Gereja Saint Porphyrius, Ribuan Tahun Saksi Kedekatan Islam dan Kristen Hancur Dibom Israel

Rabu, 23 Oktober 2024 - 07:56 WIB
loading...
Gereja Saint Porphyrius,...
Kondisi Gereja Saint Porphyrius di Gaza yang hancur dibom tentara Israel. Foto BBC
A A A
Gereja Saint Porphyrius , salah satu gereja tertua di Gaza yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi bagi umat Kristen dan Muslim, adalah salah satu contoh tindakan kejam pengeboman Israel terhadap berbagai umat. Pengeboman ini terjadi pada 19 Oktober 2023, yang menewaskan setidaknya 18 warga Palestina dan melukai setidaknya 450 orang lainnya dari berbagai latar belakang, termasuk warga Kristen dan Muslim.

Serangan tersebut terjadi sekitar pukul 19.30, saat banyak orang berkumpul untuk makan malam dan berbagi kisah dalam suasana damai. Ledakan yang kuat merobohkan salah satu bangunan dalam kompleks gereja dan mengakibatkan keruntuhan yang menimpa mereka yang berada di dalam. Serangan terhadap gereja ini menjadi simbol bahwa tindakan kezaliman Israel menyerang berbagai umat di wilayah Gaza .

Fakta Gereja Saint Porphyrius, Saksi Kedekatan Islam dan Kristen di Palestina

Gereja yang berlokasi di kawasan Zaytun di Kota Tua Gaza ini, bukan hanya sekedar bangunan saja. Namun telah menjadi saksi dan simbol sejarah pertemuan dan toleransi antara umat Muslim dan umat Kristen di wilayah tersebut. Dalam waktu berabad-abad, umat Muslim dan Kristen di wilayah ini telah berjuang bersama, membangun solidaritas. Semenjak abad pertengahan, tepatnya sejak abad ke-5, komunitas umat Kristen kecil yang dipimpin oleh Uskup Porphyry, berupaya mengkristenkan kota tersebut. Upaya ini dilakukan dalam pembangunan Gereja Saint Porphyrius, yang secara tidak langsung menjadi sebuah simbol pertemuan antara agama Kristen dan Islam di kawasan tersebut.

Setelah kematian Sang Uskup Porphyry pada tahun 420, umat Kristen di Mediterania timur menghadapi perpecahan teologis, terutama setelah Konsili Chalcedon pada tahun 451. Secara singkat, adapun umat Kristen “miaphysite” yang menolak keputusan-keputusan konsili, sementara mayoritas umat Kristen di Mediterania timur tetap terikat pada gereja imperialis Roma dan Konstantinopel, yang kemudian terpecah menjadi Katolik Roma dan Ortodoksi Timur.

Setelah wafatnya Uskup Porphyry pada tahun 420, umat Kristen di Mediterania timur, termasuk Palestina Romawi, mengalami perpecahan akibat konflik pemahaman agama atau teologis. Ketegangan ini mencapai puncaknya pada tahun 451 di Konsili Chalcedon, yang diadakan oleh kaisar Romawi, yang mendefinisikan Yesus Kristus sebagai dua hakikat yakni manusia dan Ilahi. Namun banyak umat Kristen di Mesir, Suriah, dan Mesopotamia menolak keputusan ini. Mereka percaya bahwa Yesus memiliki satu hakikat yang bersifat gabungan manusia dan ilahi secara sekaligus.

Ratusan tahun kemudian, setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 Masehi, para pengikut Nabi Muhammad yang mulai mengatur pemerintahan di Palestina, menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa utama di wilayah tersebut. Dan yang pada akhirnya, bahasa Arab juga menjadi bahasa utama yang digunakan umat Kristen di Palestina selama lebih dari seribu tahun.

Ketika Perang Salib mulai memanas pada abad ke-10, umat Kristiani Eropa melalui Tentara Salib, melakukan ekspansi ke Timur Tengah dan mencoba untuk mengambil Tanah Suci dari tangan umat Muslim di Palestina. Meskipun demikian, umat Kristen dan umat Muslim di Palestina tetap menjaga solidaritas yang telah mereka tumbuh selama ratusan tahun pada saat itu, terutama ketika Tentara Salib mulai memasuki Yerusalem pada tahun 1099.

