk kembali ke negerinya dan memerangi Muslimin.
Romawi pun yang keadaannya sudah agak tenang di ibu kota Konstantinopel, juga sedang menunggu kesempatan untuk mengadakan balas dendam dan serangan baru ke Syam dan Mesir.
Di samping semua itu belum hilang dari ingatan bahwa pasukan Muslimin di berbagai daerah di kawasan Persia, di Barqah (Cyrenaica) dan di selatan Mesir selalu siap siaga untuk menghadapi musuh dalam perang reguler atau yang semacam perang urat saraf.
Utsman sendiri tidak akan lalai mengenai hal ini. Sebagian besar perhatiannya harus ditujukan ke sana. Soalnya, peristiwa-peristiwa itu tidak mengharuskan Umar dengan politik pembebasannya di perbatasan-perbatasan yang sudah berada dalam perjanjian perdamaian dengan musuh-musuhnya itu - Persia dan Romawi - untuk menghormatinya.
Baca juga: Ini Jabatan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan ketika Abu Bakar Menjadi Khalifah
Menurut Haekal, terpaksa kondisi itu memaksa Utsman meneruskan politik itu, yang sampai pada waktu Umar bin Khattab terbunuh, pasukannya masih bertahan di ujung perbatasan-perbatasan Persia dan Mesir.
Khalifah tidak seharusnya akan merombak itu, kalau tidak, seluruh Kedaulatan akan terancam runtuh. Berjaga-jaga terhadap keadaan demikian merupakan beban yang luar biasa beratnya yang harus dihadapi oleh Khalifah ketiga, begitu ia dibaiat.
Pihak Persia dan Romawi tahu keadaan pihak Arab yang akan membuat beban itu terasa makin berat.
Lihat Juga :