Syaikh Al-Qardhawi: Wajib Mendahulukan Pendidikan daripada Peperangan
Rabu, 06 November 2024 - 15:31 WIB
loading...
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. Foto/Ilustrasi: al Jazeera
A
A
A
PARA pembaharu menyerukan wajibnya mendahulukan pendidikan daripada peperangan, mendahulukan pembentukan pribadi daripada menduduki pos-pos yang penting.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi mengatakan yang dimaksudkan dengan pendidikan dan pembentukan di sini ialah membina manusia mukmin, yang dapat mengemban misi dakwah ; bertanggung jawab menyebarkan risalah Islam; tidak kikir terhadap harta benda; tidak sayang kepada jiwanya dalam melakukan perjuangan di jalan Allah.
Pada saat yang sama dia merupakan contoh hidup yang dapat menerapkan nilai-nilai agama dalam dirinya, sekaligus menarik orang lain untuk melakukan hal yang sama. "Dalam dirinya orang melihat Islam yang benar-benar hidup," tutur Al-Qardhawi dalam bukunya berjudul "Fiqh Prioritas" (Robbani Press, 1996 M)
Menurutnya, pembinaan dan pendidikan manusia seperti itu merupakan tuntutan manusia sepanjang zaman, khususnya apabila kita hendak membuat landasan bagi agama yang baru, atau umat baru yang mempunyai misi yang baru.
Baca juga: Begini Syaikh Abdul Qadir Memaknai Kembali dari Jihad Kecil, Menuju Jihad Besar
Ketika ada suatu agama yang sedang melemah, kemudian umatnya dihinggapi dengan kerapuhan, maka agama ini memerlukan suasana baru, dan umatnya perlu dihidupkan. Maka tidak ada jalan bagi agama itu kecuali melakukan pembaruan, menghidupkan dan memperbaiki umatnya. Yaitu mendidik generasi baru untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya.
Pembinaan dan pembentukan manusia seperti itu, merupakan gambaran yang paling tepat bagi generasi mukmin yang hendak mengemban panji perbaikan dan kebangkitan. Usaha seperti itu harus mendahului perjuangan bersenjata untuk mengubah suatu masyarakat dan mendirikan negara.
Oleh karena itu, tugas penting yang dilakukan oleh Al-Qur'an pada masa Makkah --selama tiga belas tahun-- adalah membina manusia, mendidik generasi baru dengan pendidikan keimanan, akhlak, dan akal pikirannya secara sempurna. Teladan yang paling sempurna bagi generasi baru ini adalah Rasulullah SAW.
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." ( QS al-Ahzab : 21)
Tugas utama al-Qur'an pada periode Makkah ialah menanamkan akidah, sifat-sifat yang baik, akhlak yang mulia; menanamkan pandangan hidup yang sehat, pemikiran yang benar; menolak keyakinan-keyakinan Jahiliah, sifat-sifat buruk yang merusak pemikiran manusia dan perilakunya; serta menjalin hubungan yang kuat antara manusia dan tuhannya dengan jalinan yang tidak dapat dipisahkan.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi mengatakan yang dimaksudkan dengan pendidikan dan pembentukan di sini ialah membina manusia mukmin, yang dapat mengemban misi dakwah ; bertanggung jawab menyebarkan risalah Islam; tidak kikir terhadap harta benda; tidak sayang kepada jiwanya dalam melakukan perjuangan di jalan Allah.
Pada saat yang sama dia merupakan contoh hidup yang dapat menerapkan nilai-nilai agama dalam dirinya, sekaligus menarik orang lain untuk melakukan hal yang sama. "Dalam dirinya orang melihat Islam yang benar-benar hidup," tutur Al-Qardhawi dalam bukunya berjudul "Fiqh Prioritas" (Robbani Press, 1996 M)
Menurutnya, pembinaan dan pendidikan manusia seperti itu merupakan tuntutan manusia sepanjang zaman, khususnya apabila kita hendak membuat landasan bagi agama yang baru, atau umat baru yang mempunyai misi yang baru.
Baca juga: Begini Syaikh Abdul Qadir Memaknai Kembali dari Jihad Kecil, Menuju Jihad Besar
Ketika ada suatu agama yang sedang melemah, kemudian umatnya dihinggapi dengan kerapuhan, maka agama ini memerlukan suasana baru, dan umatnya perlu dihidupkan. Maka tidak ada jalan bagi agama itu kecuali melakukan pembaruan, menghidupkan dan memperbaiki umatnya. Yaitu mendidik generasi baru untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya.
Pembinaan dan pembentukan manusia seperti itu, merupakan gambaran yang paling tepat bagi generasi mukmin yang hendak mengemban panji perbaikan dan kebangkitan. Usaha seperti itu harus mendahului perjuangan bersenjata untuk mengubah suatu masyarakat dan mendirikan negara.
Oleh karena itu, tugas penting yang dilakukan oleh Al-Qur'an pada masa Makkah --selama tiga belas tahun-- adalah membina manusia, mendidik generasi baru dengan pendidikan keimanan, akhlak, dan akal pikirannya secara sempurna. Teladan yang paling sempurna bagi generasi baru ini adalah Rasulullah SAW.
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." ( QS al-Ahzab : 21)
Tugas utama al-Qur'an pada periode Makkah ialah menanamkan akidah, sifat-sifat yang baik, akhlak yang mulia; menanamkan pandangan hidup yang sehat, pemikiran yang benar; menolak keyakinan-keyakinan Jahiliah, sifat-sifat buruk yang merusak pemikiran manusia dan perilakunya; serta menjalin hubungan yang kuat antara manusia dan tuhannya dengan jalinan yang tidak dapat dipisahkan.
Lihat Juga :