Muhammadiyah Dekat dengan Kaum Proletar: Simak Pidato Kiai Ahmad Dahlan

Jum'at, 29 November 2024 - 18:21 WIB
loading...
Muhammadiyah Dekat dengan...
Amal usaha Muhammadiyah banyak ditujukan kepada kaum miskin. Foto: Ist
A A A
MUHAMMADIYAH kini tengah memperingati milad yang ke-112. Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini lahir pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan dengan 18 November 1912 M. Muhammadiyah dan KH Ahmad Dahlan dikenal berjuang untuk kalangan tertindas, kaum mustadl’afin.

Muhammadiyah mengembangkan berbagai lembaga sebagai implementasi praksis ajaran Islam, berikut pengelolaan (manajemen) secara fungsional. "Seluruhnya dimaksudkan sebagai aksi pemberdayaan kaum tertindas, pinggiran, mustadl’afin, atau si ma’un, yang dalam bahasa kaum Marxis lebih populer dengan sebutan kaum proletar," tulis Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan dalam dalam buku "KH Ahmad Dahlan (1868-1923)" bab"Kiai Ahmad Dahlan Mengganti Jimat, Dukun, dan Yang Keramat Dengan Ilmu Pengetahuan Basis Pencerahan Umat Bagi Pemihakan Terhadap Si Ma’un"

Buku ini diterbitkan Museum Kebangkitan Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015. Abdul Munir Mulkan adalah Guru Besar tetap UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Guru Besar Emiritus Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Baca juga: Profil Singkat Kiai Ahmad Dahlan dan Siasatnya Membangun Muhammadiyah

Menurutnya, mereka yang disentuh Muhammadiyah tidak semata-mata bagi mereka yang secara terbuka menyatakan memeluk agama Islam, melainkan juga bagi keseluruhan manusia yang tergolong ke dalam si ma’un tersebut.

Gerakan pembaruan Muhammadiyah yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan tersebut tampak kurang mendapat respons positif dari kalangan kraton.

Dukungan pada gagasan Kiai Ahmad Dahlan lebih banyak datang dari kaum priyayi muda. Kelompok priyayi muda ini pada umumnya tergabung dalam organisasi Sarekat Islam dan Budi Utomo. Sebagian di antara mereka juga merupakan murid sekolah yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan. Mereka ini di kemudian hari juga merangkap menjadi anggota Muhammadiyah.

Praksis sosial-budaya bagi si ma’un tersebut bisa dibaca antara lain dari legenda pengajaran surat Al-Ma’un dan pidato dalam Kongres 1922.

Persoalan serupa juga bisa dibaca dari berbagai dokumen yang lahir pada masa kepemimpinan Kiai Ahmad Dahlan hingga beberapa tahun sesudah pendiri Muhammadiyah itu wafat pada Februari 1923.

Baca juga: Kiai Ahmad Dahlan dan Pembaharuan Pendidikan: Strategi Melawan Penjajah

Dari berbagai dokumen tersebut kita menemukan prinsip terbuka dalam keanggotaan aktivis gerakan seperti dalam Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah pertama pada 1914. Informasi serupa bisa kita baca dari dokumen yang kemudian dikenal sebagai “Asas PKO” yang terbit pada 1924.

Selain itu kita bisa membaca teks pidato sambutan dr. Soetomo, sebagai penasihat medis, saat mewakili Hoofd Bestuur (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah meresmikan Rumah Sakit (Poliklinik) yang kedua di Surabaya pada 1924.

Dalam naskah tentang prasaran PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah (waktu itu Hoofd Bestur) pada Konggres Islam Cirebon tahun 1921, Kiai Ahmad Dahlan prihatin terhadap lemahnya umat negeri ini.

“Pada sekarang itu lihatlah ke kanan kiri, bagaimana hidup orang Islam. Tidak perlu menengok negeri yang jauh-jauh, misalnya Afrika, Turki, Hindustan atau lain lainnya. Lihatlah tanah kita sendiri, yakni tanah Hindia Timur atau tanah Jawa. Bukankah penghidupannya banyak yang susah? Bukankah masih banyak orang yang gugon-tuhon (takhayyul) sebab belum mengerti agama?"

"Bukankah masih banyak sekali orang yang belum dapat membaca dan menulis?"

"Memang tanah Islam Hindia Timur perlu sekali mendapat penerangan Islam, supaya terhindar dari pada kegelapan, dapat pertolongan, supaya terhindar dari pada sengsara, naik kepada kemuliaan Islam. Siapa seharusnya, yang wajib menolong? Tiada ada yang lebih wajib menolong lain dari pada kita orang, orang Islam di Hindia.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Gelar Salat Idulfitri...
Gelar Salat Idulfitri 1447 H, Gedung PP Muhammadiyah Menteng Dipadati Jemaah
Muhammadiyah Tetapkan...
Muhammadiyah Tetapkan Lebaran 2026 pada Jumat 20 Maret
Muhammadiyah Tetapkan...
Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Besok, Simak Penjelasannya
Ketum Muhammadiyah Prof...
Ketum Muhammadiyah Prof Haedar Nashir Terpilih Menjadi Tokoh Perbukuan Islam 2025
Ibadah Kurban Momentum...
Ibadah Kurban Momentum Membebaskan Diri dari Pesona Duniawi
Kapan Iduladha Muhammadiyah...
Kapan Iduladha Muhammadiyah dan Pemerintah 2025?
Rekomendasi
Fenomena Alam Pusaran...
Fenomena Alam Pusaran Air Menari Terjadi di Italia
Es Samudra Arktik Akan...
Es Samudra Arktik Akan Mencair 7 Tahun Lagi, Lebih Cepat dari Perkiraan
Kuda Laut Jatuh dari...
Kuda Laut Jatuh dari Langit Hebohkan Dunia Maya
Artikel Terkini
Jelang Kedatangan Jemaah...
Jelang Kedatangan Jemaah Gelombang Kedua di Madinah, Wamenhaj Minta Petugas Haji Siaga
Mengapa Muharram Menjadi...
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?
Pemberangkatan Jemaah...
Pemberangkatan Jemaah Haji Gelombang Kedua dari Makkah Menuju Madinah Dimulai 7 Juni
Kumpulan Doa Pulang...
Kumpulan Doa Pulang Haji Lengkap dengan Zikirnya
Surat Al Ankabut Ayat...
Surat Al Ankabut Ayat 2-3, Mengingatkan Bahayanya Fitnah Akhir Zaman
Perilaku Manusia Modern...
Perilaku Manusia Modern dan Tanda Dekatnya Fitnah Dajjal
Infografis
5 Negara Muslim dengan...
5 Negara Muslim dengan Kekuatan Mengerikan di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved