Syahidnya Yahya Sinwar: Mengenang As-Samah yang Gugur dalam Pertempuran Toulouse
Senin, 21 Oktober 2024 - 18:00 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya, Gubernur as-Samah bin Malik segera mengundang Abdurrahman al-Ghafiqi. Kedatangan tokoh tabi’in tersebut disambut dengan penuh hormat. Kepada Al-Ghafiqi, as-Samah bin Malik menawarkan jabatan untuk menangani wilayah Andalusia.
“Wahai Gubernur, aku hanyalah orang biasa, seperti yang lain," jawab Al-Ghafiqi. "Aku datang ke daerah ini hanya untuk mengetahui batas-batas daerah kaum muslimin dan batas-batas fartah musuh mereka. Aku hanya meniatkan diriku untuk mencari ridla Allah yang Maha Agung, dan aku membawa pedangku ini hanya untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. InsyaAllah Gubernur akan melihatku selalu taat selama engkau menegakkan kebenaran. Aku akan selalu mengikuti perintah Gubernur, selama Anda taat pada perintah Allah dan Rasul -Nya, walaupun aku tidak diberi kekuasaan dan perintah,” lanjutnya.
Tak lama berselang setelah pertemuan itu, Gubernur as-Samah bin Malik, bertekad untuk menaklukkan seluruh wilayah Prancis dan menyatukannya dengan wilayah Negara Islam.
Ketika itu, target berikutnya adalah Toulouse, ibukota Octania. Tanpa membuang-buang waktu, pasukan Islam segera memasang semacam ranjau-ranjau di berbagai tempat, kemudian memulai serangan dengan senjata-senjata yang tidak dikenal di Eropa.
Baca juga: Kisah Perang Yarmuk, Pertempuran Terdahsyat Mengakhiri Kekuasan Romawi
Pada saat yang bersamaan raja Octania bertolak ke Eropa untuk mencari bala bantuan. Dia menyebar utusan-utusan ke seluruh negeri. Dia memprovokasi raja-raja Eropa dengan cara memperingatkan akan bahaya ekspansi Islam yang akan merambat ke wilayah mereka juga. Sehingga kaum wanita dan anak-anak mereka sebagai tawanan. Hasilnya, semua negeri mengirimkan pasukan khususnya lengkap dengan persenjataan yang menjadi andalan mereka.
Jumlah pasukan begitu besar, gemuruh suara para tentara dan lengkapnya senjata perang belum pernah dilihat dunia sebelum itu. Hingga debu-debu terbang menutupi kota Rhone dari sinar matahari, lantaran banyaknya kaki yang menginjaknya.
Tatkala dua kubu telah berhadap-hadapan, terbayang oleh orang-orang seakan gunung tengah berhadapan dengan gunung. Perang sengit tak terelakkan lagi. As-Samah bin Malik selalu di garis depan. Dia dijuluki Dzaama, bergerak dengan tangkas ke sayap kanan dan sayap kiri tanpa mengenal lelah. Pada saat itulah anak panah meluncur mengenai dirinya. Maka robohlah panglima tertinggi yang perkasa itu dan syahid.
Abdurrahman al-Ghafiqi
Pada masa pemerintahannya, As-Samah bin Malik menaklukkan Septimania, menaklukkan Narbonne, Carcassonne, dan sebagian besar pangkalan Septimania.
“Wahai Gubernur, aku hanyalah orang biasa, seperti yang lain," jawab Al-Ghafiqi. "Aku datang ke daerah ini hanya untuk mengetahui batas-batas daerah kaum muslimin dan batas-batas fartah musuh mereka. Aku hanya meniatkan diriku untuk mencari ridla Allah yang Maha Agung, dan aku membawa pedangku ini hanya untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini. InsyaAllah Gubernur akan melihatku selalu taat selama engkau menegakkan kebenaran. Aku akan selalu mengikuti perintah Gubernur, selama Anda taat pada perintah Allah dan Rasul -Nya, walaupun aku tidak diberi kekuasaan dan perintah,” lanjutnya.
Tak lama berselang setelah pertemuan itu, Gubernur as-Samah bin Malik, bertekad untuk menaklukkan seluruh wilayah Prancis dan menyatukannya dengan wilayah Negara Islam.
Ketika itu, target berikutnya adalah Toulouse, ibukota Octania. Tanpa membuang-buang waktu, pasukan Islam segera memasang semacam ranjau-ranjau di berbagai tempat, kemudian memulai serangan dengan senjata-senjata yang tidak dikenal di Eropa.
Baca juga: Kisah Perang Yarmuk, Pertempuran Terdahsyat Mengakhiri Kekuasan Romawi
Pada saat yang bersamaan raja Octania bertolak ke Eropa untuk mencari bala bantuan. Dia menyebar utusan-utusan ke seluruh negeri. Dia memprovokasi raja-raja Eropa dengan cara memperingatkan akan bahaya ekspansi Islam yang akan merambat ke wilayah mereka juga. Sehingga kaum wanita dan anak-anak mereka sebagai tawanan. Hasilnya, semua negeri mengirimkan pasukan khususnya lengkap dengan persenjataan yang menjadi andalan mereka.
Jumlah pasukan begitu besar, gemuruh suara para tentara dan lengkapnya senjata perang belum pernah dilihat dunia sebelum itu. Hingga debu-debu terbang menutupi kota Rhone dari sinar matahari, lantaran banyaknya kaki yang menginjaknya.
Tatkala dua kubu telah berhadap-hadapan, terbayang oleh orang-orang seakan gunung tengah berhadapan dengan gunung. Perang sengit tak terelakkan lagi. As-Samah bin Malik selalu di garis depan. Dia dijuluki Dzaama, bergerak dengan tangkas ke sayap kanan dan sayap kiri tanpa mengenal lelah. Pada saat itulah anak panah meluncur mengenai dirinya. Maka robohlah panglima tertinggi yang perkasa itu dan syahid.
Abdurrahman al-Ghafiqi
Pada masa pemerintahannya, As-Samah bin Malik menaklukkan Septimania, menaklukkan Narbonne, Carcassonne, dan sebagian besar pangkalan Septimania.
Lihat Juga :