Pesantren di Era Kolonial: Kitab-Kitabnya Masih Dipelajari sampai Sekarang
Selasa, 12 November 2024 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Berbeda dengan surau yang para muridnya umumnya adalah warga sekitar dan hanya belajar pada waktu-waktu tertentu. Pesantren secara khusus memang dikondisikan sebagai tempat belajar.
Baca juga: Masanya Pesantren Berbenah!
Para murid berkumpul dan tinggal di situ, bersama dengan seorang atau beberapa orang guru ngaji.
Asal-usul Pesantren
Mengenai asal-usul pesantren setidaknya ada dua pendapat utama. Ada yang berpendapat bahwa pesantren berasal dari tradisi Islam secara murni.
Model pendidikan pesantren ini adalah pola pendidikan tasawuf. Pola semacam ini dapat ditemukan di Timur Tengah dan Afrika Utara yang disebut dengan zawiyat.
Sebagian yang lain berpendapat bahwa model pendidikan pesantren adalah warisan tradisi Hindu-Budha yang mengalami proses islamisasi. Hal ini dapat ditelusuri misalnya dari kata “santri” sebutan untuk murid di pesantren yang berasal dari kata “shastri” (bahasa Sansakerta), atau cantrik yang merupakan sebutan bagi murid dalam sistem pengajaran Hindu-Budha.
Ilmu-ilmu yang diajarkan di pesantren adalah khusus “ilmu-ilmu agama”. Pengajarnya umumnya satu orang ulama/kiai yang kemudian dibantu oleh para murid-muridnya yang telah mumpuni.
Metode yang digunakan adalah sorogan dan wetonan/bandungan. Sorogan adalah metode belajar secara individual.
Seorang santri membawa satu kitab tertentu dan belajar langsung dengan guru.
Baca juga: PMA tentang Pesantren Lolos Uji Publik, Pesantren Harus Bersiap Diri
Sedangkan wetonan/bandungan adalah belajar dengan sistem klasikal. Guru membacakan satu kitab dan beberapa santri menyimak.
Baca juga: Masanya Pesantren Berbenah!
Para murid berkumpul dan tinggal di situ, bersama dengan seorang atau beberapa orang guru ngaji.
Asal-usul Pesantren
Mengenai asal-usul pesantren setidaknya ada dua pendapat utama. Ada yang berpendapat bahwa pesantren berasal dari tradisi Islam secara murni.
Model pendidikan pesantren ini adalah pola pendidikan tasawuf. Pola semacam ini dapat ditemukan di Timur Tengah dan Afrika Utara yang disebut dengan zawiyat.
Sebagian yang lain berpendapat bahwa model pendidikan pesantren adalah warisan tradisi Hindu-Budha yang mengalami proses islamisasi. Hal ini dapat ditelusuri misalnya dari kata “santri” sebutan untuk murid di pesantren yang berasal dari kata “shastri” (bahasa Sansakerta), atau cantrik yang merupakan sebutan bagi murid dalam sistem pengajaran Hindu-Budha.
Ilmu-ilmu yang diajarkan di pesantren adalah khusus “ilmu-ilmu agama”. Pengajarnya umumnya satu orang ulama/kiai yang kemudian dibantu oleh para murid-muridnya yang telah mumpuni.
Metode yang digunakan adalah sorogan dan wetonan/bandungan. Sorogan adalah metode belajar secara individual.
Seorang santri membawa satu kitab tertentu dan belajar langsung dengan guru.
Baca juga: PMA tentang Pesantren Lolos Uji Publik, Pesantren Harus Bersiap Diri
Sedangkan wetonan/bandungan adalah belajar dengan sistem klasikal. Guru membacakan satu kitab dan beberapa santri menyimak.
Lihat Juga :