Sepanjang sejarah, hubungan umat Kristen dan umat Muslim di Gaza menunjukkan solidaritas dan kedalaman interaksi yang telah terjalin selama berabad-abad. Keduanya tidak hanya berbagi wilayah, tetapi juga sejarah yang saling terkait, menciptakan lapisan kerjasama, pengertian, dan kehadiran bersama yang mengakar dalam budaya dan sejarah masyarakat di Palestina selama ribuan tahun hingga saat ini.

Serangan Israel yang terjadi atas Gereja Saint Porphyrius ini, lagi-lagi menjadi gambaran kekejian tindakan Israel bagi segala umat di Palestina. Meskipun Gereja ini telah menjadi korban serangan udara dan pengeboman Israel sebelumnya, namun serangan yang terjadi pada tahun 2023 yang lalu menimbulkan kehancuran yang jauh lebih parah. Sebanyak 450 pengungsi terluka-luka, dan setidaknya 18 warga, termasuk anak-anak, telah tewas akibat serangan Israel ini.

Setelah serangan, video dan gambar yang beredar di media sosial menunjukkan penyelamat yang bekerja keras menggali reruntuhan, berusaha menyelamatkan mereka yang terjebak di bawah puing-puing. Laporan menunjukkan bahwa sebagian besar korban berasal dari kalangan orang yang sedang mencari perlindungan dari serangan udara Israel yang terus berlanjut di berbagai bagian di Gaza.

Pihak militer Israel mengakui serangan ini, dengan klaim bahwa bahwa gereja bukanlah target dari serangan tersebut, melainkan sebuah pusat komando Hamas yang dianggap terlibat dalam peluncuran roket ke wilayah Israel. Namun, klaim ini tidak mengurangi kecaman internasional terhadap serangan tersebut. Patriarkat Ortodoks Yerusalem mengutuk tindakan itu sebagai kejahatan perang, menegaskan bahwa menyerang tempat ibadah yang melindungi warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan yang telah kehilangan rumah mereka akibat serangan udara, merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Masjid Hagia Sophia...
Masjid Hagia Sophia Turki : Mengenal Toleransi Islam di Dalam Masjid
Bagaimana Bentuk Jihad...
Bagaimana Bentuk Jihad Wanita Masa Kini? Simak Penjelasannya di Sini!
Amanah Donatur untuk...
Amanah Donatur untuk Palestina Menembus Gaza Lewat Yordania
Kembali Korban Berjatuhan...
Kembali Korban Berjatuhan di Gaza Utara, Ambulans Dompet Dhuafa Terus Evakuasi Tiada Henti
Keluarga Muslim Jadi...
Keluarga Muslim Jadi Juru Kunci Makam Suci Yerusalem, Bukti Nyata Tolerasi
Bersatunya Islam Melawan...
Bersatunya Islam Melawan Zionis Pintu Pembuka Kemenangan Muslim, Akankah Segera Terwujud?
Rekomendasi
Cekungan Saint Croix,...
Cekungan Saint Croix, Ilmuwan Sebut Keajaiban Irigasi dari Peradaban yang Terlupakan
Teliti Mukjizat Nabi...
Teliti Mukjizat Nabi Musa, Terungkap Fenomena Alam Langka yang Membinasakan Firaun
Benda Berbulu Jatuh...
Benda Berbulu Jatuh dari Langit, Apakah Itu?
Artikel Terkini
5 Perintah Al-Quran...
5 Perintah Al-Qur'an terhadap Anak Yatim, Muslim Wajib Tahu dan Mengamalkannya
Doa Anak Yatim Diyakini...
Doa Anak Yatim Diyakini Mustajab, Benarkah?
Mengapa Anak Yatim Begitu...
Mengapa Anak Yatim Begitu Istimewa di Mata Allah? Ini Penjelasannya
Lebaran Anak Yatim:...
Lebaran Anak Yatim: Antara Dalil, Tradisi, dan Makna Kepedulian Sosial
Kenapa Hari Asyura Dijuluki...
Kenapa Hari Asyura Dijuluki Lebaran Anak Yatim? Begini Sejarahnya di Indonesia
Puasa Tasua 9 Muharram:...
Puasa Tasua 9 Muharram: Dalil, dan Bacaan Niat Lengkap
Infografis
6 Alasan Ribuan Narapidana...
6 Alasan Ribuan Narapidana Masuk Islam di Penjara AS Setiap Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved