Kisah Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur Membasmi Pemberontakan Kaum Syiah
Sabtu, 19 Oktober 2024 - 19:00 WIB
loading...
A
A
A
Terbunuhnya Muhammad bin Abdullah menjadikan tiga golongan yang sangat berjasa dan mempunya andil dalam gerakan mendirikan Daulah Abbasiyah, telah berakhir di tangan khalifah al-Mansur.
Sebenarnya kepergian mereka sangat menghimpit batin khalifah, akan tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali hal itu demi menyelamatkan Daulah Abbasiyah.
Syamruddin mengatakan jika dilihat dari segi politik, tindakan al-Mansur itu adalah suatu keharusan yang harus dilaksanakan, sebab jika mereka masih dibiarkan hidup akan terjadi kerusuhan di mana mana, dan itu akan mengancam kekuasaan Khalifah dan kelangsungan Daulah Abbasiyah.
"Jadi jika ingin menyelamatkan negara, hal itu harus dilakukan dan di sinilah ketegasan khalifah mengambil sikap," katanya.
Menurut Syamruddin, di antara faktor yang membuat al-Mansur dikatakan sebagai orang yang berperan dalam menegakkan Daulah Abbasiyah, bahkan dikatakan bahwa dialah pendiri yang sebenarnya dari Daulah Abbasiyah itu adalah kemampuannya menciptakan stabilitas pemerintahan.
Pada waktu dia diangkat menjadi khalifah, kekuasaan Daulah Abbasiyah masih goyah, karena dilanda kemelut, perebutan kekuasaan antara dia dengan pamannya Abdullah bin Ali, pada saat itu sebagian besar penduduk wilayah Palestina, Afrika Utara, Syria dan Mesir berpihak kepada Abdullah.
Baca juga: Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur: Dikenal Sangat Kikir, Bergelar Abu Dawaniq
Sementara wilayah timur (Persia) berpihak pada Abu Muslim. Andai kata pasukan Abdullah bersekutu dengan pasukan Abu Muslim, maka Abu Ja’far ketika itu tidak ada apaapanya.
Di sinilah tampaknya letak ketokohan al-Mansur mampu meyakinkan Abu Muslim agar menyerang Abdullah.
Kemudian dia dengan mudah mematahkan perlawanan Abu Muslim dan golongan Syiah. Maka kunci terciptanya stabilitas adalah mengakhiri riwayat tiga golongan itu.
Perlawanan dari tiga golongan tersebut telah dapat ditumpas, kini situasi pemerintahan relatif aman.
Sebenarnya kepergian mereka sangat menghimpit batin khalifah, akan tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali hal itu demi menyelamatkan Daulah Abbasiyah.
Syamruddin mengatakan jika dilihat dari segi politik, tindakan al-Mansur itu adalah suatu keharusan yang harus dilaksanakan, sebab jika mereka masih dibiarkan hidup akan terjadi kerusuhan di mana mana, dan itu akan mengancam kekuasaan Khalifah dan kelangsungan Daulah Abbasiyah.
"Jadi jika ingin menyelamatkan negara, hal itu harus dilakukan dan di sinilah ketegasan khalifah mengambil sikap," katanya.
Menurut Syamruddin, di antara faktor yang membuat al-Mansur dikatakan sebagai orang yang berperan dalam menegakkan Daulah Abbasiyah, bahkan dikatakan bahwa dialah pendiri yang sebenarnya dari Daulah Abbasiyah itu adalah kemampuannya menciptakan stabilitas pemerintahan.
Pada waktu dia diangkat menjadi khalifah, kekuasaan Daulah Abbasiyah masih goyah, karena dilanda kemelut, perebutan kekuasaan antara dia dengan pamannya Abdullah bin Ali, pada saat itu sebagian besar penduduk wilayah Palestina, Afrika Utara, Syria dan Mesir berpihak kepada Abdullah.
Baca juga: Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur: Dikenal Sangat Kikir, Bergelar Abu Dawaniq
Sementara wilayah timur (Persia) berpihak pada Abu Muslim. Andai kata pasukan Abdullah bersekutu dengan pasukan Abu Muslim, maka Abu Ja’far ketika itu tidak ada apaapanya.
Di sinilah tampaknya letak ketokohan al-Mansur mampu meyakinkan Abu Muslim agar menyerang Abdullah.
Kemudian dia dengan mudah mematahkan perlawanan Abu Muslim dan golongan Syiah. Maka kunci terciptanya stabilitas adalah mengakhiri riwayat tiga golongan itu.
Perlawanan dari tiga golongan tersebut telah dapat ditumpas, kini situasi pemerintahan relatif aman.
(mhy)
Lihat Juga :