Ini Mengapa Hadis yang Diriwayatkan Kaum Rafidah Ditolak Kaum Suni
Rabu, 23 Oktober 2024 - 13:46 WIB
loading...
A
A
A
Akan tetapi kaum Rafidah memandang tsiqat mutlak terdapat pada imam, tanpa peduli apakah sang imam berbuat salah, berdusta, atau bersifat jujur.
Bagi kaum Rafidah, syarat utama penerimaan hadis adalah kesesuaiannya dengan kemauan mereka, baik itu sahih atau dhaif.
"Adapun ulama Sunni," kata ibn Taimiyah lagi, "tidak pernah menerima hadis dusta, walaupun sesuai dengan keinginan mereka. Betapa banyak riwayat hadis yang menerangkan keutamaan Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, bahkan Mu'awiyah, tetapi itu datang melalui beberapa silsilah (sanad), misalnya an-Naffasy, al-Qathi'i, ats-Tsa'labi, al-Ahwazi, Abu Nu'aym, al-Khathib, Ibn 'Asakir, dan perawi lain yang lebih lemah lagi.
Ulama hadis menolak hadis-hadis itu, bahkan menyatakannya palsu. jika di dalam silsilah ada perawi yang belum jelas identitasnya, maka hadis tersebut disimpan dulu."
Imam Bukhari dan Muslim tidak menerima perawi bid'ah yang dipandang kafir lantaran bid'ahnya. Mereka pun menolak perawi bid'ah yang mempromosikan bid'ahnya, atau memperbolehkan dusta untuk menguatkan pendapat dan mazhab mereka.
Baca juga: Inilah Beda Kriteria Hadis Kaum Rafidah dengan Sunni
Menurut Ibnu Taimiyah, para ahli hadis menolak riwayat pembid'ah yang mempromosikan bid'ahnya, atau orang yang mengakui kebenaran bid'ah itu.
Oleh karena itu, di buku-buku induk hadis (kitab sahih, sunan, dan musnad), tidak terdapat riwayat dari perawi bid'ah yang mempromosikan bid'ahnya.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari sebagian perawi pembid'ah yang tidak kafir lantaran bid'ahnya, serta tidak mempromosikan bid'ahnya, melarang cara berdusta, baik di dalam maupun di luar lapangan hadis.
Di samping itu, secara lahiriyah mereka baik dan bertakwa, dan hidup secara benar. Penerimaan ini penting dalam menyebarkan dan menghasilkan hadis.
Bagi kaum Rafidah, syarat utama penerimaan hadis adalah kesesuaiannya dengan kemauan mereka, baik itu sahih atau dhaif.
"Adapun ulama Sunni," kata ibn Taimiyah lagi, "tidak pernah menerima hadis dusta, walaupun sesuai dengan keinginan mereka. Betapa banyak riwayat hadis yang menerangkan keutamaan Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, bahkan Mu'awiyah, tetapi itu datang melalui beberapa silsilah (sanad), misalnya an-Naffasy, al-Qathi'i, ats-Tsa'labi, al-Ahwazi, Abu Nu'aym, al-Khathib, Ibn 'Asakir, dan perawi lain yang lebih lemah lagi.
Ulama hadis menolak hadis-hadis itu, bahkan menyatakannya palsu. jika di dalam silsilah ada perawi yang belum jelas identitasnya, maka hadis tersebut disimpan dulu."
Imam Bukhari dan Muslim tidak menerima perawi bid'ah yang dipandang kafir lantaran bid'ahnya. Mereka pun menolak perawi bid'ah yang mempromosikan bid'ahnya, atau memperbolehkan dusta untuk menguatkan pendapat dan mazhab mereka.
Baca juga: Inilah Beda Kriteria Hadis Kaum Rafidah dengan Sunni
Menurut Ibnu Taimiyah, para ahli hadis menolak riwayat pembid'ah yang mempromosikan bid'ahnya, atau orang yang mengakui kebenaran bid'ah itu.
Oleh karena itu, di buku-buku induk hadis (kitab sahih, sunan, dan musnad), tidak terdapat riwayat dari perawi bid'ah yang mempromosikan bid'ahnya.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari sebagian perawi pembid'ah yang tidak kafir lantaran bid'ahnya, serta tidak mempromosikan bid'ahnya, melarang cara berdusta, baik di dalam maupun di luar lapangan hadis.
Di samping itu, secara lahiriyah mereka baik dan bertakwa, dan hidup secara benar. Penerimaan ini penting dalam menyebarkan dan menghasilkan hadis.
Lihat Juga :