Gerakan Muhammadiyah Meniru Protestan? Al-Qur'an Paralel dengan Kemanusiaan
Rabu, 04 Desember 2024 - 06:11 WIB
loading...
A
A
A
Max Weber sendiri lahir pada 1864 dan meninggal pada 1920, sementara Ahmad Dahlan lahir pada 1868 dan meninggal pada 1923, tiga tahun sesudah Weber wafat.
Bagian pertama karya monumental Weber berjudul Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, terbit pertama kali pada 1904, ketika Dahlan sudah pergi haji yang kedua kali (1883 dan 1902).
Ide-ide awal Kiai Ahmad Dahlan sudah muncul beberapa tahun sebelum ia berketetapan hati mendirikan Muhammadiyah yang baru dimintakan izin ke Gubernur Jendral Hindia Belanda pada 18 November 1912 yang kemudian dijadikan penanda kelahiran organisasi ini.
Baca juga: Muhammadiyah Dekat dengan Kaum Proletar: Simak Pidato Kiai Ahmad Dahlan
Kemanusian
Kiai Ahmad Dahlan menyatakan adanya paralelitas tafsir atas Alquran dengan akal suci dan temuan iptek. Karena itu ia menganjurkan umat Islam untuk mempelajari Filsafat bagi pengembangan kemampuan akal suci tersebut.
Agar pengamalan ajaran Islam bisa memecahkan berbagai problem kehidupan duniawi, umat Islam perlu belajar pada pengalaman universal kemanusiaan dari beragam bangsa dan kepemelukan agama.
Dalam satu kesempatan Kiai Ahmad Dahlan bahkan menyatakan kebenaran Kristiani jangan hanya dikhotbahkan di Gereja, tapi juga perlu disampaikan melalui Masjid agar bisa dipahami pemeluk Islam.
Seluruhnya dilakukan bagi upaya penyelamatan kehidupan duniawi seluruh umat manusia di seantero jagat yang ketika itu dipandangnya penuh konflik dan peperangan.
Kondisi demikian merupakan akibat pemimpin Islam enggan belajar dan memandang dirinya sendiri paling benar. Persatuan kemanusiaan hanya mungkin jika seluruh umat manusia di dunia bersatu hati berdasar cinta-kasih di bawah bimbingan Alquran yang dipahami dengan akal suci.
Berdasar pandangannya tersebut Kiai Ahmad Dahlan mengembangkan berbagai amal-usaha dengan “meniru” pengalaman sosial kaum Kristiani di Tanah Air, terutama di daerah Yogyakarta.
Baca juga: Ketika Kiai Ahmad Dahlan Dituduh Kafir karena Meniru Sekolah Belanda
Amal-usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan serta penyantunan anak-yatim, kaum miskin, dan kepanduan itulah yang hingga kini terus meluas dan berkembang.
Dari pengalaman kaum Nasrani Kiai Ahmad Dahlan bisa belajar tentang pengembangan kehidupan sosial dan dari tokoh pembaharu Islam, Kiai Ahmad Dahlan lebih banyak mengambil ide rasionalisasi.
Bagian pertama karya monumental Weber berjudul Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, terbit pertama kali pada 1904, ketika Dahlan sudah pergi haji yang kedua kali (1883 dan 1902).
Ide-ide awal Kiai Ahmad Dahlan sudah muncul beberapa tahun sebelum ia berketetapan hati mendirikan Muhammadiyah yang baru dimintakan izin ke Gubernur Jendral Hindia Belanda pada 18 November 1912 yang kemudian dijadikan penanda kelahiran organisasi ini.
Baca juga: Muhammadiyah Dekat dengan Kaum Proletar: Simak Pidato Kiai Ahmad Dahlan
Kemanusian
Kiai Ahmad Dahlan menyatakan adanya paralelitas tafsir atas Alquran dengan akal suci dan temuan iptek. Karena itu ia menganjurkan umat Islam untuk mempelajari Filsafat bagi pengembangan kemampuan akal suci tersebut.
Agar pengamalan ajaran Islam bisa memecahkan berbagai problem kehidupan duniawi, umat Islam perlu belajar pada pengalaman universal kemanusiaan dari beragam bangsa dan kepemelukan agama.
Dalam satu kesempatan Kiai Ahmad Dahlan bahkan menyatakan kebenaran Kristiani jangan hanya dikhotbahkan di Gereja, tapi juga perlu disampaikan melalui Masjid agar bisa dipahami pemeluk Islam.
Seluruhnya dilakukan bagi upaya penyelamatan kehidupan duniawi seluruh umat manusia di seantero jagat yang ketika itu dipandangnya penuh konflik dan peperangan.
Kondisi demikian merupakan akibat pemimpin Islam enggan belajar dan memandang dirinya sendiri paling benar. Persatuan kemanusiaan hanya mungkin jika seluruh umat manusia di dunia bersatu hati berdasar cinta-kasih di bawah bimbingan Alquran yang dipahami dengan akal suci.
Berdasar pandangannya tersebut Kiai Ahmad Dahlan mengembangkan berbagai amal-usaha dengan “meniru” pengalaman sosial kaum Kristiani di Tanah Air, terutama di daerah Yogyakarta.
Baca juga: Ketika Kiai Ahmad Dahlan Dituduh Kafir karena Meniru Sekolah Belanda
Amal-usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan serta penyantunan anak-yatim, kaum miskin, dan kepanduan itulah yang hingga kini terus meluas dan berkembang.
Dari pengalaman kaum Nasrani Kiai Ahmad Dahlan bisa belajar tentang pengembangan kehidupan sosial dan dari tokoh pembaharu Islam, Kiai Ahmad Dahlan lebih banyak mengambil ide rasionalisasi.
Lihat Juga :